JAMBI – Kedatangan Ketua Umum Partai Gerindra, Kamis (26/07) di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, meninggalkan kontroversi. Mengisi kuliah umum di Abadi Convention Center, Prabowo membuat tersinggung warga Jambi, lantaran menyebutkan 30 persen warga Jambi kekurangan gizi.
Protes ini, lantaran pernyataan tersebut, tak akurat dan membuat malu nama Jambi. Berdasarkan data yang ditampilkannya, persentase anak kurang gizi di Jambi 30 persen.
“Presentase anak kurang gizi di Jambi 30 persen, ini seharusnya tidak terjadi di Jambi,” ungkapnya dikutip dari Jamberita.com
Secara nasional, angkanya hampir 40 persen. Masih disampaikan Prabowo, kekurangan gizi jauh lebih tinggi dari Jambi yakni NTT sebanyak 58 persen.
“NTT sebanyak 58 persen,” ujarnya sebagaimana dilaporkan serujambi.com
Dari kalkulasi laporan bank dunia ada 37 persen anak dibawah umur lima tahun mengalami kurang gizi.
“Ini negara yang sudah merdeka selama 73 tahun, tapi masih juga anak-anak kita kurang makan,” cetusnya.
Sorotan tajam pun, muncul beruntun. Warga Jambi protes, angka tersebut tak sesuai kenyataan. Bambang Isnaini, salah satunya.
“Ini kira2 dapat data dari mana yah??? Gak habis pikir, Kok bisa2 nya bilang gizi buruk di jambi mencapai 30%, setahu saya pada zaman nya pak Gubernur HBA(Demokrat) 2010-2015” tulis Bambang melalui jejaring sosial, Facebook.
Ia menyertakan tautan berita terkait. Dimana, Plt Dinas Kesehatan Provinsi Jambi H.Syofian, S.Pd melalui Kasi Gizi Masyarakat Halfiyan Amnun mengatakan, jumlah kasus gizi buruk yang ada di Kabupaten/Kota se – Provinsi Jambi pada tahun 2011 berjumlah 121, tahun 2012 berjumlah 142, tahun 2013 berjumlah 103, tahun 2014 berjumlah 101, tahun 2015 berjumlah 90 kasus dan tahun 2016 berjumlah 32 kasus.
Berita Terkait : Bantah Prabowo, Dinas Kesehatan : Bukan 30 Persen
“Dari data yang kita terima dalam arti kasus gizi buruk mengalami penurunan,” katanya dilansir Halojambi.id pada 27 Februari 2018
Pun demikian, pada kepemimpinan Zumi Zola (PAN) periode 2015-2018.

“benar ditemukan, cuma gak nyampe ratusan orang, itupun tiap tahun menurun , jujur saya sebagai warga jambi merasa tersinggung sekali dengan statement Prabowo ini, seakan2 Gubernur Jambi dan gak memperhatikan rakyat nya…” tulisnya lagi.
Ratusan komentar pun, mengisi postingan hingga Jumat (27/07) sore. Salah satunya, Rahmat Hidayat yang meminta hentikan kampanye buruk dan busuk.
“Sesuatu yang disampaikan di Forum Ilmiah, harusnya berbasiskan data ilmiah. Apalagi acara yang dihadiri para akademisi. Kalau diacara kampanye masih ok lah, tapi ini kuliah umum, sayang kalau asbun. Banyak partai pendukung Prabowo di DPRD Jambi, terus kerjanya apa? Koq sampai 30 persen warga Jambi stunting. Stop omdo, stop kampanye buruk dan busuk yang menegasikan kerja keras seluruh pihak di Jambi. Saya pasti, tidak untuk dirimu,” tulisnya.
Dikonfirmasi hal ini, Bambang Isnaini mempertanyakan data tersebut. Selain ngawur dan tak berdasar, Bambang juga mempertanyakan kapasitas kedatangan Prabowo.
“Beliau diundang di acara akademisi. Seharusnya, bicaralah dengan akademik. Bukan katanya. Bukan bicara tanpa data. Data dari mana 30 persen itu,” paparnya.
Sementara dilansir Jambi Independent, kasus gizi buruk pada balita di Provinsi Jambi, masih mendekati angka 100. Sepanjang tiga tahun terakhir, kasus gizi buruk di Provinsi Jambi mencapai angka lebih dari 250 kasus. Kasus ini tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Jambi.
Oki Permana, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jambi mengatakan, balita yang masuk dalam kategori gizi buruk jika standar deviasi berat badan dan tinggi badan tidak seimbang, di bawah minus 3. “Artinya sangat kurus sekali. Sepanjang tiga tahun terakhir, angka kematian balita akibat gizi buruk sebanyak 14 orang,” katanya.
Pada tahun 2015, terdapat 90 laporan kasus gizi buruk, dengan angka kematian sebanyak 5 balita. Kemudian tahun 2016, dilaporkan sebanyak 84 kasus gizi buruk, dengan 5 balita meninggal dunia. Sementara tahun 2017, terdapat 85 kasus gizi buruk dengan 4 balita meninggal dunia.
Dari data tahun 2017, daerah terbanyak memiliki kasus gizi buruk adalah Kabupaten Muarojambi, yakni 32 kasus dengan korban meninggal sebanyak tiga balita. Kemudian disusul Kabupaten Tebo dengan 14 kasus gizi buruk dan satu orang meninggal dunia.
Di peringkat ketiga adalah Sarolangun, dengan jumlah kasus 9 balita, dan tidak ada korban meninggal. Oki mengatakan, ada dua faktor penyebab gizi buruk. Yakni ketidakcukupan konsumsi dan infeksi dalam tubuh. Jika konsumsi pangan kurang, maka tubuh akan mudah terkena infeksi, seperti infeksi paru-paru
