Harga CPO Kembali Naik, Virus Corona Bakal Jadi Ancaman

CPO Kembali Naik, Virus Corona Bakal Jadi Ancaman

Berita Bisnis Nasional

JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO), pada perdagangan hari ini kembali menguat. Isu seputar penurunan produksi masih jadi sentimen penggerak harga, di tengah kekhawatiran akan merebaknya virus corona.

Dikutip dari CNBC Indonesia Selasa (4/2/2020) harga CPO kontrak pengiriman tiga bulan di Bursa Malaysia Derivatif (BMD) menguat 1,3% ke level RM 2.647/ton. Kemarin, harga CPO ditutup di RM 2.613/ton.

Ada beberapa sentimen, yang turut mengerek naik harga CPO pada perdagangan kali ini. Pertama adalah isu penurunan output, yang membuat harga CPO tetap kuat.

Hal ini disampaikan langsung oleh trader yang berbasis di Kuala Lumpur. “Produksi diprediksi akan turun di rentang 4% hingga 17% bahkan sampai 22%” begitu katanya, melansir Reuters.

Penurunan produksi memang sudah diramalkan. Kajian Refinitiv menunjukkan, output minyak sawit untuk kuartal I 2020 akan lebih rendah akibat beberapa hal seperti faktor musiman, cuaca yang kering melanda Indonesia dan Malaysia hingga penggunaan pupuk yang lebih rendah.

Penurunan produksi ini dibarengi dengan penguatan pasar domestik. Pada 2020 Indonesia mulai mengimplementasikan program biodiesel B30, sementara Malaysia mulai dengan program B20.

Program B30 diperkirakan membutuhkan input minyak sawit hingga 8 juta ton, sementara untuk B20 membutuhkan input hingga 2 juta ton. Hal ini membuat harga CPO menjadi terdongkrak.

Sentimen kedua yang juga mendukung harga CPO untuk naik adalah, kenaikan harga minyak nabati di berbagai bursa komoditas lainnya.

Minyak sawit kontrak di bursa komoditas Dalian naik 2%, sementara harga kontrak minyak kedelai ditransaksikan naik 1,3%. Di bursa komoditas Chicago, harga minyak kedelai juga naik 0,8%.

Maklum minyak sawit merupakan minyak nabati yang memiliki berbagai macam produk substitusi, sehingga berebut pangsa pasar. Jadi kala salah satu jenis minyak nabati ditransaksikan naik, maka berpotensi mengerek harga minyak nabati jenis lain.

Walaupun menguat, harga CPO tak seperkasa dulu lagi. Sejak awal Januari, harga CPO terus terkikis. Penyebabnya juga ada dua. Pertama adalah hubungan India dan Malaysia yang memanas.

Kedua negara terlibat dalam tensi yang tinggi setelah Mahathir Mohammad, selaku Perdana Menteri Malaysia mengkritik sikap India terhadap Jammu dan Kashmir pada Oktober tahun lalu. Mahathir menuding India telah menginvasi dan menduduki kedua daerah tersebut.

Mahathir kembali mengkritik India kala negara yang dipimpin oleh Narendra Modi itu mengeluarkan undang-undang kewarganegaraan yang baru. Mahathir menilai kebijakan tersebut sebagai sikap anti-Islam yang ditunjukkan India.

Kritik tersebut membuat India geram. Sebagai negara pembeli minyak nabati terbesar di dunia, India memilih untuk tak membeli minyak sawit dari Malaysia. Hal ini ditunjukkan dengan angka ekspor minyak sawit Malaysia ke India yang terus melorot sejak Oktober.

Awal Januari lalu bahkan India menetapkan kebijakan yang melarang impor minyak sawit olahan. Namun isu yang berkembang India juga meminta para pelaku industrinya untuk tak membeli minyak sawit dari Malaysia.

Namun Teresa Kok selaku menteri Malaysia yang mengurusi masalah ini, yakin bahwa konflik ini bersifat sementara dan akan segera selesai dengan win-win solutions.

Sentimen lain yang juga menggerus harga CPO adalah isu merebaknya virus corona. Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan ini menyebabkan pneumonia pada orang yang terinfeksi. Parahnya virus ini juga menyebabkan kematian.

Baca juga : 2 Pekan Terakhir, Harga Sawit di Jambi Terus Merosot

Hingga kini, virus telah memakan banyak korban dan menyebar ke 26 negara. Jumlah kasus paling banyak dilaporkan di China. Namun jumlah kasus di negara lain juga terus bertambah. Mengacu pada data dashboard John Hopkins CSSE, saat ini sudah ada 20.604 kasus yang dilaporkan. Jumlah korban meninggal mencapai 427 orang.

Yang dikhawatirkan, adalah virus ini dapat menurunkan permintaan minyak nabati China. Pasalnya sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, China juga merupakan pembeli minyak nabati terbesar kedua di dunia setelah India.