JAMBI – Pelantikan Gubernur Jambi terpilih pasangan Zumi Zola dan Fachrori Umar akan segera dilaksanakan di Istana Negara, tepatnya Jumat (12/2/16) siang. Pasangan dengan jargon Jambi Tuntas itu kini memegang tampuk kekuasaan di Propinsi Jambi. Berbagai pengharapan perubahan yang lebih baik tentunya mengiringi perjalanan pasangan keterwakilan itu. Tak ketinggalan, sebagai bagian masyarakat Jambi, Suku Anak Dalam(SAD) pun diam-diam memiliki harapan tersendiri
Suku Anak Dalam (SAD) atau yang lebih dikenal sebutan “Orang rimba” pun juga mulai ikut andil menyuarakan harapan perubahanya kepada Gubernur terpilih tersebut. Salah satunya disampaikan oleh sekelompok orang rimba saat menghadiri sosialisi kesehatan di Jambi. Mereka berharap kedepan lebih mendapat perhatian serius dari pemerintah, mengingat kini polusi hutan sebagai sumber kehidupan dan kondisi kesehatan mereka yang mulai terancam.
“Yo kito berharap nianlah kepada pemerintah ko, untuk dapat menjago hutan kito, kini ko semakin hari lah banyak be hutan rusak, lah banyak jadi kebun orang,” ungkap Temenggung Anggrib saat dikonfirmasi koran ini.
Selain itu katanya, bahwa kondisi aliran sungai yang menjadi salah satu sumber kehidupan mereka saat ini juga sudah tidak sehat lagi lantaran airnya yang tidak lagi jernih alias keruh.
“Air jugo lah keruh kini tu, sehinggo menyebabkan sakit, badan gatal-gatal dibuatnyo, ko kami dapat informasi dari kesehatan ado pulo kanti kami yang sakit hepatitis dengan malaria, jadi kami minta diberi jugolah pendidikan tentang kesehatan,” tuturnya.
Sementara, Gentar salah satu suku anak dalam lain, berharap kepada pemerintah kedepan untuk dapat memantau terus kondisi kesehatan mereka seperti memasukan intansi kesehatan secara rutin kedalam hutan tempat tinggal mereka.
“Harapanyo kepado pemerintah, kalau biso dari kesehatan semacam urang puskesmas bisa masuk lah ketempat kami secara rutin, sebulan atau duo bulan sekali,” pinta gentar.
” Kami kini ko lebih percayo dengan ubat dari puskesmas dari urang luar kalau berobat. Kalau ubat kami dalam ko (tradisional.red), semacam, pasak bumi dan tumbuhan lainyo dak do mempan tuntas lagi,”ujarnya.
