Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa adalah suatu yang kerap kita pakai dalam berkomunikasi. Nah, penggunanya pun diharapkan sesuai dengan padanan yang ada di KBBI. Disisi lain, menggunakan bahasa juga dinilai memartabatkan Manusia.

Menggunakan Bahasa, Memartabatkan Manusia

Berita Jambi

BERITA JAMBI – Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa adalah suatu yang kerap kita pakai dalam berkomunikasi. Nah, penggunanya pun diharapkan sesuai dengan padanan yang ada di KBBI. Disisi lain, menggunakan bahasa juga dinilai memartabatkan Manusia.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Ketua IWO Provinsi Jambi, Nurul Fahmy dalam kegiatan diskusi Kelompok terpumpun pemartabatan bahasa negara, di media massa pada Senin (26/10/2020).

Baca juga : Polisi Ajak Masyarakat Pakai Masker Dengan Bahasa Daerah Jambi

Kegiatan diskusi yang digelar di Hotel Golden Harvest kawasan Pattimura Kota Jambi ini, turut dihadiri oleh narasumber seperti Nurul Fahmy dan tamu undangan lainnya seperti Bahren Nurdin.

Dalam kesempatan tersebut, saat menjadi narasumber Nurul Fahmy membahas tentang menggunakan bahasa, dan memartabatkan manusia.

Seperti dijelaskannya, bahwa martabat dalam KBBI memiliki arti harga diri, dan disebut juga sebagai tingkat harkat kemanusiaan.

Sedangkan pemartabatan adalah proses atau cara memberi martabat. Sementara Wikipedia menuliskan, martabat merupakan konsep penting dalam meletakkan hak-hak dasar kemanusiaan. Seperti kebebasan, hak untuk hidup, termasuk harga diri.

“Jadi martabat bukan konsep untuk bahasa, melainkan untuk manusia. Sementara bahasa merupakan produk budaya, produk manusia,” katanya.

Selanjutnya, penggunaan kata martabat atau pemartabatan pada tema diskusi ini, dengan demikian dinilai tidak tepat.

“Harga diri bahasa, bahasa itu tidak akan kehilangan harga dirinya. Akan tetapi, pengguna dan medianya lah yang akan kehilangan harga diri, kalau tidak menggunakan bahasa yang baik dan benar,” jelasnya.

Kemudian, mengenai penggunaan bahasa dalam media online atau daring, bilangnya tidak berbeda dengan media Massa konvensional. Dimana prinsipnya ringkas, jelas dan tidak bertele-tele.

“Untuk memiliki tentang bahasa koran (istilah lama), maka jurnalis harus banyak membaca dan berlatih lagi, tentang penggunaan bahasa,” terangnya.

Alasan Media Kerap Gunakan Istilah Asing

Disisi lain, mengapa media massa kerap menggunakan bahasa asing, diantaranya yakni belum adanya padanan bahasa Indonesia yang pas. Jadi mau tidak mau, media harus menggunakan istilah asing tersebut.

“Misalnya Viral, apakah sudah ada padanan kata yang pas untuk kata viral. Kalau untuk artinya sudah ada, tapi padanan yang pas pas untuk bahasa di media massa, belum ada. Seperti juga misalnya kata istilah Doxing, Zoom Meeting, Trending Topic,” paparnya.

Belum lagi istilah-istilah asing populer, yang itu juga penting digunakan oleh media online. Hal itu karena berkaitan dengan Search Engine Optimisation (SEO).

“Menggunakan padanan kata dari yang tidak populer, sama dengan membuang kesempatan berita tersebut dibaca oleh pemirsa,” imbuhnya.

Selain itu, saat ini SEO juga menjadi tantangan bagi redaksi media online dalam menggunakan bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Tidak hanya itu saja, SEO ini cenderung merusak dan menghancurkan kaidah-kaidah penulisan yang baik, dan benar.

Ditambah lagi dengan algoritma mesin pencari, seperti Google, Bing, Yahoo, atau lainnya, yang cenderung membaca istilah populer ketimbang bahasa yang baik dan benar.

Tak ayal, ini merupakan dilema besar setiap redaksi media online di Jambi khususnya, dan Indonesia umumnya. Bagaimana tidak, ada dua sisi yang menjadi pertimbangan mereka. Satu sisi harus mengikuti aturan mesin pencari, atau tetap menggunakan bahasa yang baik tanpa memikirkan keterbacaan Google dan lainnya.

“Kita tentu bisa mencari contoh lain, bagaimana frasa yang populer lebih banyak digunakan, ketimbang frasa yang benar. Seperti Focus Group Discussion (FGD), yang lebih populer ketimbang diskusi kelompok terpumpun. Atau online ketimbang daring,” tukasnya.

Lihat juga video : Bupati bilang sudah, BPBD Sebut Nunggak honor posko Covid-19 di Merangin

Fahmy juga menyebut contoh judul yang digunakan Media online, yang mengabaikan kaidah penulisan. Dan lebih mengedepankan SEO.

“Seperti Keluarga BCL Sesalkan Istri Ashraf Nangis di Idol Saat Judika Nyanyi di Depan Bunga Citra Lestari,” pungkasnya. (Nrs)