Sayangkan Media Tak Berimbang, M Farisi : Menghamba Uang, Korbankan Etika Jurnalistik

BERITA POLITIK – Menjelang Pemilihan Suara Ulang atau PSU Pilgub Jambi. Pengamat Politik Jambi kritik keras pemberitaan yang tak berimbang. Farisi sayangkan korbankan etika jurnalistik

Sebagaimana diketahui, PSU Pilgub Jambi bakal digelar esok, Kamis (27/05/2021). 88 TPS yang tersebar di 5 Kabupaten/Kota Jambi itu penentu siapa yang bakal duduk di kursi empuk BH 1.

PSU pun kemudian jadi pemberitaan publik. Termasuk kasus ‘Emak-emak tertangkap’ yang jadi pemberitaan Media di Jambi. Lantas, hal ini mendapat sorotan dari Pengamat Politik, Mochammad Farisi.

Pada Dinamikajambi.com, sepengamatan Akademisi lulusan Magister Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada ini tak segan-segan membeberkan.

Yang mana, akhir-akhir ini marak pemberitaan yang menyalahi kaidah-kaidah jurnalistik.

“Baru-baru ini saya dikirimi berita ada salah satu media, yang inti beritanya tentang emak-emak tertangkap. Kalau tidak salah detail.id, silahkan di cek. Berita yang muncul itu, tidak sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik,” ungkap Farisi.

Karena ‘Chuan’, Korbankan Etika Jurnalistik

Lebih lanjut soal ‘Berita Emak-Emak Ketangkap’, Ketua KOPIPEDE Jambi ini, menyayangkan penulisan berita tersebut jauh dari proses empiris.

Yang mana, bilangnya, sejauh ini Ia banyak bergaul dengan Jurnalis Jambi. Pun, memperhatikan betul penulisan dan objektivitas penulisan berita tersebut.

Sementara, dalam pandangan Akademisi Universitas Jambi ini, pemberitaan yang baik adalah memuat 5W+1H. Yakni, apa, siapa, kapan, dimana, mengapa dan kemudian bagaimana.

“Sehingga, beritanya berimbang. Nah, ini beritanya tidak berimbang, judulnya juga menyudutkan calon tertentu. Saya tidak membela calon siapapun. Tapi saya lihat dari kualitas tulisannya,” tegasnya.

Baca Juga : Persoalan Besar Bangsa Indonesia di Bidang Pendidikan

Atas hal itu, Faris menyayangkan apabila masih ada pemberitaan yang tak berimbang. Yang mana, seharusnya peran media adalah fungsi edukasi politik, dengan memperhatikan netralitas. Sebaliknya, Farisi sayangkan ada yang korbankan Etika Jurnalistik atau pun kode etik jurnalistik

“Nah saya dengar orang-orang seperti itu senior. Ya kalau karena ada chuan, atau uang disitu. Mohon maaf, saya bukan sok suci, kemudian akhirnya menghamba kepada uang, akhirnya mengorbankan etika jurnalistik. Ya kalau rezeki itu datangnya dari Tuhan, bukan dari manusia. Asalkan berusaha dengan baik, pasti datang kok,” bebernya.

Harap Organisasi Wartawan Kasih Kursus

Terakhir, pria pelatih Public Speaking ini juga menambahkan, telah melaporkan kepada salah satu organisasi tempat bernaungnya jurnalis.

Yang kemudian, sepengamatan Aktivis Kepemiluan ini organisasi-organisasi jurnalis turut resah.

Pun melihat hal itu, Ia meminta agar organisasi dan wartawan senior itu dapat memberi pelatihan jurnalistik.

“Mereka resah dengan kondisi media yang saat ini partisan. Senior harus memberi teladan, kemudian organisasi juga diketatkan, kasih uji kompetensi.” tutupnya.

(Tr01)

redaksi

Kontak kami di 0822 9722 2033 Email : Erwinpemburu48@gmail.com Ikuti Kami di Facebook, Instagram dan YouTube

You cannot copy content of this page