PAMENANG – Dalam sepekan terakhir, Pamenang dilanda kasus mesum. Dari dugaan asusila kades dan timsesnya, Pamenang mendadak heboh dengan aktivitas warung remang-remang yang kemudian ditutup polisi setelah peringatan warga.
Hal ini membuat salah satu tokoh pemuda pamenang yang energik, Mahyudin memberikan tanggapan serta harapannya terkait adanya Penyakit Masyarakat atau Pekat di Kecamatan Pamenang, Kabupaten Merangin. Pada dinamikajambi.com, Sabtu (06/07/2019) Ia mendorong polisi untuk lebih aktif.
“Terkait hal ini, saya menilai penyakit masyarakat ini harus diberantaskan. Dan pihak berwajib harus aktif, memantau pertriwulan warung-warung tersebut. Jangan selalu menunggu laporan dari masyarakat,” tegas Mahyudin.
Hal ini dinilai akan merusak masyarakat terutama generasi muda. Apalagi, keberadaan prostitusi ini sempat membuat aksi massa yang membakar tempat bisnis lendir pada tahun 2000 lalu.
“Hal ini tentu sangat berdampak buruk terhadap masyarakat. Jika ini dibiarkan akan merusak masyarakat terlebih generasi muda kedepan. Jangan sampai masyarakat bertindak sendiri. Dan ini juga terkait dengan adanya warung-warung yang menyediakan minuman keras, tuak serta perjudian,” tambah Mahyudin dengan tegas.
Sementara penelusuran awak media, warung remang-remang sendiri sudah berlangsung hampir setahun. Ada 3 lokasi yang disoroti, 2 diantaranya penyedia wanita penghibur.
Berita Terkait : Sisir Prostitusi, Polisi Tangkap Pasangan Mesum di Pamenang
“Sudah ada dari puasa tahun lalu yang di depan rumah makan. Disitu ada 3 perempuan. Sedangkan di rumah makan, ada 4 perempuan,” kata warga yang tak menyebut namanya.
Wanita penghibur tersebut bertarif 100-200 ribu. Ada beberapa minuman beralkohol dijual. Sedang tempat, warga menyebutkan hotel sebagai lokasinya dengan biaya Rp 130 ribu.
“Kalau itu, sudah berlangsung bertahun-tahun. Itu yang kita heran,” bilang warga yang mengaku tinggal tak jauh dari lokasi. (Hsb/Erw)
