Dampak Virus Corona, menghentikan operasi 126 mobil dan ratusan pekerja. Family Raya 2 bulan berhenti dampak pandemi, kini buka lagi.

Family Raya 2 Bulan Berhenti Dampak Pandemi, Buka Lagi

Berita Bisnis

MERANGIN – Dampak Virus Corona, menghentikan operasi 126 mobil dan ratusan pekerja. Family Raya 2 bulan berhenti dampak pandemi, kini buka lagi.

Perusahaan angkutan umum terbesar di Bumi Tali Undang Tambang Teliti itu, benar-benar limbung dampak pandemi Covid-19.

“Sejak 2 bulan ini tidak beroperasi. Awal Maret. Waktu Corona heboh-hebohnya,” ungkap Renold Saputra, Direktur Utama Family Raya, Rabu (3/06/2020).

Baca Juga : Cara Pelajar SMP di Merangin, Mencari Rejeki Ditengah Pandemi

Kondisi ini makin mengerus perusahaan, lantaran trayek angkutan terbesar menjadi zona merah. Renold bilang, ini terjadi pada Ibukota DKI dan Sumatera Barat.

“Niatnya untuk membantu pemerintah menekan penyebaran virus corona,” terangnya.

Lebih dari 360 pekerja dari 126 unit bus dan engkel Family Raya yang melayani Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) mau tak mau dirumahkan.

Tanpa pendapatan dari angkutan, perusahaan mau tak mau merogoh kocek untuk para pekerja itu.

Itu belum termasuk 48 agen yang tersebar di Sumatera dan Jawa. Berhentinya operasional, otomatis menghentikan pendapatan agen.

Dilema New Normal

Awal Juni ini, Family raya yang berhenti beroperasi, buka lagi trayek AKDP, yakni Bangko-Jambi. Sementara pada 6 Juni mendatang, bakal membuka seluruh rute yakni Padang, Jambi, Jakarta, Jogja, Bukit Tinggi, Lampung, Pati, Solo dan Pesisir.

Renold bilang, pihaknya masih menunggu kebijakan dari pemerintah terkait pandemi itu khususnya angkutan. Family Raya sendiri menyiapkan protokol kesehatan seperti pengenaan masker, hand sanitizer hingga penyiapan Thermo Gun.

Baca Juga : Dampak Corona, Susi Pudjiastuti Potong dan Rumahkan Karyawan

Sementara penerapan New Normal yang diketahui memberikan pembatasan penumpang, membuat dilema baru bagi perusahaan angkutan menghadapi pandemi.

Pembatasan 50 persen memberikan kesulitan baru. Di satu sisi perusahaan keberatan operasional dengan pendapatan. Di sisi lain bila dinaikkan uang tiket, penumpang bakal tidak ada. Hal ini mengingat tergerusnya ekonomi.

“Kalau kemaren, kita pakai zig-zag. Bangkunya kita pisah-pisah. Yang satu, kita beri tanda silang. Kita pisah,” terangnya. (Red)