Curhatan Penambang Ketek Danau Sipin, Pendapat Anjlok Sejak Corona

JAMBI – Curhatan Penambang ketek Wisata Danau Sipin Kota Jambi, yang kian hari pendapatannya makin anjlok. Hal ini mulai dirasakan, sejak Corona menyapa Jambi waktu lalu.

Tak ayal, kisah pilu ini jadi curhatan para penambang ketek, yang bergantung dari pendataan rutinitasnya di Wisata Danau Sipin tersebut.

Baca juga : Usai Mantan Camat dan Lurah, Giliran Tokoh Jawa Kota Jambi Dukung Haris-Sani

Sebelumnya, sejak Pandemi Covid-19 di Provinsi Jambi ini, begitu dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Mulai dari pekerja UKM, perusahaan perhotelan, hingga merembet ke sektor Pariwisata.

Tidak terkecuali, penambang ketek di Danau Sipin, yang berada dikawasan Telanaipura Kota Jambi itu.

Tentunya, pendapatan mereka kini terus tergerus. Apalagi, dengan menurunnya pengunjung, yang datang ke tempat Wisata Danau Sipin tersebut.

Seperti yang disampaikan oleh Kemas Budi, selaku pemilik ketek di Wisata lokal itu, Sabtu (19/09/2020) sekitar pukul 16.30.

Dirinya mengatakan, bahwa saat ini pengunjung makin sepi. Bahkan jauh dari pada sebelum-sebelumnya.

“Biasa hasil pendapatan kami bisa mendapat Rp. 300 ribu perhari, tapi sekarang sangat merosot. Sehari, itu saja terkadang hanya mendapat Rp. 50 hingga 60 ribuan,” ungkapnya.

Makin Pilu

Cerita pemilik ketek ini pun makin pilu, saat ia membeberkan yang biasanya pengunjung ramai, namun mendadak sepi.

Ia menguraikan, bahwa sejak pukul 15.00 wib hingga hampir magrib, pengunjung berduyun-duyun datang. Pendapatannya pun, sehari jadi maksimal.

Naasnya, sejak Pandemi ini makin anjlok. Walaupun ada perubahan pasca idul Adha kemarin.

“Biasanya habis ashar sudah rame, tetapi sekarang sepi. Semenjak ada penambahan positif di Jambi ini makin sepi. Kemarin habis lebaran Idul Adha, udah mulai rame. Kita bisa dapat 100-150 an perhari. Sekarang sudah sepi dan menurun lagi,” ujarnya terbawa suasana pilu.

Walaupun demikian, ia pun terus berupaya semaksimal mungkin, dalam menarik daya minat pelanggan. Meski tak seramai dulu, setidaknya pendapat mereka tidak terlalu merosot.

“Cara menarik pelanggan sekarang pun agak berbeda, biasanya 10.000 rupiah itu hanya 1000 Kilometer. Tetapi sekarang 10.000 rupiah itu, kita 1500 kilometer. Jadi putarannya agak kita jauhin,” terangnya.

Parkir Pun Sepi

Selain itu, pengunjung yang sepi ini juga berdampak pada tukang parkir, yang ikut merasakan pendataan anjlok.

Sebagaimana yang diungkapkan Raden Hasanuddin, usai di temui Dinamikajambi.com.

Pria yang biasa di sapa Jangning itu, menjelaskan bahwa normalnya dulu, itu bisa mencapai 400 hingga 500 kendaraan.

Lihat juga video : Kisah Inspirasi Musisi Tunanetra Jambi

Akan tetapi, sejak awal Covid-19 kemarin menurun drastis. Bahkan hanya berkisar 50-60 kendaraan.

“Sekarang parkiran kendaraan, palingan hanya 50-70 an kendaraan yang ada.” tukasnya. (Tr06)

Redaksi Dinamika Jambi

Kontak kami di 0822 9722 2033