Prabowo menggunakan slogan Trump Make US great again menjadi “ Make Indonesia great again. Trump bukan Prabowo. Nama Prabowo mendunia karena kasus pelanggaran HAM dan di banned masuk ke AS. Prabowo beriklan 10 tahun untuk dirinya tetapi Trump sudah mendunia sebagai pengusaha plamboyan dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Buku tulisannya tentang inspirasi bisnis selalu best seller.
Walau Trump bukan pendiri partai seperti Prabowo tetapi dia berhasil mengendalikan donatur utama partai Republik yaitu Golman Sachs. Sementara Prabowo masih bingung cari sandaran logistik. Trump didukung partai Republik yang merupakan basis kaum petani dan kaum kaya konservatif. Issue kampanye yang dibawa Trump memang sesuai dengan basis Partai pendukungnya.
Kalau Trump menggunakan issue bangkitknya kulit putih dan kristina sebagai mayoritas penduduk AS juga engga salah. Menurut saya pantas. Tetapi Prabowo, issue apa yang akan diusung sehingga pantas dengan slogan “ make indonesia great again ( migran ) ? bawa SARA, bisa konyol kena pasal Pemilu. Kembali kepada sosok prabowo dan Trumps.
Donald Trump memang sudah kaya sebelum dia merangkak sebagai bayi karena dia terlahir dari keluarga raja property. Beda dengan Prabowo yang kaya dari adiknya yang punya bisnis berkat konsesi dia sebagai menantu Soeharto. Sebagai pengusaha , Prabowo tidak cukup cerdas bila dibandingkan Trump.
Trumps pernah berkata dalam bukunya bahwa bisnis itu seperti orang melukis. Tidak ada tarikan kanvas yang salah. Semua tergantung improvisasi. Tidak ada bisnis yang salah. Yang salah adalah kurang kreatif. Trumps tidak pernah kehilangan akal untuk keluar dari masalah dan selalu pada akhirnya dia tampil sebagai pemenang. Dalam bukunya dia bercerita bagaimana dia memaksa banker yang hadir dalam rapat untuk memberinya pinjaman lagi. Padahal semua banker datang untuk menagih hutang. Anehnya, para banker ketika keluar dari ruangan meeting tampak bingung. Mengapa mereka begitu saja menyetujui usulan Trumps untuk tambah utang.
Begitulah. Berkali kali Trump terjebak utang. Pada tahun 1991, dia menyatakan pailit akibat gagal bayar hutang atas proyek Trump Taj Mahal yang terletak di Atlantic City. Pada tahun 1992, Trump mengajukan Bab 11 kebangkrutan akibat gagal bayar hutang atas Trump Plaza Hotel di Atlantic City. Trump Hotel dan Casino Resorts juga mengajukan kebangkrutan pada tahun 2004. karena gagal bayar hutang mencapa $ 1,8 miliar.
Pada tahun 2009, Trump Entertainment Resorts mengajukan kebangkrutan setelah gagal melakukan pembayaran bunga obligasi. Dan Trump selalu lolos dari jebakan utang. Walah harta nya menyusut namun tidak pernah membuat dia bangkrut. Beda dengan Prabowo, sekali kena kasus KIANI langsung buang badan.
Kalau Warren Buffet simbol kesuksesan investment banker yang rendah hati. Dan benar benar sukses menguasai portfolio bisnis multibillion dollar. Namun Trumps adalah simbol sukses kelicikan , kecerdasan, kerakusan. Hampir semua investor dan kreditur tahu betul bahwa Trumps bukan businessman yang punya reputasi. Selama perjalanan business nya berkali kali dia berlindung dibalik UU kebangrutan ( Bab 11 undang undang kebangkrutan Amerika). Tetapi Trumps tetap menjadi inspirasi bagi sebagian pengusaha. Namanya menjadi trade mark yang laku dijual. Bahkan Gucci menjadikan Trumps sebagai mitra. Banyak gedung mewah di eropa dan China menempelkan nama Trump dipuncak gedungnya untuk menaikan gengsi bangunan.
Mengapa Trumps tetap melangkah dengan wajah anyar dihadapan publik? Dia memang seorang PR yang hebat, yang mampu menempatkan citra buruk menjadi citra positip. Setiap kebangkrutannya yang menjadi pembicaraan publik, dia tampil seperti orang di zolimi oleh para banker dan poltisi yang tidak mendukung bisnisnya. Dia memang pandai mengolah kata dan merubah pandangan publik terhadap dirinya.
Untuk itu dia menggunakan saluran beragam media untuk menyampaikan citra dirinya. Entahlah, mengapa Prabowo harus meniru Trump? Bukankah dia sudah dipilih dengan ijtima ulama. Mengapa tidak menggunakan Nabi Muhammad sebagai teladan? Kalau itu ketinggian, ya bisa jadikan Muhammad Natsir sebagai teladan yang mengembalikan NKRI dari Republik Indonesia Serikat.
Prabowo bukan Trump. Tetapi antara Trump dan Prabowo punya kesamaan. Mereka menginginkan kekuasaan, untuk diri dan kehormatannya. Proses pemilu bukan soal salah atau benar, tetapi soal menang atau kalah. Untuk menang apapun dilakukan. Setelah menang biasanya mereka akan pragmatis. Diluar dirinya bukan urusannya. Lihatlah Trumps satu demi satu orang Golman Sachs disingkirkannya setelah berkuasa. Padahal mereka sangat berjasa menjadikan Trump the number 1 di AS.
Budi Haryanto, Domisili : Surabaya
