Tanahnya Digusur, Emak-emak di Jambi Buka Baju

Tanahnya Digusur, Emak-emak di Jambi Buka Baju

Berita Jambi Berita Viral

TEBO – Konflik penggusuran tanah milik petani di Desa Lubuk Madrasah, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo terus berlanjut. Tanahnya digusur PT WKS, emak-emak di Jambi buka baju di lokasi lahanya yang digusur.

Hal ini terlihat di lokasi penggusuran, saat emak-emak di jambi buka baju. Itu karena tak terima tanahnya digusur, oleh pihak PT WKS di lapangan.

Baca juga : Lagi-lagi, Al Haris Kirim Ramuan Daun Sungkai Buat Jurnalis Jambi

Sebelumnya diketahui, setelah merayakan hari tani nasional yang diwarnai oleh aksi unjuk waktu lalu, kali ini masyarakat Kabupaten Tebo kembali diresahkan dengan penggusuran lahan oleh PT Wira Karya Sakti (WKS).

Seperti yang disampaikan Dodi, selaku Koordinator Wilayah tanah tersebut, Minggu (27/09/2020).

Ia mengatakan, bahwa peristiwa penggusuran itu sudah berlangsung sekitar 2 minggu lalu, hingga akhirnya disampaikan surat protes dari masyarakat ke perusahaan. Dalam prosesnya itu, disampailah dalam sebuat pertemuan.

“Disana disepakati ada beberapa point waktu di jambi kemarin, salah satunya perusahaan berkomitmen untuk menghentikan aktivitas mereka. Sudah dibuat berita kesepakatannya, tetapi mereka melanggar.” Terangnya.

PT WKS Terus Menggusur

Dalam posisi tersebut, PT WKS terus menggusur dan memperluas area lahan masyarakat ini, dengan dalih sudah dimitrakan dengan kelompok Sungai Landai Bersatu.

“Oke sudah dimitrakan, tetapi yang menjadi permasalahannya, objek yang mau di mitrakan itu yang mana. Dan yang kedua yang lucunya lagi, mengapa kita katakan objeknya tidak jelas,karena  yang punya SHM pun digusur,” jelasnya lagi.

Dirinya menambahkan, bahwa dari 2007 tanah milik masyarakat ini digusur PT WKS, yang eronisnya mereka menggusur itu tidak memiliki tata batas yang jelas. Bahkan main gusur saja.

“Belakangan ini mereka mau buat tata batas, dan ditolak oleh masyarakat.” Ujarnya.

Ia kembali membeberkan, bahwa beberapa waktu lalu yakni tahun 2006, PT WKS juga melakukan penggusuran, dan itu masih didiamkan oleh masyarakat setempat. Hal itu dikarenakan, mereka masih sabar. Namun, PT WKS ini lama-lama makin melunjak.

Tak ayal, masyarakat tak mau tinggal diam, dan langsung mengambil alih lahan mereka yang digusur tersebut, dengan tetap menanam bibit diatas lahan yang digusur.

“2006 mereka gusur, terus masyarakat tidak sabar. Karena anak mereka banyak yang putus sekolah,  akhirnya mereka mau tidak mau harus ambil kembali tanah mereka yang digusur WKS itu. Nah dalam proses itu relatif amanlah ya, sempat panen raya padi di tahun 2018, di hadiri oleh staf presiden, bupati,” ungkapnya.

Pun demikian, baru-baru PT WKS kembalimmelakukan penggusuran hingga dilakukan pertemuan di Dinas Kehutanan setempat, terkait subjek dan objek tanah tersebut agar persoalannya jelas. Bukannya dindahkan, malah tidak dilakukan oleh PT WKS.

“Belakangan ini,  ternyata mereka berlanjut aja dengan orang yang mau bermitra itu, tanpa ada sepengetahuan masyarakat.Karena ini adalah tanah-tanahnya rakyat. Masyarakatnya aja tidak tau kalau tanahnya itu mau dimitrakan,” imbuhnya.

Pemerintah Lepas Tangan

Mirisnya lagi, dengan situasi seperti ini Pemerintah Kabupaten Tebo seakan lepas tangan, dengan dalih perkara itu adalah kewenangan Kementerian.

“Pemerintah lepas tangan, dengan berdalih itu adalah kewenangan kementrian. Seandainya ada pemerintah daerah itu, menjalankan hasil dari pertemuan di kecamatan, dengan dihadiri oleh KPH salah satunya untuk verifikasi. Tetapikan tidak ada tindak lanjut,” kesalnya.

Tak habis pikirnya lagi, bilang Dodi lahan masyarakat yang memiliki SHM pun digusur.

“Yang digusur itu kurang lebih sekitar 160 Hektar, dan sebagian masih ada yang dipertahankan dan dinamai oleh masyarakat. Karena mereka tidak akan iklas dan rela tanahnya diambil.” Paparnya.

Lihat juga video : Klik Disini

Untuk saat ini, bilangnya alat berat itu berhenti dan tidak ada aktifitas penggusuran menjelang pertemuan dengan dinas kehutanan, bersama pihak-pihak terkait pada Selasa nanti.

Oleh karena itu, ia berharap tanah itu dikembalikan kepada kaum tani, supaya mereka kembali berdaulat secara ekonomi. Sehingga bisa membantu negara dalam krisis pangan. (Tr06)