Di era saat ini, kesetaraan gender bukanlah menjadi rahasia umum lagi. Bahkan, banyak yang menilai bahwa perempuan itu istimewa, dengan segala hal yang mereka punya, tanpa harus memikirkan stigma DSK.

Sebut Perempuan Istimewa, Menteri Gerda Puan Unja : Hilangkan Stigma DSK

Berita Jambi

BERITA JAMBI – Di era saat ini, kesetaraan gender bukanlah menjadi rahasia umum lagi. Bahkan, banyak yang menilai bahwa perempuan itu istimewa, dengan segala hal yang mereka punya, tanpa harus memikirkan stigma DSK.

Biasanya, dulu banyak yang beranggapan bahwa wanita sekolah tinggi itu tidak penting. Karena nanti perempuan istimewa ini, juga tidak akan jauh dari  Dapur, Sumur dan Kasur (DSK).

Namun, stigma seperti ini jarang lagi di temukan saat ini. Di mana, banyak perempuan yang ikut berkarir, berkarya dan ikut berkontribusi lebih dari laki-laki. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menjabat sebagai Kepala Daerah, seperti Presiden, Bupati dan Gubernur.

Baca Juga : Suami Kepergok Istri Tengah Gagahi Anak Kandung, Ini Ujungnya

Pandangan seperti ini pun, sama dengan isi pikiran Menteri Gerdapuan Universitas Jambi (UNJA), Revina Indah Lestari saat di konfirmasi Dinamikajambi.com pada Senin (22/02/2021).

Revina menyebutkan, bahwa perempuan itu adalah sosok yang istimewa, tanpa harus mengedepankan stigma DSK. Karena, Ia menilai banyak hal yang lebih baik bisa di lakukan oleh perempuan, jika mereka mau berkembang lagi.

Ia juga berpandangan pada dasarnya wanita bebas untuk mengenyam pendidikan, bebas untuk mengembangkan diri. Semua itu baginya merupakan kodrat wanita sebagai calon ibu, melahirkan generasi yang baik nantinya.

“Tujuannya untuk anak kita nanti, karena biasanya anak yang baik lahir pula dari ibu yang cerdas. Jadi, sebagai perempuan jangan takut keluar zona nyaman menambah kapasitas diri,” tuturnya.

Menurut hematnya, pendidikan bagi perempuan sangat berguna bagi kemajuan generasi. Sudah kodrat seorang wanita untuk melahirkan generasi baru.

Kesetaraan Gender

Sosok perempuan yang kini berstatus mahasiswi S1 Jurusan Sejarah, Seni dan Arkeologi Studi Sastra Indonesia Universitas Jambi ini mengatakan, dengan tegas soal stigma DSK.

Baginya paham itu adalah teori usang warisan kolonial, di era kemajuan teknologi yang tidak hanya berkutat di Dapur, Sumur dan Kasur saja. Ada banyak hal baru yang patut di coba, tentu ketika keluar dari zona nyaman.

“Ada banyak cara menambah kapasitas diri sebagai perempuan. Dimulai dari membaca, diskusi, ketemu orang-orang baru dan membangun relasi,” jelasnya.

Semakin berkembangnya potensi diri seorang perempuan, maka itu selaras dengan kemapanannya.

Lihat Juga : Pernah Digaji 450 Ribu, Begini Perjalanan Hidup Maria Anggota DPRD 3 Periode Kota Jambi

Di sisi lain, ia juga beranggapan kemapanan karir seorang perempuan, tidak di jadikan sebuah hambatan bagi lelaki untuk mendekatnya.

Selaras dengan hal ini, Ia berprinsif bahwa perempuan memiliki tugas mulia untuk bergenerasi.

Baginya, bukan persoalan jika dalam sebuah hubungan asmara seorang gadua lebih mapan karirnya, dari pada si pria.

Ia menyarankan kepada lelaki tidak perlu minder, untuk mempersunting seorang gadis yang lebih mapan darinya.

“Jangan di jadikan masalah dan tidak mengedepankan ego. Nah itu kembali lagi bagaimana komunikasi di awal, bagaimana kita membangun komitmen di awal untuk bersatu,” katanya sambil tertawa halus.

Satu Harapan di Hari Perempuan

Termotivasi dengan senior-senior di kampus, Revina pun aktif di berbagai organisasi. Kelakar nya bilang, karena tertarik di biayai oleh negara.

“Wah kok enak banget ya melanglang buana kesana kemari, di biayai negara. Ya jujur saya tertarik tapi penuh hikmah kok kalau di pikir-pikir,” paparnya..

Namun di sisi, Ia pun menemukan hikmah dari pengalaman pertama sewaktu awal masuk kuliah. Aktif di berbagai organisasinya, mendorongnya makin PD dan tahu fashion nya sendiri.

Tidak hanya itu, Revina yang aktif dalam pergerakan perempuan ini, mengutuk tindak kekerasan pada perempuan.

Tak ayal, gadis berusia 22 tahun ini  berharap kepada aparat hukum dan pemerintah, untuk bmenerapkan hukuman keras bagi pelaku.

“Mau bagaimanapun keadaannya, kita jangan anggap rendah korban kekerasan pada perempuan. Baik itu secara fisik maupun kekerasan seksual. Tetapi fokuslah pada proses hukum bagi si pelaku,” tegasnya.

Woman day jatuh pada tanggal 8 Maret, Revina mengajak seluruh perempuan-perempuan Indonesia untuk terus bangkit, dalam menambah kapasitas diri.

Ia berpesan dan berpanutan dengan kalimat seorang pendiri bangsa, yang pernah bilang perempuan itu istimewa dan dapat mendidik satu generasi.

“Jika kamu mendidik satu laki-laki, maka kamu mendidik satu orang. Namun jika kamu mendidik satu orang perempuan, maka kamu mendidik satu generasi,” tokoh laki-laki yang di kagumi Revina ini.

Lihat Juga Video : Di tengah Perjalanan, Bupati Setir Mobil Sendiri

“Sekali lagi kita di lahirkan sebagai perempuan yang istimewa, mari mengembangkan diri untuk anak-anak kita nanti. Mau bagaimanapun kita akan bergenerasi, maka tugas kita untuk melahirkan generasi yang baik dari ibu yang cerdas,” imbuhnya.

Catatan redaksi : Begitulah kisah inspiratif dari Revina. Oleh karenanya kita sebagai kaum hawa, jangan takut keluar dari zona nyaman. Sebaliknya, sebagai lelaki harus bisa memberi rasa nyaman bagi perempuan. (Tr01)