BERITA TANJABBAR – Selama 16 tahun menjadi Tenaga Kesehatan (Nakes), di wilayah pesisir barat Provinsi Jambi, tidak sedikit hal yang di rasakan Nani, sang dokter perempuan di Kabupaten Tanjabbar. Baik suka maupun duka, sudah dia rasakan sepanjang belasan tahun ini.
Hal ini di sampaikan Nani, saat di temui Dinamikajambi.com di ruang kerjanya, Senin (08/03/2021).
Baca juga : Vaksinasi DPRD Kota Jambi, Joni Ismed : Kita Apresiasi Dinas Kesehatan
Seperti di ketahui, dalam rangka memperingati Internasional Women’s Day (IWD) tahun 2021, perempuan yang juga memiliki juru bicara Satgas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daud Arif Tanjabbar ini, menyampaikan pesannya kepada perempuan di Provinsi Jambi. Khususnya bagi masyarakat, yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar).
“Perempuan harus berperan aktif. Kalau bisa bekerja, kenapa tidak,” kata dr Nani.
Perempuan yang kini menginjak usia 40 itu, mengulas kembali suka duka dalam menjalani tugasnya sebagai Nakes, yang sudah berjalan selama 16 tahun ini.
Suka Duka Jadi Nakes
Ia menceritakan, menjadi seorang dokter perempuan dan juga garda terdepan, untuk penanganan Pasien Covid 19 saat ini bukanlah perkara mudah. Setiap langkah yang di lakukan, memiliki resiko yang terkadang nyawa pun menjadi taruhan.
“Ini lah resiko yang harus kita hadapi. Sebagai perempuan kalau kita bisa sejajar dengan kaum pria kenapa tidak,” ungkapnya.
Nani menyebutkan, bahwa Ia saat ini bertugas di RSUD Daud Arif Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Tidak hanya menjadi salah satu dokter di RS Daud Arif, namun juga hampir satu tahun di tengah Pandemi Covid 19 ini, Ia menjadi Juru Bicara Satgas RS Daud Arif.
Sama-sama di ketahui, selain resiko nyawa yang menjadi taruhan dalam menjalankan tugas sebagai Nakes Covid-19, ketakutan pihak keluarga pun menjadi beban pikiran baginya.
Betapa tidak, dengan kerjanya yang selalu berinteraksi langsung dengan pasien Covid-19, tentu menimbulkan kekhawatiran dari pihak keluarganya.
Dilema Nani
Belum lagi, jika nanti Ia ikut terpapar, maka orang pertama yang akan terdampak adalah pihak keluarga.
Tak ayal, hal ini pun membuatnya dilema. Di satu sisi, Ia menjalankan tugasnya selaku dokter yang menuntutnya untuk profesional. Di samping itu, kesehatan keluarganya pun bagai dua sisi yang tak terpisahkan dalam pikirannya.
“Sebenarnya ada kekhawatiran dari orang tua dan keluarga lain. Tapi saya sendiri bisa menyakinkan mereka, bahwa ini sudah menjadi kewajiban dan tuntutan profesi Ia sebagai dokter perempuan. Sehingga memang harus ikut membantu dalam mengatasi masalah pandemi covid ini,” terangnya.
Namun, seiring berjalannya waktu Nani sang Dokter perempuan di Tanjabbar ini pun, berhasil meyakinkan pihak keluarganya. Sehingga, Ia sedikit lega dalam bertugas.
Meski demikian, nasehat dari pihak keluarga pun terus di sampaikan ke Nani. Salah satunya, agar tetap memakai APD saat ke pasien. Selanjutnya penerapan 3M (Menggunakan Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci Tangan).
Terlepas dari itu, Ia yang juga merupakan Juru Bicara Covid-19, menjadi bagian dari tugas penuh konsekuensi.
Di tambah lagi, ketika ada pihak keluarga pasien yang komplain. Hingga berujung dengan kontra dan pengancaman.
Sempat Diancam Keluarga Pasien
Benar saja, bilangnya selama bertugas, Ia sempat mendapat ancaman, dari keluarga pasien yang baru di nyatakan positif Covid-19.
“Ada sampai keluarga yang di luar kota pun menelpon saya (komplain). Tapi sampai sejauh ini tidak berlanjut kok. Biasa statement awal keluarga pasien, mungkin karena panik saja. Setelah mendapatkan penjelasan lebih lanjut, akhirnya mereka (keluarga pasien) menerima lah,” ulasnya.
Selanjutnya, duka seorang Nakes Covid-19 juga tentang waktu. Baik itu untuk keluarga, maupun istirahat.
Apalagi, Nani sendiri memiliki dua orang anak perempuan dan satu anak laki-laki. Terkadang rasa ingin berkumpul bersama, muncul ketika Ia bertugas, Namun, Ia menyadari tugasnya sebagai dokter lagi-lagi memupus asa tersebut.
Selain mengedepankan rasa profesionalitasnya sebagai dokter, kepentingan hajat hidup orang banyak, juga terus menguatkannya untuk terus melakukan yang terbaik buat masyarakat. Meskipun harus mengesampingkan kepentingan rindunya, akan kehangatan berkumpul keluarga.
“Hp ini 24 jam non stop aktif, terkadang ada saja yang menelpon. Saya sampai mikir, waduh, nomer hp saya keliling keluar kota. Tapi tidak apa-apa, tetap saya angkat juga walaupun nomor tidak kenal masuk,” ungkapnya.
Berharap Vaksin Beri Solusi
Untuk itu, Ibu 3 anak ini berharap, apa yang telah Ia lakukan ini nantinya memberikan kebaikan bagi banyak orang. Kondisi Pandemi Covid-19, juga Isa segera berakhir.
Selain itu, dengan kehadiran vaksin saat ini, nantinya di harapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kasus Covid-19.
“Saya baru mengikuti pelatihan vaksin Covid-19 via virtualisasi dari pusat. Semoga vaksin ini segera terdistribusi ke seluruh daerah, sehingga seluruh masyarakat Indonesia bisa mendapatkan vaksin,” harapnya.
Oleh karena itu, Ia menghimbau kepada seluruh masyarakat di Indonesia, Jambi khususnya untuk sama-sama mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Sehingga semuanya dapat berjalan dan berkembang dengan baik.
“Saya sangat berharap kepada seluruh masyarakat indonesia, mari kita sama mengatasi masalah pandemi Covid 19. Sengan cara menerapkan 3M, memakai masker, mencuci cuci tangan dan menjaga jarak di mana pun berada,” imbuhnya.
Lihat juga video : Bupati bilang sudah, BPBD Sebut Nunggak honor posko Covid-19 di Merangin
Terakhir, memperingati hari perempuan internasional, dokter perempuan di Tanjabbar ini berpesan kepada kaum hawa, untuk terus kuat dan jangan pernah takut mengembangkan potensi diri.
“Kita di ciptakan istimewa, mari kita sama-sama membangun diri menjadi wanita yang kuat, hebat dan tangguh. Jangan lagi mau dianggap lemah,” tukasnya. (Hry)
