POLITIK DAGANG SAPI

Banyak yang beranggapan bahwa elit partai pada Pilkada serentak jilid II di Provinsi Jambi saat ini, ada yang salah langkah. Padahal sebenarnya itulah langkah politik. Pembuktiannya ya nanti; pada hasil akhir. Siapa sebenarnya yang salah langkah?

Yang bisa ditelisik kelompok awam hanyalah seperti menonton pertandingan catur. Kenapa tidak begini, kenapa tidak begitu? dan lain sebagainya. Sementara yang bermain catur terus berkecamuk dengan strateginya masing-masing.

Memang ada yang cari langkah aman. Tak peduli partainya ikut menang atau ikut menjadi kalah nantinya. Bisa jadi karena gamang alias tidak cerdik membaca situasi. Sehingga jadi pengekor saja.

Tetapi lagi-lagi itulah langkah politik. Tidak selalu dilandasi keputusan kolektif dalam menentukan calon yang diusung. Ada proses negosiasi yang panjang bahkan sangat alot. Orang bilang; itulah “politik dagang sapi”.

Konon, istilah politik dagang sapi bersumber dari budaya unik di Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat. Jual beli dilakukan sembunyi-sembunyi. Tidak menggunakan bahasa verbal tetapi dengan bahasa isyarat antara penjual dan pembeli. Tujuannya agar tidak didengar calon pembeli lain maupun oleh sapinya sendiri hehehe..

Menurut orang Minang, tidaklah elok memperdagangkan makhluk hidup secara terang-terangan selain juga untuk menegakkan etika tawar-menawar dalam berdagang.

Mau tau caranya? setelah sapi diperiksa di pasar ternak (Pasa Kabau), lalu antara pembeli dan penjual saling berpegangan tangan dan jemari yang diselimuti kain. Nah saat itulah proses negosiasi berlangsung dengan kode-kode khusus yang disebut dengan “barosok”. Sehingga kerahasiaan tetap terjaga.

Dalam “barosok” jari jemari saling cuil, saling remas dan sebagainya hingga keduanya saling mengangguk tanda sepakat atau tidak sepakat soal harga. Nah, bagaimana kalau salah satu pelaku “barosok” adalah cewek? Hahaha..asyiiik dong saling remas.

Demikianlah budaya dagang sapi orang Minang yang sesungguhnya berbudaya dan beretika tinggi. Tetapi begitu ditangan para politisi; menjadi berkonotasi negatif. Yang kasihan ya sapinya, gak pernah bisa jadi bupati..hehehe

Sebagai orang awam yang tengah belajar politik, saya justru tertarik mencermati langkah politik partai-partai yang seharusnya bisa menjadi play maker dalam “pertandingan” Pilkada 2017 ini. Sengaja tidak saya sebutkan partainya karena saya belum siap dianggap “bukan kawan kita lagi”..hehehe

Yang pasti–menurut saya–langkah politik yang dilakukan partai-partai tersebut sangat beresiko besar terhadap eksistensinya pada Pemilu Legislatif 2019 mendatang. Akibat langkah politiknya yang gamang dan lamban. Tetapi barangkali itu jugalah pilihan langkah politiknya. Wallahu’alam..

(Chudori)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page