Usai Sembuh, Ini Cerita Pasien Yang Pernah Positif Corona

Usai Sembuh, Ini Cerita Pasien Yang Pernah Positif Corona

Nasional

BANDUNG – Usai dinyatakan sembuh oleh Dokter di rumah sakit, pasien yang pernah positif Virus Corona ini cerita saat masa perawatannya.

Dikutip dari jpnn.com Yusuf Ridwansyah, seorang pasien Positif Corona itu bahagia, saat mendapat izin pulang dari pihak Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin, Bandung, setelah dinyatakan pulih dari COVID-19.

Baca juga : Cegah COVID-19, 23 Napi di Sungai Penuh Dibebaskan

Dia telah melakukan tes swab dan proses PCR (Polymerase Chain Reaction) sebanyak tiga kali di RS tersebut. Hasil tes pertama positif. Sedangkan, hasil tes kedua dan ketiga, negatif.

Maka itu, ia diizinkan pulang dan kembali melakukan isolasi mandiri di rumah.

“Saya pernah jadi angka ke-11 di Jawa Barat, ke seratus tiga puluh sekian di Indonesia. Semoga tidak jadi sekadar angka, karena itu adalah manusia yang tengah berjuang melawan virus, bagaimanapun keadaannya,” ucap Yusuf seperti dilansir Radar Bandung.

“Saya pun turut bahagia, bisa berkontribusi terhadap jumlah pasien yang dinyatakan sembuh. Itu berita bahagia, karena coronavirus tak hanya tentang kematian, tetapi ada kehidupan di dalamnya,” tambahnya.

Sebelum dinyatakan positif COVID-19, kata Yusuf, ia tak mengalami gejala-gejala terinfeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Virus (SARS-CoV-2), virus penyebab COVID-19.

Namun, karena memiliki interaksi sosial tinggi dan rentan terpapar virus, Yusuf mengikuti proaktif tes yang diselenggarakan Pemprov Jabar, Minggu (14/3).

“Saya pasien positif ke-11 di Jabar. Saya tidak langsung ke rumah sakit, bukan karena apa-apa, cuma kamar isolasinya penuh,” ucapnya.

“Saya dijemput pakai ambulans lengkap (sehari setelah dinyatakan positif). Sopir dan pendamping semua pakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Saya masuk ambulans dan tidak berbicara apa pun,” imbuhnya.

Kata Yusuf

Menurut Yusuf, tenaga kesehatan yang menangani COVID-19 paham betul akan prosedur medis. Dari mulai proses penjemputan sampai perawatan. Selain itu, kata dia, dokter dan perawat rutin menginformasikan beberapa hal penting soal COVID-19.

“Kemudian, dokter dan perawat, ngecek suhu, oksigen, itu dua kali satu hari. Cek darah dan macam-macam tiga hari sekali. Cek juga apakah ada pneumonia,” katanya.

Bagi Yusuf, semua orang mesti bahu-membahu melawan COVID-19. Pasien positif dan tenaga medis berjibaku di rumah sakit.

Sementara yang lain bertanggung jawab pada diri sendiri, keluarga, rekan, dan lingkungan.

Bentuk tanggung jawab itu terwujud dalam physical distancing sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

“Kita punya potensi menularkan ke yang lain. Sebenarnya, penyakit ini bukan penyakitnya, tetapi penyebarannya. Jadi, kita bertanggung jawab dengan semua sikap kita. Bukan tentang kita, tetapi orang sekeliling kita,” katanya. (*)