Pengiriman di Stop, Pengusaha Udang Ketak Mengeluh

TANJABBAR – Pengusaha udang Ketak mengeluh. Pasalnya, selain harganya yang makin hari kian menurun, pengirimannya pun kini mulai di stop.

Tak ayal, masyarakat Kabupaten Tanjabbar yang  berada di wilayah pesisir, mayoritas penghasilannya dari laut. Sehingga hampir seluruh pengusaha udang Ketak tersebut mengeluh.

Baca juga : Angka Kemiskinan di Jambi Bertambah Capai 4.400 Penduduk

Diketahui, udang ketak menjadi salah satu hasil laut bagi nelayan yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar).

Saat ini harga udang ketak kian menurun, sehingga menjadi lesu bagi pengusaha udang ketak.

Terlebih lagi, dari hari ini hingga minggu kedepan, udang ketak tak lagi di kirim ke Jakarta sebagi tempat tujuan pengiriman. Hal ini Lantaran pihak penampung yang ada di Jakarta, menyetop pengiriman udang ketak.

Seorang pengusaha udang ketak Indra menyebutkan bahwa, terhitung hari ini hingga minggu depan, pengiriman udang ketak di stop.

Ini berimbas pada tangkapan nelayan di Kuala Tungkal, yang tidak bisa di belinya seminggu ini.

“Kondisi sekarang pihak Jakarta bilang, udang ketak lagi banyak. Jadi selama kurang lebih seminggu ini lah, kita tidak ada kirim udang ke Jakarta,” ujarnya, Jum’at (17/7/20).

Ia juga membeberkan soal harga jual dengan kondisi saat ini, mengalami up dan down. Satu minggu yang lalu harga udang ketak berada dalam nilai jual Rp80 ribu per ekor, dengan jenis udang ketak Jumbo.

“Kalau sekarang lagi down, ukuran jumbo itu di jual Rp30 ribu. Harganya naik turun, karena tergantung dari banyaknya udang. Kalo lagi banjir harganya bisa turun, kalau lagi stabil bisa Rp80 ribu,” sebutnya.

Dirinya juga menuturkan, jika dalam kondisi normal harga udang ketak dengan ukuran jumbo, bisa dijual dengan harga Rp120 ribu per ekor.

Keluh Pedagang

Namun, saat ini harga tersebut terbilang jauh, terlebih sejak Pandemi ini.

“Kalau soal transportasi dengan kondisi Pandemi tidak terlalu berpengaruh. Meskipun memang beberapa kali untuk pengiriman Jakarta, melalui Riau atau Palembang, yang tentunya menambah cost transportasi.” Jelasnya.

Kata Indra, saat ini pihaknya hanya tinggal menunggu kondisi harga udang ketak stabil.

Tentu ini melihat dari banyaknya permintaan dari Jakarta, yang tergantung permintaan pasar luar negeri seperti hongkong.

Jika permintaan sedikit, maka otomatis berpengaruh terhadap harga.

“Intinya di banyak atau tidak nya permintaan. Kalau permintaan banyak, otomatis harga naik tapi kalau sedikit. Sementara hasil udang banyak ya harga jual rendah, atau seperti sekarang, di stop pengirimannya,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Yanto, petugas gudang ketak lainnya.

Ia menyebutkan bahwa karena kondisi permintaan yang sedikit, sementara hasil udang ketak banyak membuat harga jual udang ketak rendah.

“Sekarang harga jual ke Jakarta itu rendah. Harga kadang tinggi kadang rendah, jadi kita tidak bisa tentukan harga. Tadi malam masih Rp85 ribu perekor, hari ini Rp50 ribu. Kan turunnya kuat,” imbuhnya.

Lihat juga video : Klik Disini

Sedangkan untuk pengiriman, juga tidak sebanyak beberapa bulan terakhir. Saat ini katanya, pengiriman ke Jakarta sekitar dua hari sekali. Sementara pada bulan-bulan lalu, bisa setiap hari.

“Paling sekarang itu dua hari sekali itu paling cepat,” tukasnya. (hry)

Redaksi Dinamika Jambi

Kontak kami di 0822 9722 2033

You cannot copy content of this page