“Saya sudah mulai di Papua, mengandung Dewan Adat. karena di Papua itu susah perempuan sepertinya, tidak diizinkan jadi pemimpin. Mau maju Gubernur gagal, mau jadi Bupati gagal. Sampai kita perempuan sebenarnya kecewa, padahal sudah kuliah tinggi-tinggi, dibiayai orang tua sampai sarjana S1 S2 S3 tapi tidak ada kesempatan buat kita.” paparnya.
Untuk itu, Yohan mengajak semua kalangan supaya merubah hal yang demikian. Karena baginya, kedepan anak-anak kita yang akan mengalami masa-masa itu. Apalagi sekarang sudah ada tujuan pembangunan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), yang target 2030 perempuan dan laki-laki, sudah harus berjalan.
Lebih lanjut, dirinya juga menceritakan pengelaman pribadinya waktu di Swedia. “Waktu itu saya dirumah teman saya. Ketika saya baru bangun tidur, rumahnya setiap pagi suaminya justru yang memberikan, menyiapkan makan pagi buat kita. Setelah bangun dia bilang silakan everything is ready breakfast is ready.” imbuhnya.
Lalu, Menteri PPPA itu mengatakan Kenapa di Indonesia tidak seperti itu. Tidak pernah ada bapak-bapak yang bangun pagi, bikin nasi goreng, buatin teh. Pasti perempuan ataupun anak-anak, bangga mendapat Bapak seperti itu.
“Perempuan masih menjadi korban korban, karena adat dan lain-lain. Contoh jangan jauh-jauh, Papua saja perempuan kalau satu pasangan itu mau menikah Mas kawinnya tinggi sekali. Pokoknya kalau sudah dibayar lunas saya mau bikin apapun terhadap perempuan, atau istri silahkan.” ungkapnya.
Yohana menyampaikan, budaya patriarki di mana laki-laki merasa dirinya lebih tinggi dari perempuan masih ada, itu yang harus berubah. Indonesia dipilih menjadi 1 dari 10 negara besar yang membawa perempuan ke planet.
“2030 untuk mencari 30% saja susah. Untung di sini (read Jambi) ada satu Bupati perempuan dan sudah ketemu kemarin di Batanghari. Ada Wakil ketua DPR perempuan, Wakil bupati perempuan, dan tadi di acara anak-anak ada satu ibu datang kepada saya, “Ibu saya Camat perempuan di sini, dia melaporkan ke saya kita Tepuk tangan untuk perempuan.” sanjungnya.
Ia mengatakan banyak persoalan yang dihadapi oleh perempuan. Sudah saatnya perempuan menjadi perhatian utama.
“Kami mau dewan ada punya masyarakat, tolong membantu kami pemerintah melakukan edukasi kemana-mana kepada masyarakat. Agar memahami bagaimana kita menanyakan perempuan kita, melindungi perempuan, dan juga melindungi anak-anak Karena untuk membawa Indonesia ke depan sana.” pungkasnya. (Nrs)
