Asafri Jaya Bakri atau AJB, di kabarkan hengkang dari Partai Demokrat, Pengamat Politik Jambi sebut, ini merupakan Strategi 'Cantik'. Tentang siapakah yang diuntungkan nanti, dari keputusan sang Walikota dua periode di Sungai Penuh tersebut?

AJB Hengkang, Pengamat : Strategi ‘Cantik’, Siapakah Yang Diuntungkan?

Berita Jambi Berita Politik

BERITA POLITIK – Asafri Jaya Bakri atau AJB, di kabarkan hengkang dari Partai Demokrat, Pengamat Politik Jambi sebut, ini merupakan Strategi ‘Cantik’. Tentang siapakah yang diuntungkan nanti, dari keputusan sang Walikota dua periode di Sungai Penuh tersebut?

Usai nyaris bertarung di Pilgub Jambi tahun lalu, nama Asafri Jaya Bakri kembali santer di bicarakan. Pasalnya, orang nomor satu di Kota Sungai Penuh itu, di kabarkan ‘cabut’ dari partai berlogo Mersi itu.

Baca juga : AJB Hengkang Dari Demokrat, Nasdem Sebut Bakal Ikut Irama Politik Sang Istri

Di tambah lagi, mantan rektor IAIN STS Jambi itu juga di kabarkan bakal bergabung dalam Partai Nasdem, besutan Surya Paloh Sang Pengusaha Media.

Menanggapi soal AJB hengkang dari Demokrat, Pengamat Politik Jambi, Citra Darminto turut angkat bicara dan bilang ini stragtegi ‘cantik’.

Ia berasumsi hal ini di pengaruhi oleh banyak faktor. Tak terkecuali, buntut dari prahara gugurnya AJB, pada bursa bakal calon Gubernur Jambi tahun lalu.

“Faktor berikutnya, di sinyalir oleh faktor konflik internal partai asal. Konflik itu, bukan hanya karena ketidaksepemahaman pengurus. Namun juga, ketika beliau tak mendapat restu dari Partai Demokrat pada Pilgub kemarin,” bebernya.

Faktor Yang Menyebabkan Kader Pindah Partai

Tak hanya itu, Dosen Ilmu Politik Universitas Jambi ini juga menuding, hengkangnya seorang Kader Partai di sebabkan beberapa hal.

Di mana, soal lemahnya ikatan ideologis partai bagi kader. Sehingga gonta-ganti seragam bagi politikus itu, adalah perkara yang mudah.

Tak hanya itu, Ia juga berpandangan, sikap hengkang dari partai asal juga dapat di sebabkan, oleh ‘lingkaran’ politik kekerabatan.

Lebih lanjut, Pria yang lama bercokol di Semarang ini menambahkan, hengkangnya AJB dari demokrat juga bagian dari strategi ‘cantik’, bagi bahtera politiknya.

“Bagian dari strategi, dominasi yang di lakukan oleh keluarga AJB. Jelas dan terang, dari awal Partai Nasdem Sungai Penuh sudah di pimpin oleh Istri Beliau,” tambahnya.

Membaca Gerak Politik ‘AJB Family’

Selain hengkang, AJB juga di kabarkan bakal berlabuh di Partai besutan Surya Paloh, sebut saja Nasdem.

Lantas, bagaimana nasib Partai Demokrat usai ditinggalkan AJB?

Khususnya , Pria Lulusan S2 ini beranggapan, trah ‘AJB Family’ kecil kemungkinan untuk patah arang. Mengapa demikian?

Seperti diketahui, anak-anak dari mantan Rektor IAIN STS Jambi itu, pun turut tercatat harum namanya di Partai Demokrat. Wajar saja, Mulai dari Fikar Azami, hingga Ezzaty Asafri di berangkatkan Partai besutan AHY itu duduk di kursi DPRD Provinsi Jambi.

” Yang kemudian nantinya Partai Demokrat tampuk kepemimpinannya akan diserahkan anak- anak beliau, yang saat ini masih aktif di Partai Demokrat. Ini usaha beliau untuk melebarkan sayap, ” tukasnya.

Menarik Kerabat

Sebagaimana umum di katakan, bahwa politik adalah cara mencapai sebuah tujuan. Lumrah hukumnya, bagi seseorang membangun lingkaran politiknya, termasuk menarik para kerabat.

Lantas, dengan wacana berlabuhnya AJB, bahkan mendapat posisi strategis di Nasdem siapa yang di untungkan secara politik?

Citra beranggapan, langkah yang di tempuh AJB, adalah upaya melebarkan kekuatan Politiknya beserta sang Istri.

” Kalau bicara dampak perpindahan AJB ke Partai Nasdem, justru bukan AJB tenggelam dari kancah politik. Akan tetapi sebaliknya, seperti yang saya sampaikan, ini strategi beliau untuk memperkuat dinasti dan dominasi kekuatan politik di Sungai Penuh. ” tutupnya.

Lihat juga video : Ruang Inspirasi Podcast Gawean Dewan, Kades di Merangin Antri Jadi Bintang Tamu

Bebernya, Nasdem perlu jeli dan lincah dalam menangkap momen ini. Sehingga, situasi ideal yang bakal terjadi, adalah kebesaran Partai dan Penggeraknya selaras.

Terakhir, Citra juga memberi catatan, bahwa gonta-ganti seragam seorang kader, tak terlepas dari lemahnya desain kelembagaan partai dalam membina militansi. Meski, terkadang politik itu terkenal elastis. Bak harga cabe di pasaran, hari ini dan 1 hari kedepan bisa berubah. (Tr01)