JAMBI – Menghadapi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak jilid II tahun 2017, perahu besar Partai Demokrat tampaknya bakal kembali terbelah. Tak kunjung digelarnya Musyawarah Daerah (Musda), semakin memanaskan konflik yang sudah berlarut.
Pengamat menilai, pengusungan kandidat dalam penjaringan Calon Kepala Daerah (Cakada) beberapa waktu lalu, bukan tanpa masalah. Malahan, potensi konflik bakal kembali terbuka bila kandidat yang diusung diluar kepentingan kedua kubu. Terlebih untuk perhelatan Pemilihan Bupati (Pilbup) Muaro Jambi, partai pemilik 8 kursi di DPRD Kabupaten Muaro Jambi itu semakin mengambang dalam memberikan dukungan.
“Memang, ada tarik-menariknya disitu. Dengan adanya wakil masing-masing, tentu ada kepentingan. Katakan saja pada Kemas Fuad. Tapi saya lihat belakangan ini, gerakan atau langkah Kemas sudah menurun. Jadi hanya tinggal 1 wakil saja,” beber Jaffar Ahmad dari IDEA Instituted menjawab dinamikajambi.com
Meski tak mengetahui pasti bagaimana keputusan partai berlambang Mercy itu, Jaffar yang juga dosen itu menilai Demokrat bisa meredam kepentingan tersebut. Hal ini terjadi, dengan keputusan DPP Demokrat yang bakal memutuskan kandidat yang bakal bertarung.
“Artinya, kedua kubu bisa menerima keputusan partai. Kan mekanisme memang begitu. Tapi apakah ada lobi di pusat atau tidak, mereka yang tau,” katanya menutup pembicaraan.
