KERINCI – Perekrutan PPS untuk masing masing desa oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kerinci, diduga melenceng dari aturan dan ketentuan.
Pasalnya, sebagian besar PPS yang lolos diindikasi, merupakan orang-orang titipan oknum di kecamatan.
Bahkan oknum di internal KPU sendiri proses seleksi, dinilai sebagai formalitas saja, karena yang lulus tidak berdasarkan penilaian obyektif.
Baca juga : 103 Peserta Ikuti Tes Tertulis PPS KPU Kota Jambi
Indikasi kecurangan dalam proses perekrutan PPS tersebut, terungkap setelah salah satu peserta tes keberatan atas hasil seleksi yang dilakukan KPU, Minggu (15/3/2020).
Peserta mencurigai KPU melakukan kecurangan, karena telah meloloskan orang-orang pesanan dan orang-orang dekat mereka sendiri. Baik dari kecamatan, desa maupun keluarga dari oknum komisioner KPU tersebut.
Keluh Salah Satu Peserta
Salah satu peserta Dopi Eldi, warga Desa Pungut Mudik Kecamatan Air Hangat Timur Salah, sangat kecewa dengan hasil seleksi tersebut.
Dirinya mencurigai ada permainan antara KPU dengan para peserta, karena telah meloloskan orang yang tidak berkompeten.
”Saya tidak bisa terima dengan keputusan KPU, yang meloloskan orang yang tidak mengikuti tahapan. Masa bisa lolos peserta, yang tidak ikut tes tertulis Ada apa ini.” Tegasnya.
Lihat juga video : Klik Disini
Ia menambahkan, bahwa yang jadi masalahnya ada yang lulus tidak mengikuti tahapan dari awal, yaitu seleksi administrasi dan tes tertulis.
“Kok namanya tiba-tiba muncul lulus. Salah satu peserta tersebut yang tidak ikut tahapan, memang nampak tiba disaat tes wawancara. Tetapi pada saat semua peserta sudah mau pulang jam 5 sore, bahkan tidak memakai pakaian hitam putih selayaknya peserta yg lain.” Terangnya.
Ia bilang, bahwa sebelumnya tidak ada nama peserta dengan nama yang dimaksud tercantum di jadwal, untuk tes wawancara.
“Padahal saya rangking pertama tes tertulis, percuma dong kita ikut tes kalau yang diloloskan orang-orang mereka yang sudah disiapkan dari awal,” keluhnya.
Dirinya benar mengakui tidak kecewa karena tidak lulus, tetapi Dopi tak terima dengan proses dan mekanisme KPU yang membuatnya merasa tidak tenang.
“Masalah jabatan bukan tujuan saya, tetapi pengetahuan hari ini sudah tidak lagi dihargai,” tuturnya. (Jul)
