Pahit manisnya kehidupan merupakan proses yang harus di hadapi setiap manusia, Ikhtiar dan Doa adalah dua hal tak terpisahkan dalam sebuah perjuangan. Seperti yang di lakukan Pakde Hasan, yang kini sudah menginjak usia senja, namun tetap semangat menjadi pengrajin ban bekas di Jambi.

Kisah Inspiratif Pakde Hasan, Sang Pengrajin Ban Bekas di Jambi

Berita Bisnis Berita Jambi

BERITA BISNIS – Pahit manisnya kehidupan merupakan proses yang harus di hadapi setiap manusia, Ikhtiar dan Doa adalah dua hal tak terpisahkan dalam sebuah perjuangan. Seperti yang di lakukan Pakde Hasan, yang kini sudah menginjak usia senja, namun tetap semangat menjadi pengrajin ban bekas di Jambi.

Pria kelahiran Banyuwangi Jawa Timur ini, pertama kali datang ke Jambi sekitar tahun 2016 lalu. Kala itu, Ia yang selama 20 tahun merintis usaha ban bekas di Jawa, bangkrut. Sehingga seluruh aset kekayaannya pun ludes terjual, tanpa tersisa satu pun.

Baca juga : Nikmati Masa Tua di Rumah, Pasutri di Jambi Ini Buka Usaha Serabi

Karena tak mau menjadi beban bagi anak-anak nya, akhirnya Pakde Hasan merantau ke Jambi.

Awalnya mulanya sampai di Jambi, Pria yang ini berusia 65 tahun ini tidak memiliki apapun. Bahkan, Ia tidak memiliki satu sen pun di kantongnya. Namun, bermodalkan semangat dan tekad yang kuat, Ia akhirnya bisa menyambung hidup dengan bekerja sebagai tukang servis sopa.

“Saat tiba di Jambi, saya gak megang sangu se rupiah pun. Tentu ini akan membuat saya semakin dilema, sehingga saya cari kerja kemana-mana. Hingga akhirnya kerja di  tempat servis sopa,” kata Pakde Hasan saat di temui Dinamikajambi.com, Minggu (21/02/2021).

Ia juga mengatakan bahwa merintis usaha Ban Mobil Bekas, yang di sulap jadi bahan jadi di Jambi ini sekitar tahun 2018 lalu. Di mana, sebelumnya selama 2 tahun Pakde Hasan bekerja sebagai tukang servis sopa.

“Kalo di Jambi 4 tahun. Kemarin pindah dari samping RM Padang Lawas Aurduri,” imbuhnya.

Sekilas Tentang Pakde Hasan

Seperti di ketahui, Pakde Hasan mempunyai seorang istri, 3 orang anak dan 5 orang cucu.

Ia datang ke Jambi bersama sang istri sekitar 4 tahun lalu dan nasib meninggalkan anak, cucunya di Banyuwangi.

Secara perlahan, rutinitas kerjanya sebagai tukang servis sofa di Jambi pun Ia lalui, hingga berjalan hampir 2 tahun.

Pahit manis kehidupan yang di lalui di Jambi, tak menyurutkan Pakde Hasan untuk terus berjuang. Hingga akhirnya, memulai usahanya sebagai pengrajin ban bekas.

Buat Nama Cucu di Usaha Mebelnya

Berniat ingin melanjutkan usahanya di Manyuwangi, Hasan kembali membuka usaha Ban bekas yang di namakan Dimas Mebel, yang di ambil dari nama cucunya.

Begitulah ungkapan cinta kasih seorang kakek pada cucunya, sampai-sampai Pakde Hasan cantumkan nama cucunya sebagai nama usaha mebelnya tersebut.

“Dimas mebel itu nama cucu, aku sudah tua nanti jangan di namakan Hasan,” ujarnya sambil menunjuk sebuah spanduk.

Dari penghasilan Dimas Mebel ini, Pengrajin Ban Bekas di Jambi itu pun sering mengirimkan uang untuk beli susu Cucunya yang di Banyuwangi.

“Itu cucu dari anak paling terakhir, anak minta susu terus. Ayahnya kerja buat lemari stanlis itu rumah belum punya,” Imbuhnya.

Pernah Bangkrut

Selanjutnya, Pria paruh baya ini kembali menceritakan kisah pilunya yang pernah bangkrut, setelah mengeyam usaha Mebel ban bekas di daerah asalnya.

Sebelum mengadu nasib ke Jambi 4 tahun lalu. Ia ternyata pernah buka usaha mebel yang dirintisnya selama 20 tahun.

“Aku datang kesini ndak bawak duit satu Sangu, kurang orang dua naik bis. Jadi di bantu sama kenalan pakde,” ungkap Hasan menggunakan bahasa daerahnya.

Ia yang kala itu tak mau menyusahkan anaknya, nekat mengadu nasib ke Jambi, dengan bermodalkan semangat dan tekat.

“Aku ndak enak. Tanah ku udah habis toh le, tapi kita harus semangat toh,” terangnya.

Mencoba Bangkit dari Keterpurukan

Demi menambah penghasilan untuk biaya kehidupan sehari-hari. Istri pakde, turut menopang kehidupan dengan bekerja sebagai tukang urut.

Alhamdulillah, kini kehidupannya mulai lebih baik dari sebelumnya. Ia yang hanya bermodalkan pengetahuan mengolah ban bekas jadi barang jadi, membuatnya bisa bertahan dari kerasnya kehidupan di rantau.

Saat di tanya soal omzet per bulan nya. Pakde masih enggan menyebutkan besarannya, karena memang penghasilannya tak menentu.

“Woh kalo itu dak anu, dak menentu lah. Yo rezeki-rezeki an, cukup untuk hari-hari,” singkatnya.

Pakde menjual hasil karyanya dengan harga bervariasi. Untuk satu buah kursi dan meja, di hargai Rp. 200 ribu.

Lihat juga video : Bupati bilang sudah, BPBD Sebut Nunggak honor posko Covid-19 di Merangin

Selain itu, Ia juga menyediakan satu paket dengan 4 buah kursi dan 1 meja, seharga Rp. 1 juta .

Tidak hanya itu, Dimas Mebel yang berada di kawasan Lorong Pattimura, Sebelum Perumahan Aurduri 1 ini, menyediakan pot bunga seharga Rp. 15 ribu. Kemudian ayunan, yang di beri harga Rp. 50 ribu. (Tr01)