JAMBI – Delima kabut asap yang kini tengah dirasakan oleh seluruh penduduk berdomisili di Provinsi Jambi, sangat membuat gelisah masyarkat. Bahkan hal itu pun bagaikan Boomerang, dalam menjalani akvitas sehari hari.
Betapa tidak, kabut asap yang tengah menyelimuti Jambi saat ini begitu dirasakan oleh masyarakat, sehingga ketakutan untuk keluar rumah pun timbul dari ocehan bibir masyarakat. Namun hal itu tetap harus dirasakan, mengingat tuntutan hidup menjadi penggerak bagi mereka untuk tetap menjalani aktivitas, meski bahaya menjadi tantangan.
Seperti yang disampaikan Aisah, warga kota Jambi yang merasakan saat tersiksa dengan kabut asap yang saat ini terjadi. Setiap menjalankan aktivitasnya, masker saja itu tak cukup bilangnya. Belum lagi mata terasa perih, apabila mengendarai sepeda motor. Namun apa daya, jika tidak keluar rumah kondisi selalu menjadi pertimbangan desakan agar selalu melangkah, untuk memperoleh rejeki.
“Ampun kabut asap ini cukup membuat sesak nafas, belum lagi mata pun ikut perih. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak keluar rumah, tidak kerja, kami mau makan apa.” kata Aisyah, Minggu (22/09/2019) sekitar pukul 11:30 wib.
Hal senada pun juga disampaikan Yuna, warga Muaro Jambi, yang terpaksa datang ke Jambi untuk menghindari kabut asap yang membuat udara menjadi kuning di kawasan tempat tinggalnya, Kumpe ulu.
“Ya saya bosan di rumah terus, tiap keluar rumah kabutnya tebal sekali. Makanya saya ke Jambi, mumpung libur.” ujarnya.
Yah begitu lah yang saat ini tengah dirasakan masyarakat, kabut asap yang kini tengah dirasakan bagaikan seperti Simalakama bagi sebagian warga, tentunya hal ini sangat disarakan oleh msayarakat menengah kebawah, yang setiap harinya hanya menggunakan kendaraan roda 2.
Untuk diketahui, berdasrakan data realtime ISPU Kota Jambi pukul 11.30 WIB tanggal 22 sept 2019 hari ini, parameter PM 2.5 nilai konsentrasi 875 di atas baku mutu, yang memasuki Kategori Berbahaya.
Sementara itu, di Muaro Jambi Bupati Masnah Busro pun ikut turun ke lokasi kebakaran, bahkan ikut berkantor di sekitar lokasi selama 3 hari, guna memastikan keadaan bisa dikondisikan, dan kebakaran yang terjadi dapat dipadamkan.
(Nrs)
