MUARO JAMBI – Saat ini, kondisi masyarakat Provinsi Jambi yang bermata pencaharian sebagai petani karet mengalami kondisi yang serba ‘sulit’ karena anjloknya harga komoditi ekspor tersebut. Salahsatunya, bagi masyarakat Desa Ladang Panjang, Kecamatan Sungai Gelam yang mayoritas penduduknya bertumpu dari penghasilan menjual sadapan karet.
Belum lagi, ditambah dengan akses jalan utama desa itu menuju kebun masyarakat yang rusak parah, menjadi penderitaan lain yang harus ditanggung mereka kala melalui jalan tersebut untuk mengangkut karet menggunakan kendaraan roda dua.
“Harga karet sangat murah, kami berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat cepat carikan solusinya. Padahal mata pencarian di Desa Ladang Panjang, Kecamatan Sungai Gelam cuma itu pada umumnya,” keluh Yadi, salah seorang petani karet desa tersebut, Jumat (15/12).
“Belum lagi, kami sangat membutuhkan bantuan jalan untuk masuk ke perkebunan rakyat,” sambungnya.
Disesi perbincangan itu, Yadi kembali mengutarakan permintaan agar pemerintah daerah segera cepat tanggap untuk mengatasi masalah mata pencaharian masyarakat itu. “Normalkan harga karet. Sudah la jalan jelek, harga anjlok,” ujarnya.
Yadi menambahkan, harga karet di desanya saat ini berkisar Rp 7.000/Kilogram atau malah bisa dibawah angka tersebut. Yang normalnya, dahulu harga komoditi tersebut bisa mencapai Rp 15.000/Kilogram bahkan lebih. “Kalau dulu harga karet sampai dengan Rp 15.000/kilonya,” pungkasnya.
Disisi lain, dinamikajambi.com mencoba menelusuri keluhan masyarakat desa terkait buruknya infrastruktur jalan. Dan benar saja, kondisi jalan menuju perkebunan masyarakat tersebut kondisinya tergambar rusak dan memperihatinkan. (Tr01/Raw)
