TANJABBAR – Harga gas melon di Tanjabbar mahal dan barangnya pun langka, YLKI duga ada oknum yang bermain dalam kasus ini.
Seperti diketahui, masyarakat Tanjabbar mulai mengeluh dengan langkanya, Gas elpiji 3 kg saat ini. Bahkan, harganya pertabung melebihi dari Harga Eceran Tertinggi (HET).
Terkait hal tersebut, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), menduga ada permainan oknum dengan langka dan mahalnya, gas elpiji 3 kg (Melon) tersebut.
Baca juga : Pasien Positif Terus Bertambah, Dirut RSUD Raden Mattaher Sarankan Ini
Bahkan, pihak YLKI telah banyak menerima laporan terkait dengan adanya penjualan gas LPG melon 3 kg yang mahal dan langka, yang dijual dengan harga di atas harga HET itu.
Tidak hanya laporan saja, YLKI juga memantau hal tersebut, di media sosial yang mulai heboh.
Ketua YLKI Tanjabbar Hamka menyebutkan, bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan Pertamina, dan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Tanjabbar terhadap hal ini.
“Di medsos juga kita pantau ada keluhan masyarakat. Kalau ada pangkalan yang malam datang stok gas, besok paginya sudah habis. Ini yang akan kita tindak lanjuti,” ujar Hamka. Senin (20/5/20).
Ia mengatakan bahwa ditengah wabah Covid 19 ini, beberapa oknum yang bermain dan memanfaatkan dengan menumpuk gas. Bahkan menjual Gas dengan harga yang terbilang cukup mahal, diatas Rp 20 ribu.
“Kalau dijual lebih dari 20 ribu, melebihi harga HET. Itu sudah tidak wajar,” tegasnya.
Menurutnya, jika harga Gas LPG dijual dengan harga HET, ini cukup membantu masyarakat miskin ditengah Covid-19.
Lihat juga video : Data COVID-19 Provinsi Jambi
“Seharusnya masyarakat terbantu, jika harga gas murah. Sekarang dengan gas mahal dan dikatakan langka, jadi menambah beban masyarakat miskin,” jelasnya.
“Saya pastikan bahwa sebenarnya gas tidak langka. Artinya apa ada oknum yang bermain, apalagi di saat covid 19 ini,” imbuhnya. (Hry)
