Ketika mendapat hinaan atau perkataan dari seseorang, tentu kamu merasa sakit hati. Namun jangan malah omongan tersebut menjadi penghambat kesuksesanmu. Seperti kisah viral  anak sopir angkot lulus luar negeri ini, yang heboh di media sosial.

Kisah Viral Anak Sopir Angkot Lulus S1 Luar Negeri, Pernah Dihina Tetangga

Berita Viral Nasional

VIRAL – Ketika mendapat hinaan atau perkataan dari seseorang, tentu kamu merasa sakit hati. Namun jangan malah omongan tersebut menjadi penghambat kesuksesanmu. Seperti kisah viral  anak sopir angkot lulus luar negeri ini, yang heboh di media sosial.

Ialah Dian Nursiati yang kerap di hina oleh tetangganya, karena dia merupakan anak dari sopir angkutan kota (angkot). Kini dia memberikan balasan menohok pada orang yang menghinanya itu, dengan berhasil lulus kuliah di Meiho University, Taiwan.

Baca juga : Kisah Bengkel Sepeda di Jambi, Tahun Kedua Pandemi 

Kisah anak sopir angkot tersebut, awalnya ia bagikan lewat akun TikToknya @diannursiati. Ia membuat video saat memakai toga dan baju wisuda. Dalam videonya, Dian mengungkapkan, dulu ia kerap di anggap sepele oleh tetangganya.

“Waktu itu ada orang yang ngomong begini sama gue. kisah Anak sopir angkot aja mimpinya ketinggian. Pengen kuliah di luar negeri (sambil menjulurkan lidah). Alah, bu paling banter juga dia di sana cuman jadi pembantu. Cuman emaknya malu, makanya bilangnya ini program kuliah, begitu. Sabarin aje,” ucap akun TikTok @diannursiati. Kisah viralnya KLIK DI SINI.

Awal Mula Dian Kuliah di Taiwan

Wolipop sudah menghubungi Dian Nursiati, yang mengunggah kisahnya di TikTok. Anak bungsu dari tiga orang bersaudara ini berhasil menjadi sarjana, di Meiho University, Pingtung, Taiwan. Program pendidikan manajemen informasi. Dian pun dengan ramah menceritakan, awal mula bisa kuliah di Taiwan.

“Aku kuliah di sana karena ikut program kuliah dan magang kerja empat tahun di Taiwan. Jadi pas lulus di SMK Binakarya 1 Karawang, sekolahku kerjasama dengan yayasan yang memberangkatkan siswa dengan nilai tertentu. Dari hasil UN untuk seleksi program, melalui test (bahasa Inggris, Mandarin, tulis, nilai rapot. Jurusan, interview, pelatihan, medical),” kata Dian kepada Wolipop, Senin (19/7/2021).

Setelah melalui beberapa tahapan, Dian berhasil lulus tes tersebut. Pada 2017 sebelum mendapatkan pengumuman kelulusan, Dian menuturkan jika ada salah satu tetangga di kampungnya yang bilang “ga usah tinggi-tinggi, kaya gitu emang mampu”. Dan ada juga yang mengatakan “halah gak akan di terima, tinggi badan ajah gak seberapa”. Lalu ada juga yang nynyir “anak sopir angkot ajah, segala macam-macam khayalannya.”

Tak butuh waktu lama, Dian membuktikan hinaan dari tetangganya tersebut tidak menghalanginya meraih mimpinya. Pada Juli 2017 berdasarkan hasil pengumuman dari sekolah, Dian di nyatakan di terima di Universitas Meiho, Taiwan.

“Nggak selesai sampai situ. Masih banyak omongan tetangga kampung yang menurut Dian ya cukup menguji mental kedua orangtua. Tapi alhamdulillah September 2017 Dian berangkat tanpa kendala, di Taiwan pun Dian beberapa kali mengalami insiden yang cukup berat,” ungkapnya.

Masa Sulit Kehidupan di Taiwan

Dian yang tinggal di daerah Kedungwaringin, perbatasan Karawang dan Bekasi itu menegaskan jika dari awal mendaftar sampai lulus kuliah di Taiwan. Orangtuanya tidak pernah mengeluarkan biaya apapun. Dan dia pun tak hanya sekadar kuliah, saat berada di Taiwan.

Pada 2017 Dian magang di Caesar Park Kenting Hotel, Taiwan. Kemudian pada 2018-2021, ia magang di PT Kisaraki food.co.ltd zhutian Taiwan.

“Karena ini beasiswa parcial yang gratisnya itu hanya sebagian, jadi sebagian lagi di bayar dari hasil magang dan part time (curi waktu) di luar. Selama program magang Dian beberapa kali dapet kendala, jadwal tidak sesuai karena Corona. Akhirnya harus putar otak bagaimana caranya ketika nganggur, Dian tetap bisa bayar kuliah dan makan,” kenangnya.

