Harga Sawit di Jambi Kembali Melemah, Ternyata Ini Penyebabnya

Harga Sawit di Jambi Kembali Melemah, Ternyata Ini Penyebabnya

Berita Bisnis Berita Jambi

JAMBI – Meski telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan beberapa pekan terakhir, harga sawit di Jambi kembali melemah pada awal Oktober 2020 ini.

Hal ini dilihat berdasarkan hasil rapat penetapan harga TBS kelapa sawit, oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jambi bersama pihak terkait lainnya, pada Kamis (01/10/2020).

Baca juga : Promo Happy Break Odua  Weston Jambi Siap, Cukup 36.000 Loh

Sebagaimana diketahui, sebelumnya harga sawit umur 10-20 tahun di Provinsi Jambi ini, sempat melambung hingga mencapai 1.971 Perkilogram.

Akan tetapi, pekan ini tampaknya harga sawit di Jambi kembali melemah, hingga mrncapai berkisar Rp. 1.896,74 Perkilogramnya.

Harga tersebut dilihat, dari perbandingan yang ditetapkan oleh Dinas Perkebunan, pada minggu lalu.

Seperti disampaikan Putri Rainun, selaku Kepala Bidang Standarisasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Disbun Provinsi Jambi saat dikonfirmasi, Kamis (01/10/2020).

Ia mengatakan bahwa harga TBS kelapa sawit Provinsi Jambi, untuk periode 02 hingg 08 Oktober ini, mengalami penurunan sebesar Rp. 74,34 Perkilogram.

“Dari hasil rapat diputuskan harga rata rata CPO Rp. 8.873,48, Inti Sawit Rp. 4.233,25, dan Indeks K  87,66 persen. Sedangkan harga sawit umur 10-20 tahun, sebesar Rp. 1.896,74 Perkilo. Terjadi penurunan sebesar Rp. 74,34 Perkilo, dari periode yang lalu.” Jelasnya.

Bilangnya, untuk penurunan harga rata-rata TBS menurut umur tanaman, yakni sebesar Rp.59,63 Perkilogram.

Mulai Melorot

Sementara itu, dikutip dari CNBC Indonesia harga mulai melorot, ketika memasuki minggu terakhir bulan September, meski setelah menyentuh level tertinggi.

Penurunan ini, selain disebabkan aksi ambil untung para trader yang jadi pemicunya, ada beberapa sentimen negatif yang berkembang di pasar.

Informasinya, Reuters melaporkan para pedagang di China mulai melikuidasi posisi mereka, menjelang liburan Golden Week dari 1-8 Oktober.

“Bursa Komoditas Dalian akan segera libur, yang berarti tidak ada permintaan ekspor dari China selama satu minggu,” kata seorang pedagang kelapa sawit yang berbasis di Kuala Lumpur.

Kemudian, yang menambah sentimen negatif adalah mulai meningkatnya aktivitas pemanenan kedelai di AS.

Apalagi, berdasarkan data Departemen Pertanian AS, progress pemanenan kedelai sudah mencapai 20% sampai Senin pekan ini.

Progress tersebut lebih tinggi dari rata-rata pencapaian dalam lima tahun terakhir, yang hanya 15 persen dan di atas konsensus yang dihimpun Reuters di angka 18 persen.

Tak ayal, dengan persoalan ini berdampak pada harga sawit di setiap daerah di Indonesia, khususnya Provinsi Jambi. Sehingga mengalami penurunan pada periode 2-8 Oktober pekan ini.

Pun demikian, meski terkoreksi parah belakangan ini akibat aksi ambil untung, dan berbagai sentimen negatif, potensi risiko kenaikan harga CPO masih terbuka.

Mengingat, larangan aktivitas perkebunan, penyulingan dan industri hilir sawit di Sabah Malaysia, berpotensi menyebabkan disrupsi rantai pasok. (Tr06)