Zubaidah Sebut, 4 Dari 100 Mahasiswi di Jambi Dilecehkan Oleh Dosennya Sendiri

JAMBI – Banyaknya tragedi kekerasan seksual dan ekploitasi terhadap perempuan di Jambi ini, mendobrak suara para perempuan untuk ikut handil dalam menyuarakan diri, agar tindakan hal seperti itu tidak terjadi lagi.

Hal ini terlihat, saat aksi yang digelar oleh puluhan perempuan yang tergabung dari beberapa aliansi, di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakya Daerah (DPRD) Provinsi Jambi, Jum’at (8/3/19).

Seperti yang disampaikan Ketua Beranda Perempuan, Zubaidah bahwa berdasarkan data yang diperolehnya melalui penyebaran angket di empat kampus di Jambi, seperti Universitas Jambi, Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Jambi, STISIP Nurdin Hamzah dan Universitas Batanghari, ada 4 mahasiswa dari 100 mahasiswa mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh dosennya sediri.

Hal tersebut tentu sangat disayangakan, bagaimana tidak, kampus yang seharusnya jadi tempat menimba ilmu, malah menjadi pusat terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan.

“Terdata 4 mahasiswi dari 100 mahasiswi pernah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh dosen, Kemudian sementara itu 13 dari 100 mahasiswi pernah mengalami tindakan pelecehan seksual,” kata Zubaidah.

Dirinya menyebut, hal itu dapat terjadi karena kurangnya perhatian dari pihak kampus terhadap peelindungan terhadap perempuan, terutama mahasiswinya.

“Salah satu faktor kerentanan mahasiswi, karena saat ini kampus belum memiliki sistem penerangan dan perlindungan korban yang meliputi kode etik dan standar operasional prosedur yang dapat mengatur dan menindak tegas pelaku pelecehan seksual dari kalangan akademisi.” paparnya.

Sementara itu, Negara juga dinilai melakukan pembiaran terhadap pelanggaran HAM dan segala tindak laku dari perusahaan, baik dati siso konfliknya, maupun terhadap buruhnya.

“Tindakan dilakukan oleh perusahaan sawit, selain konflik lahan yang tak pernah usai, juga sekitar 60% menjadi buruh harian lepas tenaga mereka dieksploitasi bekerja terdampar bahaya pestisida dan tidak mendapatkan jaminan sosial, cuti haid, cuti hamil dan melahirkan.” tandasnya.

Untuk itu, bertepatan dengan Hari Perempuan Sedunia ini, puluhan perempuan yang tergabung dalam Beranda Perempuan, Aliansi Perempuan Merangin (APM), Seruni UIN STS Jambi, Ge Cinde, Walestra, WALHI, Perkumpulan Hijau, FMN dan organisasi lainnya, berunjuk rasa untuk menyuarakan aspirasi mereka kepada pemerintah, agar segera menghapus kekerasan seksual dan ekploitasi perempuam di jambi ini.

Mereka menuntut pemerintah dan pihak terkait, agar menghentikan segala tindak tanduk kekerasan seksual dan ekploitasi terhadap perempuan yang terjadi selama ini, sehingga seluruh kaum perempuan lebih merasa terlindungi.

(Nrs)

Redaksi Dinamika Jambi

Kontak kami di 0822 9722 2033