JAMBI – Terkait rencana Satgas Covid-19 Kota Jambi, yang ingin hotel jadi tempat isolasi Pasien Corona. Saat ini PHRI Jambi, masih lakukan pertimbangan.
Bagaimana tidak, rencana hotel yang akan jadi tempat isolasi Pasien Covid-19 ini, tidak ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Kota Jambi.
Bahkan, dari keterangan Wakil Walikota Jambi, pasien positif Covid-19 yang akan diisolasi di hotel tersebut, harus membayar secara mandiri, bukan ditanggung pemerintah.
Baca juga : Pelaku Usaha di Jambi Abaikan Protokol Kesehatan Didenda 5 Juta, Hingga Cabut Izin
Tak ayal, kebijakan teknis yang disampaikan Satgas Covid-19 ini masih dipertimbangkan oleh PHRI Jambi. Dimana, mereka masih memikirkan dampaknya bagi hotel, terutama bagi kesehatan dan keberlangsungan hidup para karyawan.
Ketua PHRI Jambi
Seperti yang dikatakan Yudi Irwanda Gani, selaku Ketua PHRI Jambi saat dikonfirmasi Dinamikajambi.com, Selasa (29/09/2020).
Yudi mengakui, bahwa benar Satgas Covid-19 Kota Jambi sudah koordinasi, mengenai rencana menjadikan Hotel sebagai tempat isolasi Pasien Covid-19.
Pun demikian, pihaknya belum menemui kata sepakat. Karena bagaiamna teknisnya, belum dijelaskan secara detail oleh Satgas Covid-19 kota Jambi.
Apalagi, Satgas ini minta pihak hotel yang mengurus paket kamar isolasi, selama 12 hari tersebut.
“Permasalahan teknisnya yang kita belum sepakat. Dapat informasi dari Wawako kemarin, hotelnya yang disuruh membuat paket kamar untuk 12 hari. Untuk tamunya, batal secara personal bukan pemerintah.” Kata Yudi melalui selulernya.
Tentu hal ini perlu dipertimbangkan matang-matang, mengingat tidak ada kejelasan dari satgas Covid-19 Kota Jambi.
Ia menambahkan, kalau di daerah lain seperti Jawa Barat dan sebagainya, itu menjadi Hotel untuk tempat isolasi, Pemerintah yang bertanggung jawab. Hotel tersebut juga diblok, jadi memang khusus untuk pasien Covid-19.
Nah berbeda dengan rencana yang dilakukan oleh Satgas Covid-19 kota Jambi ini, segala sesuatunya beluk dipetsiapkan secara matang.
“Waduh susah saya bilang, kalau kayak gini. Lebih baik kita ikuti SK Kemenkes terbaru, dimana pasien positif ini diisolasi secara mandiri di rumah masing-masing.” Tegasnya.
Bilangnya, PHRI bukan tidak mau mengindahkan. Akan tetapi mereka siap membantu, jika memang teknisnya jelas.
Hotel Juga Harus Diperhatikan
Tak hanya itu saja, pihak hotel juga harus diperhatikan. Jangan ketika digunakan untuk isolasi, petugasnya tetap pegawai hotel. Serta sistem kamarnya, tetap dicampurkan dengan tamu yang lain. Tentu hal tersebut, dinilai sangat berpotensi membahayakan yang lain.
“Kalau pegawai hotel yang mengurus, ini akan berpotensi untuk penyebaran lebih banyak lagi. Kan mereka pulang ke rumah, setelah itu. Itu mas, kami secara pribadi dari PHRI tetap mendukung jika memang diperlukan.” Paparnya.
Pun demikian, jika hotelnya tidak diblok oleh pemerintah, dan dicampur dengan tamu yang lain, tentu sangat membahayakan bagi tamu tersebut.
“Belum lagi pandangan di luar lagi, hotel bekas Covid-19 lah, segala macamnya.” Imbuhnya.
Untuk itu, saat ini PHRI belum menemukan kata sepakat, mengenai hal tersebut. Mereka ingin ada kejelasan, terkait teknis yang dilakukan nanti dalam proses isolasi ini.
Lihat juga video : Klik Disini
“Dari pelayanannya siapa, apakah nakesnya, dari hotel atau Karyawan hotel. Karena kalau pegawai yang jadi petugas pelayanan, tentu bakal berbahaya.” Lugasnya.
Oleh karena itu, semuanya harus dibicarakan. PHRI tidak mau ambil resiko, dengan rencana Satgas yang ingin jadikan Hotel sebagai tempat isolasi Pasien Positif Covid-19 tersebut.
“Ini bukan soal izin saja, juga bukan soal dijaga TNI Polri. Tapi pelayanan seperti apa. Nah teknis seperti yang kita belum ketemu,” tukasnya. (Nrs)
