Pusat Studi Pancasila (PSP) Universitas Gadjah Mada (UGM), ikut bersuara terkait hilangnya Pancasila dan Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah wajib, untuk Perguruan Tinggi dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 Tahun 2021.

Mata Kuliah Pancasila Dihilangkan? PSP UGM Desak PP 57/2021 Dicabut

Nasional Pendidikan

BERITA NASIONALPusat Studi Pancasila atau PSP Universitas Gadjah Mada atau UGM, ikut bersuara terkait hilangnya Pancasila dan Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah wajib, untuk Perguruan Tinggi dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 Tahun 2021.

Kepala Pusat Studi Pancasila UGM, Agus Wahyudi, mengatakan PP 57/2021 telah menimbulkan pertanyaan. Khususnya bagi mereka yang bergerak di bidang pendidikan, sangat terdampak.

Menurut PSP UGM, di hilangkannya Pancasila sebagai mata kuliah wajib perguruan tinggi, sangat cinderai dan menimbulkan pertanyaan besar.

Baca juga : Larangan Mudik Lebaran 2021, di Jambi Yang Bandel Disuruh Putar Balik

“Penghapusan pendidikan Pancasila sejak di berlakukan UU Sisdiknas 2003, mengakibatkan generasi muda Indonesia paska reformasi kehilangan rujukan penting, tentang hakikat hidup bernegara yang baik dan tepat,” kata Agus dalam keterangannya, Senin (19/4).

“Fenomena bahwa generasi milenial, 85 persen dari mereka rentan terpapar radikalisme-terorisme sebagaimana temuan BNPT Desember 2020. Kadang di anggap memberi indikasi mengenai dampak ikutan dari kebijakan ini,” tambah dia.

Pancasila Penting

Agus juga menjelaskan, Pancasila menempati posisi penting. Hal ini karena mengandung konten yang kaya dan secara historis bermakna, dalam memberi sumbangan pembentukan imajinasi negara bangsa modern. Sebab Pancasila adalah nilai moral dan basis pendidikan kewarganegaraan.

“Nilai moral mengungkapkan atau mengekspresikan apa yang dianggap penting oleh warga negara dalam hidup mereka dan dalam kehidupan bersama orang-orang yang berbeda,” ucapnya.

Selanjutnya, Ia juga menambahkan, menghapus pendidikan Pancasila dalam standar kurikulum sebagai pelajaran dan mata kuliah wajib, jelas akan menimbulkan banyak pertanyaan.

Baca juga : Heboh, Beredar Kabar Raffi Ahmad Bakal Jadi Menteri Baru di Kabinet Jokowi

Selain itu, tidak di sebutnya Pancasila sebagai pelajaran atau mata kuliah wajib pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi. Tentunya dalam standar kurikulum pendidikan di PP 57/2021, telah memberikan petunjuk tidak adanya penghargaan atas pengertian penting sejarah Pancasila bagi pembentukan identitas. Dan cara hidup bersama yang terbaik sebagai warga negara.

“Kebijakan dalam PP 57/2021 terkait Pancasila, karena itu merefleksikan pengambilan keputusan tanpa informasi lengkap. Dan tanpa pertimbangan yang mendalam (neither well-informed nor thoughtful), serta mencerminkan sikap yang tidak bertanggung jawab terhadap Pancasila,” jelasnya.

Terkait kebijakan itu, Pusat Studi Pancasila UGM mengeluarkan lima poin keberatan. Berikut lima poin itu:

  1. Pendidikan sangat berkepentingan dalam pengembangan karakter, etika, dan integritas pada anak didik. Sementara Pancasila menempati posisi unik, mengandung nilai yang kaya akan sejarah dan bermakna dalam memberi sumbangan bagi pemikiran masa depan. Karena Pancasila adalah nilai moral dan basis pendidikan kewarganegaraan. “Nilai moral” mengungkapkan apa yang di anggap penting oleh warga negara, dalam hidup mereka dan kehidupan bersama orang orang yang berbeda.
  2. Terbitnya PP 57/2021 tentang Standar Nasional Pendidikan telah menghilangkan Pancasila, sebagai materi dan muatan wajib kurikulum, mulai dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Hal ini tertuang dalam pasal 40 ayat 2 dan 3 yang menyebutkan, kurikulum pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi hanya wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan bahasa.
  3. Konsideran mengingat PP 57/2021, tidak memuat dan merujuk sama sekali UU No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Tetapi hanya merujuk UU No 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sudah kita ketahui bersama, bahwa dalam UU No 20 tahun 2003 di Pasal 37, baik di ayat 1 untuk Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah, maupun ayat 2 untuk kurikulum Pendidikan Tinggi. Tidak memuat secara khusus dan penyebutan secara eksplisit, tentang Pendidikan Pancasila.
  4. Konsideran mengingat PP 57/2021 ini, tidak merujuk prinsip lex specialis UU No12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi dalam Pasal 35 ayat 3 butir c. Yang secara jelas menyebutkan kurikulum Pendidikan Tinggi, wajib memuat mata kuliah Pancasila. Atau kalau mau merujuk UU No 20 tahun 2003, di BAB I Ketentuan Umum dalam Pasal 1 ayat 2. Yang berbunyi : “Pendidikan nasional adalah pendidikan, yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama. juga kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman”.
  5. Menghapus pendidikan Pancasila sebagai kurikulum wajib, apalagi hanya Pancasila saja yang di hapus merupakan tindakan yang berbahaya. Karena potensial mengubur Pancasila dalam upaya Pembudayaan Pancasila, melalui jalur Pendidikan Nasional. Secara politik, jika agama dan kewarganegaraan adalah penting dan di wajibkan, maka penghapusan Pancasila adalah menghapus landasan sebagai nilai moral. Maka, hal ini akan membahayakan bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lebih lanjut, Pusat Studi Pancasila UGM juga memberikan tiga rekomendasi terkait PP Nomor 57 Tahun 2021. Berikut tiga rekomendasi itu :

  1. Pusat Studi Pancasila UGM meminta Pemerintah, untuk membatalkan Peraturan Pemerintah No 57 Tahun 2021, tentang Standar Nasional Pendidikan. Dan atau merevisi Pasal 40 muatan kurikulum di berbagai jenjang pendidikan.
  2. Pusat Studi Pancasila UGM merekomendasikan, untuk melakukan uji materi (judicial review) terhadap pasal-pasal yang tidak relevan, dalam mendukung kemajuan pendidikan karakter bangsa yang tertuang UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  3. Selanjutnya, Pusat Studi Pancasila UGM mengajak segenap elemen bangsa, para relawan advokat/lawyer. Kemudian para ahli untuk bahu membahu bersama dengan guru, dosen, pendidik, dan pegiat Pancasila di tanah air. Ini untuk bergabung mewujudkan uji materi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia.

 

Sumberkumparan.com