MERANGIN – Punya banyak taman, kebahagiaan anak di Merangin malah di Pasar Rakyat, tempat jual beli sayur. Jargon pariwisata Merangin pun jadi pertanyaan.
Memiliki banyak tempat wisata, pengelolaan wisata di Merangin cukup membingungkan. Ada yang terbengkalai, tapi terus dibangun. Ada yang berpotensi PAD, malah dibiarkan bahkan dilarang-larang.
Seperti Taman Ibu dan Anak di samping kantor bupati, sampai Taman Ujung Tanjung, Pasar Bawah yang tak ada pedagang disana. Belum lagi Bukit Tiung, atau Taman Batu Merangin
Penelusuran awak media, taman besar bekas kantor DPRD Merangin itu dilarang berjualan. Padahal, berpotensi besar mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) karena pengunjung terbilang ramai.
“Kalau dikelola dengan baik, bisa mendatangkan PAD. Kami siap bayar retribusi kok,” keluh pedagang yang minta namanya disimpan.
Karena dilarang, para pedagang mencuri-curi kesempatan buka lapak disana.
Baca Juga : Melirik Pasar Sepeda Motor Listrik di Merangin
Padahal, pedagang dan pengunjung berpotensi PAD seperti parkir dan sebagainya.
“Sekarang, yang ada para remaja yang pacaran malam hari. Coba aja lihat. Padahal kalau dikelola seperti di GOR Semaggi Bungo, atau Taman Laman Basamo kan lumayan,” kata Dion, warga Bangko.
Selain menambah PAD dan membantu meningkatkan ekonomi masyarakat, taman-taman di Merangin juga tidak dikelola dengan baik seperti kabupaten tetangga.
“Ada Taman Bujang Upik. Itu ramai dan berpotensi. Tapi kenyataan, tidak dikelola terus jalannya berlobang-lobang. Padahal depan kantor bupati loh,” bilang Dion.
Hanya Tugu Pedang, yang menjadi tempat santai keluarga di Merangin. Banyak pengunjung dan pedagang disini.
