SAROLANGUN – Pemberhentian Fauzan Azim, sebagai penerima honor di Pemkab Sarolangun, rupanya atas persetujuan Ustad Yahya Soleh, guru sekaligus ayah angkatnya.
Kyai kesohor yang juga imam besar Masjid Raya Cianjur itu, mengecam tindakan Fauzan terhadap Cek Endra.
Baca juga : ODP Terus Turun, Ini Update Data Terbaru Covid-19 di Jambi
Ustad Yahya mengingatkan Fauzan, agar menjadi sosok yang tahu balas budi, dan pandai berterimakasih. Dari Cianjur, Ustad Yahya langsung menegurnya.
Sang ustad malah memohon maaf kepada Cek Endra, atas perlakuan tak mengenakkan dari anak angkatnya itu.
“Jangan malu minta maaf kepada Cek Endra dan Ibu Rosita. Semoga Allah SWT selalu memberi hidayah, dan taufik kepada kita,” pesan Ustad Yahya Soleh lewat pesan SMS nya kepada Fauzan.
Abah, begitu Fauzan kerap memanggilnya, meminta Fauzan jangan memelihara sifat sombong.
“Karena orang sombong haram masuk sorga. Kata Nabi SAW, mereka yang tak berterimakasih kepada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah,”tulis ustad Yahya.
Atas restu dan persetujuan Ustad Yahya, Cek Endra dengan berat hati membebaskan Fauzan, sebagai penerima honor dari Pemkab Sarolangun.
“Pemberhentian ustadz Fauzan Azim juga didiskusikan kepada Para Ulama, dan Pimpinan Ponpes di Sarolangun. Mereka setuju karena sikap Fauzan sudah tak bisa ditolerir,” ujar I, salah satu orang dekat Cek Endra.
Ustad Yahya Soleh, adalah guru spiritual Cek Endra. Ia banyak menimba ilmu dari sang ustad.
Kadang-kadang Cek Endra yang bertandang ke Cianjur. Kadang-kadang sang ustad yang sengaja di undang ke Sarolangun, sekalian berdakwah.
Selain menjadi guru spiritual, ustad yang terkenal dengan ilmu akidahnya itu merupakan ayah angkat Ustad Fauzan Azim, seorang da’i dan guru ngaji di Kecamatan Pelawan, Sarolangun.
Fauzan adalah, warga dusun dalam Bathin VIII Sarolangun. Pengembaraannya ke Cianjur, mempertemukannya dengan ustad Yahya Soleh. Belakangan Fauzan berguru ke sang Ustad, dan bahkan diangkat menjadi anak.
Awal Kedekatan
I, orang dekat Cek Endra itu mengatakan, Fauzan Azim kerap mendampingi sang ustad, ketika berkunjung ke Sarolangun.
Fauzan juga kerap tidur di rumah dinas Bupati Sarolangun, dan duduk semeja mendampingi sang ustad yang bercengkrama bersama muridnya, Cek Endra.
Seiring waktu, Ustad Fauzan kian lengket dan makin dekat dengan Bupati Sarolangun.
Ia bahkan sudah dianggap keluarga sendiri oleh Cek Endra, sebagaimana Cek Endra menganggap ustad Yahya sebagai ayahnya.
Saking dekatnya, mereka seperti tak berjarak. Fauzan misalnya, tak sungkan datang, dan curhat kepada Cek Endra.
“Kalau beliau mengadu dan mengeluh minta bantuan pasti langsung dibantu,”ujar I.
Satu kali, Fauzan berniat membangun rumah tahfiz di depan rumahnya. Tapi, dananya dari mana?
Lagi-lagi Cek Endra datang membawa bala bantuan. Bupati Sarolangun itu membangun rumah tahfiz, senilai Rp 200 juta. Fauzan pun diangkat menjadi honorer, yang menerima gaji tiap bulan sebagai da’i. Tapi sayang, bak pepatah ada ubi ada talas, ada budi ada balas.
Diam-diam, Fauzan berani melukai hati Cek Endra. Ia terlibat politik praktis dan kerap kepergok aktif, dalam barisan kandidat Gubernur Jambi.
Ia misalnya, menurut I, kerap hadir dan aktif dalam acara politik kandidat gubernur itu.
Kabag Kesra dan Kepala Bappeda Sarolangun, sudah berulangkali mengingatkan. Tapi, bagai masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
“Yang bersangkutan malah kesannya menantang. Dia sakit hati, karena tak dilibatkan dalam tim pemenangan Cek Endra. Wajarlah, karena dia da’i yang memperoleh honor dari uang rakyat. Maka tidak boleh dilibatkan dalam tim. Kok tiba-tiba dia malah aktif di tempat lain,” ujar I.
Bukankah seorang da’i, apalagi penerima honor dari uang rakyat, tak boleh terlibat politik praktis?.
Lihat juga video : Viral Oknum Camat di Kota Jambi Bawa Mayat Pakai Trantib
Seperti PNS yang harus netral, dan tak boleh menunjukkan sikap politiknya secara terbuka.
Pemberhentian Fauzan, kata I, bukan persoalan ia diundang membaca doa di acara pelantikan tim Al Haris. Tapi, karena keaktifannya dalam kegiatan politik praktis itu. (*/ajk)
