Terkait pasien penyakit jantung yang masih di ruang isolasi padahal uji swab nya negatif, ini jawaban dari pihak rumah sakit Arafah Jambi, Senin (08/02/2021).

Penyakit Jantung dan Uji Swab Negatif, Pasien Masih Diisolasi, Ini Keterangan RS Arafah Jambi

Berita Jambi

BERITA JAMBI – Terkait pasien penyakit jantung yang masih di ruang isolasi padahal uji swab nya negatif, ini jawaban dari pihak rumah sakit Arafah Jambi, Senin (08/02/2021).

Hal ini di sampaikan oleh Wiwit Winarti, Humas RS Arafah Jambi.

Baca juga : Hasil Swab Negatif, Pasien Jantung di Jambi Malah Masuk Ruang Isolasi

Sebelumnya, seorang pasien berisial DR (70) memiliki riwayat penyakit jantung di bawa ke RS Arafah Jambi, di uji swab hasilnya negatif namun tetap diisolasi. Ada apa?

Bukan cuma itu saja, pelayanan RS Arafah Jambi pun juga di nilai pihak keluarga kurang baik. Hal ini di lihat saat mereka meminta pasien di pindahkan, namun tidak di indahkan oleh pihak rumah sakit.

Tak ayal, hal ini pun membuat pihak keluarga berang. Apalagi kondisi pasien yang sangat darurat dengan riwayat penyakit jantung, yang di alaminya.

Menanggapi itu, Wiwit mengatakan bahwa awalnya pasien yang mau di rawat di RS Arafah, prosedurnya di lakukan screening terlebih dahulu baru di rapid test.

Setelah di rapid test, hasilnya reaktif, sehingga harus di masukkan ke ruangan isolasi. Karena hal ini, ada indikasi.

“Hasil rapid test pasien, hasilnya reaktif. Makanya, kami pindahkan ke ruangan isolasi. Dan di situ tidak ada pasien lain, hanya ada pasien yang bersangkutan di dalam ruangan tersebut,” katanya.

Selanjutnya, mengapa anak perempuan pasien tersebut juga ikut masuk dalam ruang isolasi, padahal aturan nya tidak boleh ada orang lain selain dari pasien, jika di isolasi.

Menanggapi hal tersebut, Ia menjelaskan bahwa untuk anak pasien yang juga ikut dalam ruang isolasi, itu murni permintaan yang bersangkutan. Padahal bilangnya, pihak rumah sakit sudah ngasih tahu bahwa tidak boleh ikut ke dalam ruangan tersebut.

Akan tetapi tambahnya, anak pasien tersebut meminta langsung untuk menemani orangtuanya di dalam ruang isolasi itu.

“Petugas kami sudah jelaskan, bahwa tidak boleh ikut pasien dalam ruangan isolasi. Tapi pasien sendiri yang minta untuk ikut, itu juga sudah ada bukti formulir permintaan mendampingi pasien di ruang isolasi,” imbuhnya seraya menunjukkan surat perjanjian tersebut.

Soal Uji Swab Mandiri

Sedangkan untuk biaya uji swab Mandiri yang mengocek uang hampir 2 Juta, juga atas dasar kemauan pihak keluarga pasien.

“Kami sudah menjelaskan bahwa untuk swab dengan Labkesda, itu hasil baru bisa di ketahui 2 hari sampai 3 hari kedepan. Tapi kalau untuk swab mandiri di DKT atau RS Pranata Rp. 1,6 juta, itu juga kemauan dari pihak keluarga pasien sendiri, yang ingin melakukan swab secara mandiri,” terangnya.

Terakhir, mengenai lamanya pemindahan pasien dari ruang isolasi ke ruang rawat inap biasa, Ia berdalih masih mengikuti prosedur yang tidak bisa main pindah saja. Hal ini, di karenakan harus mengkonfirmasi terlebih dahulu pada dokter yang merawat pasien tersebut.

“Negatif wajib konfirmasi dokter yang merawatnya. Singkat cerita jam 17.00 wib, baru dapat konfirmasi dari dokternya bisa di pindahkan. Tapi kala itu, kamar penuh ruang Safa yang kini di tempati pasien penuh, sehingga kami harus melakukan persiapan kamar dulu. Waktunya kurang lebih 2 jam,” jelasnya.

“Selama di ruang isolasi, kami tetap kami lakukan penanganan, yang di tangani langsung oleh dokter khusus jantung,” bebernya.

Berbeda Dengan Keterangan Keluarga Pasien

Lalu berbeda dari keterangan pihak Keluarga, di mana pasien baru di pindahkan setelah terjadi perdebatan, dengan pihak RS sakit? Wiwit pun membenar hal itu.

Bilangnya, komplain dari pihak keluarga pasien itu wajar saja, karena tingkat kepuasan pasien itu beda-beda.

“Wajar itu, kan tingkat kepuasan pasien berbeda. Tidak semuanya merasa puas, ” Ujarnya.

Kemudian, apa benar pihak RS sakit terkesan mengabaikan dan seakan membiarkan keluarga korban menunggu tanpa kepastian dari pihak rumah sakit, soal pemindahan pasien tersebut?

Lihat juga video : Saling Lempar Gas Air Mata, Demo di Jambi Ricuh

Bagian Humas RS Arafah Jambi ini pun belum bisa memberi keterangan lebih, Wiwit hanya bilang akan di telusuri lagi, dengan dalih kala itu Ia tak berada di lokasi saat itu.

“Nah kalau soal itu saya akan telusuri, karena kemarin saya tidak ada di sini. Nanti kami telusuri lagi. Apakah memang tidak di jelaskan oleh petugas, atau sudah di jelaskan tapi keluarga pasien tidak dengar. Atau mungkin saat itu petugasnya kami lagi sibuk, sehingga tidak dengar, ” paparnya. (Nrs)