Menyingkap Tirai Intrik dan Ambisi Dalam Penggagasan Idealisme dan Realitas

DUNIA ini penuh dengan ide-ide cemerlang dan visi yang mulia. Para pemikir, aktivis, dan pemimpin sering kali mengusung gagasan idealisme yang bertujuan untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Namun, di balik idealisme tersebut, sering kali terdapat tirai yang menyembunyikan intrik dan ambisi.

Penggagas idealisme sering kali berhadapan dengan realitas yang kompleks, yang sering kali diwarnai oleh intrik dan ambisi. Ketika seseorang atau sekelompok orang mencoba mewujudkan visi mereka untuk perubahan yang lebih baik, mereka harus berurusan dengan dinamika politik dan kekuasaan yang rumit.

Idealisme adalah motor penggerak perubahan. Ini adalah kekuatan yang mendorong individu atau kelompok untuk bermimpi tentang dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berkelanjutan. Namun, dalam upaya merealisasikan idealisme tersebut, mereka sering kali menemui hambatan yang disebabkan oleh intrik dan ambisi dalam dunia politik.

Pertama-tama, intrik politik sering kali menjadi penghalang utama dalam menggagas idealisme. Politik identitas, perpecahan partisan, dan manipulasi informasi sering kali digunakan sebagai alat untuk mempertahankan status quo dan menghambat perubahan yang diinginkan.

Ketika idealis mencoba memperjuangkan visi mereka, mereka harus berhadapan dengan upaya-upaya untuk merongrong reputasi mereka, memfitnah tujuan mereka, atau bahkan mengisolasi mereka dari dukungan masyarakat.

Selain itu, ambisi individu atau kelompok juga bisa menjadi penghalang dalam mewujudkan idealisme. Saat orang-orang berjuang untuk mencapai tujuan politik atau kekuasaan, mereka sering kali melupakan prinsip-prinsip moral atau nilai-nilai yang mereka klaim percayai. Ambisi untuk mendapatkan kekuasaan atau keuntungan pribadi dapat menggiring mereka untuk mengorbankan integritas atau kompromi dengan prinsip-prinsip yang mereka pegang.

Namun, meskipun intrik dan ambisi sering kali menjadi rintangan yang sulit diatasi, mereka juga bisa menjadi pelajaran berharga bagi para penggagas idealisme. Mereka belajar bahwa perjuangan untuk perubahan tidak pernah mudah, dan bahwa mereka harus siap untuk menghadapi rintangan yang tak terduga di sepanjang jalan.

Mereka belajar untuk menjadi lebih tangguh, lebih cerdas, dan lebih tekun dalam upaya mereka untuk mencapai tujuan mereka. Lebih dari itu, intrik dan ambisi dalam politik juga bisa menjadi pendorong untuk inovasi dan kolaborasi.

Ketika idealis merasa terjepit oleh kepentingan-kepentingan yang bertentangan, mereka sering kali mencari solusi-solusi kreatif dan mencoba membangun aliansi dengan pihak-pihak yang mungkin memiliki visi yang sejalan. Dengan cara ini, intrik politik yang awalnya tampak menghalangi bisa menjadi pemicu untuk terciptanya perubahan yang lebih besar.

Jadi, bagaimana seorang idealis bisa menavigasi dunia yang penuh dengan intrik dan ambisi ini? Pertama-tama, penting bagi mereka untuk tetap teguh pada nilai-nilai dan prinsipprinsip yang mereka pegang. Meskipun frustasi dan godaan mungkin menghampiri, mereka harus tetap setia pada tujuan mereka untuk mencapai perubahan yang lebih baik.

Selain itu, idealis juga perlu membangun jaringan dukungan yang kuat dan mencari sekutu yang sejalan dengan visi mereka. Dalam dunia politik yang kompleks ini, tidak ada yang bisa mencapai perubahan sendirian.

Kolaborasi dengan pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan yang serupa bisa menjadi kunci keberhasilan. Terakhir, idealis perlu mempersenjatai diri dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk berhasil beroperasi dalam dunia politik. Mereka harus memahami proses politik, mempelajari cara-cara untuk mempengaruhi keputusan politik, dan mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi dan bernegosiasi dengan berbagai pihak.

Dalam menggagas idealisme dan menghadapi realitas yang kompleks ini, tidak ada jalan yang mudah. Namun, dengan tekad yang kuat, kecerdasan taktis, dan semangat kolaboratif, para idealis memiliki potensi untuk menciptakan perubahan yang berarti dalam dunia yang sering kali penuh dengan intrik dan ambisi politik.

Intrik dan ambisi pun bisa selaras dalam konteks idealisme, salah satunya adalah keinginan untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh secara penuh. Akhir-akhir ini, pemerintahan Indonesia seakan akan buta dan tuli tidak pernah mendengarkan aspirasi dan kritikan dari masyarakatnya sendiri.

Tindakan luar biasa ini yang bisa dlakukan dalam masa krisis, dan menyimpang dari hukum yang ada, ini disebut kekuasaan darurat dimana pemerintahan Indonesia bisa saja membuat hukum tanpa ada regulasi yang baik.

Dan akhir-akhir ini telah ada nepotisme dan ingin seluruh jajarannya memegang kekuasaan secara penuh dari unit terkecil hingga terbesar dan bisa saja disebut berdinamika politik yang sangat baik.

Contohnya, dunia dalam beberapa waktu yang lalu sedang menghadapi wabah penyakit covid-19 yang saat ini bisa saja Kembali lagi. Beberapa oknum mengambil keuntungan dari isu tersebut. Saat musuh berada di gerbang atau penyakit muncul di jalanan, beberapa tindakan luar biasa memang diperlukan. Lockdown, misalnya, telah menyelamatkan jutaan nyawa.

Tetapi beberapa kebijakan bisa muncul dari atas dasar yang secara fundamental salah mengenai apa yang harus ditakuti selama keadaan darurat. Jika dibiarkan, kekuasaan darurat rentan disalahgunakan, dan apa yang tadinya berlaku sebagai pengecualian, seringkali bisa menjadi norma.

Penulis : Dona

Mahasiswa UNJA Jurusan Ilmu Pemerintahan

redaksi

Kontak kami di 0822 9722 2033 Email : Erwinpemburu48@gmail.com Ikuti Kami di Facebook, Instagram dan YouTube