Menjanda 12 Tahun, Seorang Ibu Nikahi Anak Kandungnya

Menjanda 12 Tahun, Seorang Ibu Nikahi Anak Kandungnya

Berita Viral Nasional

GORONTALO – Menjanda selama 12 tahun, semenjak ditinggal suaminya, seorang ibu di Gorontalo rela nikahi anak kandungnya hingga hamil.

Sebagaimana diketahui, pernikahan merupakan sebuah perjanjian atau ikatan yang dilaksanakan oleh dua orang, dengan maksud meresmikan ikatan perkawinannya.

Baca juga : Ayah di Sarolangun Tega Cabuli Anak Tirinya Hingga Hamil 6 Bulan

Hal tersebut baik secara norma agama, hukum maupun sosial.

Dikutip dari Wikipedia, Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi, pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani.

Upacara pernikahan sendiri, biasanya merupakan acara yang dilangsungkan berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga.

Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan, yqng dinamakan pengantin, akan menjadi suami dan istri nantinya.

Namun, siapa sangka ada seorang ibu yang rela nikahi anak kandungnya sendiri.

Seperti yang dikutip dari WIKEN.ID yang melansir dari Tribunnews, kehidupan pernikahan Betty Mbereko, tergolong aneh bagi kita.

Itu karena dia memilih menikahi anaknya, seusai suaminya meninggal.

Melansir dari Elitereaders belum lama ini, kisah itu berawal setelah anak wanita berusia 40-an itu, mempunyai kehidupan yang mapan.

Atas jasanya tersebut, sang ibu tidak rela jika putranya itu, jatuh ke pelukan wanita selain dirinya.

Hingga akhirnya Betty pun memutuskan menikah dengan anaknya sendiri, atas dasar sama-sama suka.

Mereka bahkan berniat meresmikan hubungannya, melalui pernikahan yang sah.

Tak hanya itu, Wanita berusia 40 tahun ini juga bahkan tengah hamil besar hasil dari hubungan incest (sedarah), dengan putra kandungnya tersebut.

Dikutip dailyguideghana, Betty sudah menjanda selama 12 tahun dan tinggal bersama anaknya, Farai Mbereko (23).

Setelah suaminya meninggal, Betty merasa mempunyai hak atas putranya tersebut, bahkan untuk menikah dengan Farai.

Tak disangka, Farai juga mengiyakan aksi gila ibunya, dan siap untuk menikah dengan Betty.

Banyak orang yang tidak menyetujui hubungan terlarang ini, karena dinilai bertentangan dengan norma dan agama.

Lari Dari Desanya

Saat Kepala Desa menyodorkan pilihan untuk mengurungkan niatnya itu, atau pergi dari desa, keduanya memilih pergi dan menikah di tempat lain.

Lalu, bagaimana tanggapan masyarakat desa mereka, setelah rencana itu terwujud?

‘Di sini, anak bisa nikahi ibunya’

Bagi masyarakat umum, kawin dengan saudara kandung merupakan sebuah pantangan, dan bahkan tidak bisa ditoleransi.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi suku Polahi di pedalaman Gorontalo.

Mereka hingga saat ini, justru hanya kawin dengan sesama saudara mereka.

“Tidak ada pilihan lain. Kalau di kampung banyak orang, di sini hanya kami. Jadi kawin saja dengan saudara,” ujar Mama Tanio, salah satu perempuan Suku Polahi yang ditemui di Hutan Humohulo, Pegunungan Boliyohuto, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, minggu lalu.

Suku Polahi merupakan suku yang masih hidup di pedalaman hutan Gorontalo, dengan beberapa kebiasaan yang primitif.

Mereka tidak mengenal agama dan pendidikan, serta cenderung tidak mau hidup bersosialisasi dengan warga lainnya. (*)