KUALA TUNGKAL – Sebagian bangunan kios pedagang di Pujasera, tepatnya di sebelah
Tribun Stadion Bhakti Karya di Jalan Patunas, Kecamatan Tungkal Ilir, Kota Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), sejak enam (6) bulan terakhir ditinggal pergi pemiliknya.
Informasi yang berkembang dilapangan, para pedagang pemilik kios tersebut pindah berdagang, bahkan ada yang tidak berdagang lagi. Tapi kios tak kunjung dipindahtangankan dan diduga masih atas nama pedagang pertama yang menempati.
Kondisi semacam ini mejadi keluhan pedagang yang masih menggelar lapak dagangan nya di Pujasera. Seperti yang diungkapkan salah seorang pedagang, IZ (29). Ia menyarankan sebaiknya kios kosong di Pujasera tersebut diisi oleh pedagang lainnya, jika pedagang yang lama tidak lagi jualan atau pindah lokasi.
Diakuinya, dampaknya kosongnya kios tak hanya memperburuk pemandangan, namun juga berpengaruh terhadap daya tarik pengunjung.
IZ optimis jika kios yang kosong itu kembali diisi oleh pedagang dipastikan pengunjung pujasera akan kembali ramai, sebab saat ini tempat parkir sudah mendukung.
“Saya rasa banyak pedagang mau kios tersebut. Sekarang kan tersekat ujung sana buka, tengah berisi terus ke ujung lagi, tengah gelap. Jadi kesannya angker,” beber IZ.
Hal senada diungkapkan AN, pedagang Pujasera lainnya. Menurut AN kosongnya sederetan kios-kios ini mempengaruhi minat pengunjung. Meskipun diakuinya sudah banyak lokasi dan tempat jualan jajanan disaat malam hari, seperti di WFC dan tempat-tempat lainnya.
Seyogyanya, kata AN, ada upaya dari instansi terkait untuk mengairahkan kembali pujasera ini. Salah satu caranya dengan mengambil sikap tegas terhadap pengguna kios yang dibiarkan kosong itu.
Sementara pedagang di luar Pujasera, Ucok mengatakan, perlu adanya penataan sistem jualan mulai dari menu yang dijual hingga sistem pelayanan satu kasir.
Dikatakan ucok, fasilitas pendukung lainnya perlu dibenahi, seperti free WiFi kualitasnya jangan seperti yang ada saat ini. Menurutnya upaya ini juga dapat menarik pengunjung bertahan nongkrong di pujasera itu.
“Kalau yang sekarang ini kan sama dengan bohong sinyal ada, tapi tak jaringan tak jalan. Dulu banyak pengunjung pujes ini ada yang bawa laptop sambil buat tugas. Tentu mereka sambil makan dan minum,” terangnya.
Salah seorang pengunjung pujasera, Rahman menuturkan, apa yang dikeluhkan pedagang aktif di Pujasera saat ini adalah benar adanya.
“Kios kosong itu sebaiknya dipindah tangankan, kan ada retribusinya untuk daerah. Namun sepertinya tak ada perhatian oleh instansi yang menangani pujes ini, kenapa saya bilang begitu, sebab ini kan telah berlarut lama ya, sekarang sudah 2018,” tuturnya.
Menurutnya, instansi terkait perlu tegas dan action dengan menegur, menindak pemilik kios yang menganggurkan (mengosongkan) kiosnya.
Rahman menyebut sudah beberapa kali mendengar keluhan pedagang terkait kosongnya kios-kios tersebut.
“Adanya pujasera ini sebenarnya untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Aktivitas perekonomian dapat tumbuh, namun dengan adanya kios kosong seperti ini justru mubazir kiosnya,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Tanjabbar, Faizal Riza, ST, MM, ikut angkat bicara soal permasalahan pujasera ini. Dirinya menuturkan perlu adanya penataan ulang. Menurutnya, seharusnya kios-kios di pujasera itu tidak dianggurin begitu saja.
“Kita mempertanyakan kenapa kios-kios tersebut kosong, Kalaupun sudah tersewa harus ditanyakan kenapa tidak digunakan?,” ungkap Faizal Riza.
Dijelaskan, jika sewa atau hak guna, perjanjiannya juga harus tegas, bila disewa tapi tidak dipakai dalam jangka waktu 3 bulan maka boleh untuk dialihkan.
“Penegasan seperti itu perlu. Karena kawasan pujasera merupakan pusat jajanan. Tentu kalo sepi pedagang masyarakat malas berbelanja dan akhirnya akan terbengkalai,” tegas pria yang akrab disapa Icol ini.
Dirinya berharap Pemkab harus segera memanfaatkan secara maksimal. Pasti banyak pedagang yang mau menyewa kios itu. karena lokasinya juga strategis. Kemudian tentu akan lebih bagus lagi bila Pemkab menambah fasilitas lain, misal internet gratis.
Icol, menilai dinas terkait terkesan lamban menangani permasalahan ini. Seharusnya pro aktif, karena selain menghidupkan kota juga bisa menjadi sumber pendapatan daerah apabila dikelola dengan baik.
