Jika Ngotot Import Beras, Mendag Bermental Tengkulak dan Tidak Pro Petani

JAMBI – Di tengah kampanye cinta produk dalam negeri, serta ajakan minimalisir produk asing yang sedang di gaungkan oleh presiden Jokowi, mendag M Luthfi malah terlihat kalap dan ngotot import 1 juta ton beras.

Mengapa terkesan kalap dan ngotot?

Mendag sendiri yang bicara, bahwa rencana import beras tersebut hanya utk stock jaga-jaga. Namun, Mendag terkesan ngotot lakukan import beras ini.

Baca juga : Hari Air Sedunia, WALHI Jambi : Stop Aktivitas Perusakan Sungai

Bahkan dengan yakinnya mendag menyebut impor beras tersebut, adalah upaya menstabilkan harga, bukan merusak harga jual petani kita.

Menstabilkan harga???

Jangan kan sudah di laksanakan, baru sebatas wacana saja. Rencana impor akan langsung menghancurkan harga jual gabah kering petani, apalagi sampai di impor benaran

Jaga – jaga ??

Kementerian pertanian dengan tegas menyatakan, bahwa Indonesia akan surplus beras tahun ini.

Stock akhir Desember saja ada hampir 7,4 juta ton, estimasi produksi panen raya per Mei 2021 sekitar 17,5 jt ton.

Jadi est ketersediaan sampai Mei 2021 sekitar 24,9 juta ton, sementara kebutuhan year to date Mei hanya 12,3 juta ton. Artinya ada surplus yang cukup besar

Masih dengan modus jaga-jaga ??

Mendag M Luthfi juga, dengan jujur mengakui bahwa saat ini ada 300.000 ton beras, sisa import tahun 2018 yang sudah mengalami penurunan kualitas

Lho….koq gak kapok ???

Import thn 2018 saja terancam jadi barang busuk, kok sekarang malah nafsu impor lagi.

Maka, menurut saya kebijakan import beras ini bukan atas pertimbangan kebutuhan. Tapi atas dasar kepentingan dan pejabat kita sdh kadung bermental tengkulak, serta tidak pro kaum petani

Kita memaklumi bahwa pemerintah lewat BULOG, punya batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan spesifikasi kualitas, yang mungkin belum bisa dipenuhi oleh product petani. Namun justru di sinilah titik kritis pemerintah, menunjukkan perhatian dan keberpihakannya kepada petani. Bantu petani dengan edukasi, penyediaan alat/modernisasi pertanian. Selain itu, penydiaan subsidi pupuk yg tepat sasaran, jaminan kemudahan legalitas lahan dan lain-lain.

Lihat juga video : Saling Lempar Gas Air Mata, Demo di Jambi Ricuh

Pemerintah harus menghentikan focus, memacu produktivitas petani. Karena itu, cenderung memaksakan dan akan jadi pembenaran import dari masa ke masa.

Mindsetnya harus berubah, dari produktivitas menjadi memanusiakan petani. Saatnya kesejahteraan petani di perjuangkan dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah, disertai dengan kebijakan. Kemudian baru langkah teknis yang terukur, maka produktivitas akan mengikuti dengan sendirinya.

Penulis : Djokas Siburian

Ketua DPD REPDEM Jambi

 

Redaksi Dinamika Jambi

Kontak kami di 0822 9722 2033