MERANGIN — Aliansi Honorer R2R3 Merangin resmi batalkan aksi demo menuntut pembayaran gaji 7 bulan. Aliansi tak bertanggung jawab, jika ada aksi diluar mereka.
Ketua Aliansi Honorer R2R3 Kabupaten Merangin, Nata Wijaya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Merangin, khususnya kepada Bupati Merangin, Dinas Pendidikan, DPRD, BPKAD, serta BKPSDM Merangin yang telah merealisasikan pencairan gaji guru honorer yang tertunda selama tujuh bulan.
Sebelumnya, aliansi R2R3 berencana melaksanakan aksi pada Kamis, 16 Oktober 2025, sebagai bentuk tuntutan atas keterlambatan pembayaran gaji. Namun, dengan telah dicairkannya gaji tersebut, rencana aksi resmi dibatalkan.
Ketua Aliansi Honorer R2R3 Merangin, Nata Wijaya, menyampaikan bahwa surat pemberitahuan aksi yang sebelumnya telah disampaikan ke Polres Merangin ditarik kembali.
“Dengan ini saya, Nata Wijaya, Ketua Aliansi R2R3 Merangin yang mendampingi koordinator aksi, menyatakan bahwa aksi yang direncanakan pada tanggal 16 Oktober 2025 resmi dibatalkan. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Polres Merangin yang selama ini selalu merespons laporan dan keluhan para honorer dengan baik,” ujar Nata Wijaya.
Baca Juga : Lapor Polres, Guru Honorer di Merangin Ancam Demo Tuntut 7 Bulan Gaji
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada media di Kabupaten Merangin yang terus mengawal isu gaji honorer sejak awal hingga tuntas.
> “Kami berterima kasih kepada rekan-rekan media yang selalu mendampingi dan mengawal perjuangan honorer R2R3 sampai gaji kami akhirnya dicairkan,” tambahnya.
Nata Wijaya menegaskan bahwa setelah pencabutan aksi ini, jika masih ada kegiatan atau aksi mengatasnamakan R2R3, maka hal tersebut bukan lagi tanggung jawab resmi aliansi R2R3 Merangin.
> “Jika ada aksi setelah ini, maka saya nyatakan itu bukan lagi bagian dari R2R3 Honorer Merangin, dan aliansi tidak bertanggung jawab atas kegiatan tersebut,” tegasnya.
Sebagai penutup, ia berpesan agar seluruh guru honorer R2R3 Merangin tetap menjaga kekompakan dan semangat kebersamaan.
> “Tetap kompak selalu, satu jiwa, satu bahasa, satu tujuan,” tutup Nata Wijaya.
