Riuh KLB, Akankah AHY Mati Catur?
Oleh: Reinhadt P Antonio
Sedang hangat di beritakan, gonjang-ganjing konflik internal partai berlogo Mercy ini di tingkat Nasional. Seolah memicu, insting politik masyarakat biasa untuk membahasnya. Di tuding banyak pihak, ‘operasi’ kudeta ini di mainkan oleh pemain lama yang berkolaborasi dengan salah seorang pihak luar. Sengaja penulis tak menyebutkan nama, sebab tulisan ini hanya opini belaka. Barang tentu, masyarakat ramai telah mengetahuinya.
Sampai-sampai kabarnya, Partai berlogo mercy ini, sebut saja Partai Demokrat di kabarkan akan melangsungkan Kongres Luar Biasa (KLB) di Sumatera Utara akhir pekan ini. Dengan mendatangkan, 1200 orang seluruh DPD dan DPC.
Secara kasat mata, konflik ini tentu bermula dari dinamika internal partai. Dengan menggiring persoalan Administrasi, berbagai pandangan internal pun turut membantah. Seolah ‘gelisah’ hal ini turut membuat mantan ketua PD, Susilo Bambang Yudhoyono turun gunung. Ia berpandangan dalam statementnya di lansir dari salah satu media online nasional, bahwasanya tetap kukuh dalam menghadapi gemelut kudeta di PD.
“Mana ada orang yang mau mengambil alih Partai Demokrat, jika memang kondisi partai kita benar-benar hancur lebur,” ujarnya.
Begitu statementnya dalam m.merdeka.com, jika di lihat sekilas, SBY sedang memainkan pengaruhnya pada akar rumput melalui ‘nada-nada’ optimis, di kenal piawai memainkan bahasa politik.
Issu Kudeta
Alhasil issu kudeta ini berbuntut pada gerakan politik yang di tuding gerbong AHY, di main oleh 5 ‘pemain lama’ yang sempat berkiprah dalam partai berlogo mercy itu. Tercatat puncak kejayaan PD 1 dekade lamanya menghantarkan salah seorang tokohnya menjadi Presiden 2 periode.
Namun sangat di sayangkan issu ‘menggunting dalam lipatan’ , atau kudeta ini seolah tak terbendung sehingga menciptakan gerakan politik berujung Kongres Luar Biasa di kabarkan akhir pekan di gelar.
Bagai dua sisi uang logam, penulis beranggapan, jika benar KLB ini di jalankan hingga selesai, di perkirakan hanya memunculkan dua kemungkinan yang terjadi.
Pertama, di mata publik PD resmi menjadi partai yang mengalami prahara ‘dualisme’. Tentu, suatu forum tertinggi yang mengundang 1200 orang perwakilan DPD dan DPC se-nasional kemungkinan besar memunculkan nahkoda baru.
Logika sederhananya, tidak mungkin pertemuan seramai itu tidak menghasilkan kepemimpinan baru. Sementara, pada aturan AD/ART organisasi pada umumnya KLB di kenal dengan forum tertinggi ketika sebuah organisasi dalam suatu bahaya sehingga di perlukan pengambilan keputusan baru.
Kedua, AHY harus menerima situasi dualisme tersebut dengan legowo namun tetap mengakui dirinya sebagai Ketua Umum PD. Artinya pekerjaan rumah terbesar bagi AHY adalah merawat basis sekuat mungkin. Pasalnya, konstalasi telah berubah secara terang benderang pasca KLB nanti. Saatnya kelihaian SBY dan AHY dalam memainkan catur politik.
PR Besar AHY
Seolah membangunkan roh pemain politik lama yang sempat tidur dalam menggagas issu kudeta ini, AHY punya tugas berat. Saatnya konsistensinya selaku Ketua Umum di uji, hal ini tentu konsentrasi konstituen nanti pasca KLB tidak kepada dirinya lagi.
Perlu langkah-langkah dan manuver politik kedepannya di lakukan AHY, sederhana mungkin tugas beratnya adalah merawat basis. Penulis beranggapan saat ini AHY tidak akan mati catur, jika Ia piawai mengoperasikan gerbong politiknya.
Sekali lagi, perlu di ingat bahwa politik adalah hal yang melentur dan dinamis. Akan tetapi melihat riuh kudeta yang terjadi di internal Partai Demokrat, AHY di tuntut sebagai ksatria dalam pertarungan. Mengingat peluang PD untuk bangkit masih ada, hal ini di tandai dengan survey salah satu lembaga baromoter politik nasional masih berada dalam posisi 6 besar. Selain itu, barisan politik hingga tingkat basis tidak sepenuhnya di kuasai oleh kelompok KLB. Perlunya konsolidasi dan ‘holiday’ ala Partai Demokrat kubu AHY di lakukan untuk meneguhkan barisan.
Karir politik AHY sedang di pertaruhkan dalam arus gelombang besar, pertanyaannya adalah, siapkah AHY selama beberapa tahun kedepan melawan ombak?. Jika siap, maka karir politik nya akan tetap eksis bersama akar rumput. Namun, jika tidak berdiri di atas prinsip selama beberapa tahun ke depan. Maka dalam KLB nanti, kalimat ‘Mati Catur’ yang sebenarnya akan menghampiri AHY. Hal ini menurut penulis, gerbong politik AHY sejauh ini masih solid, namun hal ini berpotensi akan pecah jika AHY melentur, lalu bergabung bersama pihak yang telah mendua darinya pada beberapa tahun kedepan. Sudah barang tentu konstituen akan kecewa berat, sementara kita tahu energi akar rumput saat ini sedang habis-habisan mempertahankan basis.
Sekali lagi, momen inilah jiwa ksatria AHY di uji selama beberapa tahun kedepan. Berdiri kokoh di atas prinsip sekalipun politik di kenal dinamis. Kali ini AHY harus menemukan teori baru, bahwa tidak selamanya politik itu melentur, demi karir politiknya sedang di ujung tanduk.
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jambi / Jurnalis DinamikaJambi.com
