BERITA VIRAL – Sebuah video berdurasi 49 detik beredar luas di berbagai platform media sosial, Rabu (14/1/2025). Video viral guru SMKN 3 Tanjabtim jadi sorotan tajam.
Video itu memperlihatkan seorang guru pria SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur bulan-bulanan dikeroyok siswa. Dengan cepat, peristiwa yang terekam kamera itu menyebar dan sontak menuai perhatian publik
Video memicu keprihatinan mendalam terhadap keamanan di lingkungan pendidikan.
Dalam video yang viral, tampak seorang guru pria mengenakan seragam sekolah terlibat adu argumen dengan beberapa siswa. Perdebatan itu terjadi di luar ruangan.
Cekcok makin panas, kemudian berubah ricuh dan berujung pada aksi pengeroyokan. Mendadak sejumlah murid yang terlihat emosional, menyerang guru.
Menyinggung Siswa
Dilansir dari kbk.news, insiden tersebut diduga dipicu oleh ucapan guru yang dianggap menyinggung perasaan siswa.
Guru tersebut disebut melontarkan kalimat yang mengaitkan kondisi ekonomi orang tua murid dengan sebutan “miskin”. Hal itu memancing emosi dan reaksi keras dari para siswa.
Tak hanya itu, beredar pula video lanjutan pasca kejadian. Video memperlihatkan guru tersebut memegang senjata tajam jenis celurit. Dua tangan guru, menenteng dan mengancungi celurit.
Video tersebut memantik kekhawatiran publik terkait kondusivitas dan keamanan di lingkungan sekolah.
Menanggapi viralnya peristiwa tersebut, guru berinisial AS akhirnya memberikan klarifikasi. AS sekaligus menyampaikan pengaduan resmi ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Rabu (14/1/2026).
AS mengaku datang untuk meminta perlindungan serta kepastian jaminan keamanan.
“Saya minta perlindungan kepada pihak keamanan, terutama terkait kondisi keamanan, kesehatan, dan perundungan. Saya tahu kondisi geografis dan sosial masyarakat di sana,” katanya.
“Sampai sekarang belum ada jaminan keamanan yang jelas, makanya saya mengadukan persoalan ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi,” ujarnya.
Jadwal Mediasi
AS mengungkapkan bahwa dirinya sejatinya dijadwalkan mengikuti mediasi bersama pihak sekolah maupun di Polsek Berbak. Namun Ia memilih tidak hadir karena merasa belum mendapat jaminan keamanan.
“Seharusnya hari ini saya mediasi, entah di sekolah atau di Polsek Berbak. Tapi karena tidak ada jaminan keamanan, saya tidak berani datang,” katanya.
Ia juga menilai sebagian siswa yang terlibat dikenal sulit diatur dan kurang disiplin, serta upaya pembinaan mengenai sikap saling menghormati terhadap guru kerap tidak diindahkan.
Bawa Celurit
Terkait video dirinya membawa celurit, AS menegaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi setelah ia mengalami dugaan pengeroyokan.
Situasi, menurutnya, semakin memanas karena adanya keterlibatan wali murid yang datang ke sekolah.
“Yang diviralkan itu pas saya memegang celurit, itu setelah terjadi pengeroyokan. Saat itu anak-anak dan bahkan orang tua datang, ada wali murid yang ikut campur dan sempat ada tantangan. Maksud saya hanya untuk membuat mereka bubar dan mencegah tindakan anarkis,” jelasnya.
AS menegaskan tidak ada niat melakukan tindakan kriminal dan bersyukur situasi tidak berkembang menjadi kekerasan yang lebih serius.
Alhamdulillah tidak terjadi aksi kriminal menggunakan senjata tajam,” tambahnya.
Polisi Tempuh Jalur Mediasi
Sementara itu, Kapolsek Berbak IPTU Hans Simangunsong membenarkan adanya insiden tersebut. Pihak kepolisian, kata dia, akan menempuh jalur mediasi dengan melibatkan pihak sekolah, guru, orang tua murid, serta unsur Forkopimcam.
Diharapkan seluruh pihak dapat menahan diri dan mengedepankan penyelesaian secara bijaksana demi menjaga keamanan, ketertiban, serta keberlangsungan proses belajar-mengajar di lingkungan sekolah.
Alhamdulillah tidak terjadi aksi kriminal menggunakan senjata tajam,” tambahnya.

