Sekolah Bukan Pabrik Nilai: Saatnya Mendidik Manusia, Bukan Mesin Penghafal

Di BANYAK ruang kelas hari ini, pendidikan telah berubah menjadi sebuah perlombaan. Bukan lagi perlombaan untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari diri sendiri, melainkan perlombaan angka.

Nilai 100 menjadi lambang keberhasilan, sementara angka yang lebih rendah dianggap kegagalan. Seolah-olah masa depan seseorang bisa diringkas hanya dari satu kolom angka di kertas rapor.
Peserta didik akhirnya tidak lagi belajar untuk memahami, tapi untuk mengingat. Mereka tak diajak berpikir mendalam, hanya dikejar untuk bisa menjawab soal dengan cepat.

Seorang tokoh pendidikan terkenal, Albert Einstein, pernah berkata, “Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think”. yang artinya “Pendidikan bukanlah pembelajaran fakta, tetapi pelatihan pikiran untuk berpikir”. Sayangnya, dalam praktiknya, sistem kita justru lebih menekankan fakta dari pada daya pikir.

Sekolah yang seharusnya menjadi taman belajar kini malah berubah jadi pabrik nilai.

Suasana pembelajaran penuh tekanan, bukan inspirasi. Padahal, setiap anak punya keunikan sendiri. John Dewey, seorang filsuf dan reformis pendidikan asal Amerika Serikat, mengatakan bahwa, “If we teach today’s students as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow.” Artinya, kalau kita tetap mempertahankan pola pendidikan lama yang tak relevan dengan tantangan zaman, maka kita sedang mencuri masa depan mereka.

Tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak anak-anak yang pandai menghitung atau menghafal, tetapi membentuk karakter, membangun empati, dan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat. Nilai di rapor memang penting, tapi nilai kemanusiaan jauh lebih penting. Dunia kerja saat ini juga semakin menuntut soft skill seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan berpikir kritis, semuanya tidak bisa didapat hanya lewat hafalan.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Guru tidak boleh hanya menjadi “pembaca buku teks berjalan”, tapi harus menjadi fasilitator pembelajaran yang mampu membimbing dan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa.

Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, pernah menyampaikan bahwa, “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu”.

Faktanya adalah kurikulum di Indonesia setiap pergantian mentri maka berganti pula kebijakan kurikulum, hal itu yang membuat guru atau tenaga pengajar kesulitan dalam beradaptasi. Guru belum menguasai kebijakan yang sebelumnya sudah diganti dengan kebijakan yang baru, hal tersebut yang membuat pendidikan kurang efektif dalam mengajar. Guru juga butuh beradaptasi dengan kebijakan kurikulum yang dibuat.

Namun dalam kenyataannya, guru pun sering terjebak dalam sistem. Mereka dibebani kurikulum yang padat, target nilai, serta administrasi yang menumpuk. Tidak jarang, kreativitas mereka jadi terkekang.

Oleh karena itu, sistem pendidikan kita perlu memberi ruang lebih besar bagi proses, bukan hanya hasil.
Orang tua juga memiliki peran yang tak kalah penting. Tekanan terbesar anak kadang justru datang dari rumah. Orang tua yang terlalu berorientasi pada ranking sering lupa bahwa prestasi bukan segalanya. Setiap anak punya jalan sukses yang berbeda. Anak yang hari ini nilainya pas-pasan, bisa jadi kelak akan menjadi pemimpin hebat, seniman, pengusaha, atau inovator.

Kini, saat dunia berubah dengan sangat cepat karena teknologi dan globalisasi, pendekatan pendidikan juga harus berubah. Kita butuh anak-anak yang tangguh, adaptif, dan punya empati. Semua itu hanya bisa dibangun jika pendidikan berfokus pada manusia, bukan hanya pada angka.

Pendidikan seharusnya membantu anak mengenal dirinya, menemukan potensinya, dan memberi mereka bekal untuk hidup bukan hanya untuk ujian.

Seperti yang dikatakan Paulo Freire, seorang pemikir pendidikan dari Brasil, “Education either functions as an instrument which is used to facilitate integration of the younger generation into the logic of the present system and bring about conformity or it becomes the practice of freedom.”

Mari kita pilih yang kedua yaitu pendidikan sebagai praktik kebebasan, bukan penyeragaman.

Sudah waktunya kita bergerak bersama guru dan orang tua, pembuat kebijakan, dan masyarakat.

Mari kita ubah pandangan bahwa sukses hanya milik mereka yang dapat nilai 100. Mari kita dukung setiap anak untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya bukan salinan dari yang lain.
Karena pendidikan sejati adalah yang memanusiakan manusia. Bukan yang hanya mencetak ranking.

“Sekolah Bukan Pabrik Nilai: Saatnya Mendidik Manusia, Bukan Mesin Penghafal”

Opini oleh: Nurul Muthma’innah

UIN Sultan Thaha Syarifudin Jambi

redaksi

Kontak kami di 0822 9722 2033 Email : Erwinpemburu48@gmail.com Ikuti Kami di Facebook, Instagram dan YouTube

You cannot copy content of this page