JAKARTA – Sebagian dosen mengeluhkan sulitnya menerbitkan suatu publikasi internasional. Padahal, hal ini menjadi salah satu faktor yang akan memengaruhi produktivitasnya sebagai peneliti.
Menariknya, kesulitan menerbitkan jurnal justru tak menghalangi semangat seorang mahasiswa doktoral bernama Grandprix Thomryes Marth Kadja. Masih berusia 24 tahun, penerima beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Kemristekdikti itu telah menghasilkan sembilan publikasi ilmiah yang delapan di antaranya berskala internasional.
Dibimbing oleh Dr Rino R Mukti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Grandprix akan menyelesaikan fast track studi master sekaligus doctor pada 2018. Artinya, pria kelahiran 31 Maret 1993 ini akan memecahkan rekor MURI sebagai doktor termuda di Indonesia. Menurut Grandprix, pencapaian ini tak lepas dari peran kedua orangtuanya dalam menciptakan budaya baca dan diskusi sejak dia kecil.
“Saat kecil bacaan favorit saya Komik Shincan. Saya punya koleksinya lengkap. Bahkan di komputer kerja saya ada tempelan stiker Shincan,” tuturnya disitat dari laman Ristekdikti, Sabtu (22/4/2017).
Sebagai mahasiswa yang tengah merampungkan studi doktor, Grandprix selalu datang ke laboratorium kimia untuk mengerjakan penelitian, dimulai pada pukul 08.00 dan pulang seminimalnya pukul 16.00. Dia bertekad untuk tidak tergantung pada laboratorium di luar negeri dalam menghasilkan suatu penelitian berkelas internasional.
“Baca jurnal bagi saya itu wajib. Apalagi di ITB, akses dapetin jurnalnya juga mudah. Sayangnya, kebanyakan dari kita manfaatinnya cuma buat diunduh saja. Unduhnya 100 jurnal, bacanya hanya dua jurnal,” sebutnya.
Meski sudah menerbitkan sembilan publikasi layaknya lektor atau profesor, lulusan S-1 Universitas Indonesia (UI) itu mengaku mendapat berbagai kendala selama menyusun karya ilmiah tersebut. Bahkan, tak jarang Grandprix mendapat komentar atau kritik keras dari para reviewer hingga menerima reject dari suatu jurnal.
“Kalau sudah di-reject, stresnya bukan main. Pergi ke laboratorium saja malas. Untungnya ada pembimbing yang selalu memberi saya motivasi untuk mulai terbiasa menerima penolakan dan mencari tahu di mana letak kekurangan dari tulisan saya,” ujarnya.
Bagi Grandprix sendiri, publikasi internasional merupakan sesuatu yang penting. Sebab dengan cara inilah, dia mampu mendarmakan bekal atau ilmu yang selama ini didapat agar berguna untuk banyak orang.
“Namun pengetahuan baru ini sendiri harus berkelas internasional sehingga benar-benar teruji. Dengan begitu, karena kita menghasilkan pengetahuan yang baru, akan mengubah posisi kita, yakni dari pengguna menjadi pencipta,” tukasnya.
Sumber : Okezone.com
