Optimalisasi Peranan Tupoksi
BERITA JAMBI – Menarik untuk diperhatikan apa yang diungkapkan oleh Stephen Covey yang menyatakan bahwa Manajemen adalah keefektifan dalam menaiki tangga kesuksesan. Optimalisasi peranan tupoksi, kepemimpinan menentukan apakah tangga tersebut bersandar pada tembok yang kokoh.
Terdapat dua indikator utama dalam pandangan Covey sebagaimana diatas yaitu Kepemimpinan dan tangga kesuksesan, dimana tangga itu dalam birokrasi merupakan jabatan.
Dengan mengacu pada Phyramida Birokrasi maka konten dalam pendapat tersebut yaitu bagaimana jabatan dan kekuasaan itu didapat.
Sejauh mana obyektivitas pemilihan sosok seorang pejabat yang ditunjuk sebagai anak tangga bagi pemegang puncak kekuasaan.
Baca Juga : Heboh Pernikahan Aneh di Kuburan Panen Hujatan
Pendapat sebagaimana diatas sedikit berbeda dengan pandangan Agha Hasan Abedi akan tetapi memiliki pendekatan yang sama.
Dimana sama – sama menggunakan obyek yang sama yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) dan penyelesaian pekerjaan.
Agha Hasan Abedi memberikan definisi bahwa manajemen yang konvensional adalah menyelesaikan pekerjaan melalui sumber daya manusia. Tetapi sejatinya manajemen itu membangun sumber daya manusia melalui pekerjaan.
Sebagai contoh yaitu masyalah rendahnya kemampuan Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi dalam menyerap Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dimana sampai dengan Minggu Pertama Triwulan ke III (bulan Juli), baru mampu mendapatkan salah satu sumber Penghasilan Asli Daerah (PAD) sebesar (Satu) Miliar Rupiah.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan pendapatan pada generasi sebelumnya. Dimana pernah mencatat kan prestasi perolehan PAD sebesar 4,2 Miliar, yang melahirkan penilaian bahwa rehab gedung dan pengadaan.
Peralatan bagi pengembangan laboratorium milik pemerintah itu serta penambahan tenaga kerja honorer terkesan mubazir, bak buang air garam ke laut, garamnya habis laut tak berubah.
Pihak Komisi III (Tiga) DPRD selaku pemegang hak Controlling baik secara sendiri – sendiri maupun secara bersama – sama dengan pihak Inspektorat Provinsi Jambi.
Harus mampu menemukan persoalan yang mendasari kegagalan Laboratorium Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jambi dimaksud.
Apakah di sana (Lab LH) ada perbuatan melawan hukum (onrechmatige daad), yaitu suatu perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban hukum (Recht Split).
Apakah ada Kecenderungan terjadinya praktek partikularisme yang berkaitan dengan bagaimana seseorang berperilaku dalam situasi tertentu.
Dimana, partikularisme merupakan suatu sistem yang didasari oleh kepentingan individual di atas kepentingan suatu kelompok baik aliran politik, ekonomi, kebudayaan yang mementingkan daerah atau kelompok khusus.
Tidak hanya menemukan masalahnya tapi Inspektorat sebagai Leading Sector Pengawasan juga harus mampu mencetak Aparatur – Aparatur Pemerintah yang dinamis (Dynamic Governance), dengan sikap dan etos kerja sesuai dengan azaz Akuntabilitas, Profesionalitas, serta Azaz Kredibilitas.
Baca Juga : Rincian Harga Emas Hari Ini, 6 Juli 2022 Anjlok
Konsep Dynamic Governance adalah bagaimana bekerjanya berbagai kebijakan, institusi dan struktur yang telah dipilih sehingga dapat beradaptasi dengan ketidak menentuan dan perubahan lingkungan yang cepat sehingga kebijakan, institusi dan struktur tersebut tetap relevan dan efektif dalam pencapaian keinginan jangka panjang masyarakat.
Sedang konsep operasional dari Dynamic Governance adalah ”kemampuan pemerintah menyesuaikan kebijakan dengan perubahan lingkungan global yang cepat dan tidak menentu sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.
Dynamic Governance memiliki elemen dan prinsip Budaya organisasi pemerintah antara lain : Interity, Incorruptibility, Meritocracy, Market, Pragmatism, Multiracialism, State Activism, Long Term, Relevance, Growth, Stability, Preduence, Self reliance.
Optimalisasi Peranan Tupoksi
Kemampuan yang dinamis daripada Kedua elemen pokok di atas ditopang oleh able people dan agile processes serta dipengaruhi oleh future uncertainties and external practise
Dynamic Governance memiliki prinsip yang lazim disebut dengan sebutan 3T:
Thinking Ahead (berpikir ke depan), prinsip ini yang akan mendorong institusi pemerintah untuk menilai dan meninjau kembali kebijakan dan strategi yang sedang berjalan, memperbaharui target dan tujuan, dan menyusun konsep baru kebijakan yang dipersiapkan menyongsong masa depan.
Dan Prinsip Thinking Again (mengkaji ulang) dilakukan terhadap hal-hal yang sudah terjadi mencakup pemanfaatan data, informasi – informasi baru, ukuran/standar yg telah ditentukan, warisan masalah dari suatu kebijakan atau program, dan umpan balik yang diterima
Serta Thinking Across (belajar dari pengalaman Negara /organisasi lain) dengan belajar dari pengalaman dan pemikiran orang lain.
Baca Juga : Ngeri!! Mayat Bersimbah Darah Ditemukan di Gang Sempit
Dalam mengelola sebuah negara atau pemerintahan akan didapat ide-ide dan pemikiran segar dalam melakukan inovasi bagi perbaikan kebijakan, strategi, dan program bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan yang diputuskan untuk diadopsi sebagai hasil proses thinking ahead, thinking again, dan thinking across selanjutnya diimplementasikan sebagai semangat kepemerintahan yang dinamis (Dynamic Governance).
Adapun faktor pendorong daripada Apatur Pemerintah yang dinamis (Dynamic Governance) yaitu: Komitmen, Pengisian jabatan, Pragmatisme, Kemampuan sumber daya, Semangat Tidak Korup
Berorientasi Pasar, Berorientasi jangka panjang, Nasionalisme, Disiplin dan ikut turut serta.
Dalam pelaksanaannya, birokrasi memiliki prosedur atau aturan yang bersifat tetap, dan rantai komando yang berupa hirarki kewenangannya mengalir dari “atas” ke “bawah”.
Optimalisasi Peranan Tupoksi
Penulis: Jamhuri