Akhirnya Dian memilih melakukan berbagai jenis pekerjaan paruh waktu. Dia pernah bekerja setengah waktu di kebun buah, sebagai pelayan di restoran yakiniku.  Hingga menjadi juru masak dan cuci piring di warung tempura.

“Itu semua aku lakukan karena selain Dian harus bayar kuliah, makan, dan lainnnya. Orangtuaku di rumah kesulitan ekonomi, sebab angkot sudah mulai jarang penumpang. Karena banyak ada ojek online, di tambah masa pandemi,” kenangnya.

Mental Dian di uji selama berada di Taiwan. Bukan hanya tetangga, teman satu kampus bahkan sering mengucilkannya. Padahal Dian adalah penerjemah dan menjadi jembatan, yang mendaftarkan mereka di tempat magang. Karena mereka memiliki kendala di bahasa Mandarin.

Ia juga beberapa kali masuk rumah sakit. Pada 2019 Dian kecelakaan kerja di perusahaan tempatnya magang, tangannya terjepit mesin. Pada 2020 Dian harus operasi, karena patah tulang setelah di tabrak.

“Tapi sayangnya teman-teman dari Indonesia sendiri. Yah seperti kurang respect, dan terkesan lebih mengucilkan. Di rumah sakit juga cuma sendirian, ke rumah sakit datang sendirian, yang nabrak nggak ada tanggung jawabnya. Tahun 2019-2020 itu tahun paling berat,” ucap Dian.

Prestasi Dian di Taiwan

Agar melepas penat dan mengalihkan pikirannya, yang kerap menerima bully-an. Dian mencoba mengikuti aktivitas menari. Ia mengaku sudah jatuh cinta pada tarian seni Jaipong, sejak kecil karena di ajarkan langsung oleh ayahnya, Daman Sudirman. Oleh karena itu dia mencoba melestarikan budaya Indonesia di kampusnya, dengan memperkenalkan tarian Jaipong.

“Dian juga sering tampil Jaipong di Taiwan, saat acara festival dan sempat jadi guru les untuk seni tari Indonesia di Taiwan. Aku juara satu pas acara pencarian bakat tari Jaipong di Taiwan dan juara 1, acara seni di festival seni antar negara,” ujarnya.

Dian fokus mencari kegiatan yang positif, usai menjalani kuliah. Ia kerap mengisi acara kampus dengan tarian Jaipong. Dan prestasinya tersebut, mendapatkan reaksi positif dari kampusnya.

“Semester 2 Dian peringkat 3, semester 3, 4, 5 peringkat 2. Selanjutnya Dian kurang maksimal karena Dian izin operasi tiga bulan. Oiya, peringkat ini di ambil dari penilaian peringkat seluruh mahasiswa Indonesia aja. Terakhir aku dapat penghargaan mahasiswa terbaik Indonesia,” imbuhnya.

Dian Viral di Media Sosial

Saat tetangga di rumahnya membuat kedua orangtua Dian merasa terpojok, dia di perantauan juga merasakan hal yang sama. Oleh karena itu ketika Dian berhasil lulus kuliah, ia dengan spontan membuat luapan emosinya di TikTok.

“Dian dan orangtuaku tetap sama-sama kuat. Sampai akhirnya pas lulus secara spontan Dian meluapkan itu di video singkat. Pas tahu viral Dian kaget karena sebelumnya, video Dian juga ada yang viral.  Tapi nggak seheboh kali ini,” tuturnya terkejut.

“Dian kaget dan reaksi orangtua juga kaget bukan main, sempet terharu karena banyak apresiasi bagus dari teman-teman. Tapi Dian sempet juga kecewa, karena beberapa ada yang beranggapan aksen logat yang di gunakan terkesan urakan dan tidak terdidik. Padahal itu adalah logat asli orang Bekasi pinggiran. Di samping itu, Dian juga buat video secara spontan di akun pribadi. Jadi memang nggak ada niat buruk sama sekali,” lanjutnya.

Berita lain : Kisah Pilu Tukang Urut di Jambi, Uang dan Motor Hingga Anak Perempuannya Dibawa Kabur

Dian yang membuat heboh warganet, kemudian mendapatkan undangan dari beberapa stasiun televisi. Akan tetapi orangtuanya tidak mengizinkan dengan alasan, Dian pulang untuk pengurusan dokumen. Karena akan melanjutkan sekolah di Surabaya dan memperbaiki mental. Orangtuanya khawatir jika Dian tampil di televise, ada netizen yang pro kontra dan akhirnya mengganggu mentalnya.

“Aku lulus program S-1 tanggal 1 Juli 2021. Aku sekarang masih di rumah, mau siap-siap ke Surabaya. Dan bekerja di yayasan yang memberangkatkan pekerja migran ke luar negeri, dan menetap di yayasan tersebut,” tutup Dian dengan ramah.

 

Sumber : Detik.com