Berang, Dewan Sorot Dana Fogging Dinkes Tanjabbar

Berang, Dewan Sorot Dana Fogging Dinkes Tanjabbar

Berita Daerah Parlemen Tanjab Barat

TANJABBAR – Dana Fogging di Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, kini mendapat sorotan dari Dewan Perwakilan Rakyat Dewan (DPRD) Tanjabbar. Pasalnya, dana penyemprotan untuk memberantas sarang nyamuk tersebut, ternyata hanya 90 juta untuk 1 tahun.

Anggaran tersebut dibagi untuk 13 Kecamatan se Tanjung Jabung Barat untuk sebanyak 100 kali Fogging.

Melihat anggaran fogging, dewan pun dibuat terkejut, dewan menilai dana 90 juta tersebut sangat tidak wajar.

“Dana 90 juta ini hanya sampai kemana untuk satu tahun, kadisnya ini kita lihat tidak punya tanggung jawab,” kesal Wakil Ketua DPRD Tanjabbar Sjafril Simamora saat saat sidak ke Dinas Kesehatan, Senin (20/1/20).

Baca juga : Masyarakat Minta Fogging, Ini Penjelasan Dinkes Tanjabbar

Politisi PAN ini menganggap, jika Kadinkes selama ini tidak bisa bekerja, dan lebih banyak memikirkan proyek dari pada memikirkan kepentingan untuk masyarakat.

“Laporan dari sekretaris, kabid maupun kasi anggaran Fogging hanya 90 juta di Dinas Kesehatan, untuk jangka satu tahun, coba kita bayangkan penduduknya 300 ribu penduduknya. Mana cukup dana sekecil itu,” Terang Ucok Mora panggilan akrabnya.

Baca juga : Saat Sidak, Dewan Temukan Kadinkes Tak Di Tempat

Kata Ucok, setahu dia anggaran untuk kesehatan ini sangat lah besar, 10 persen dari dana APBD Tanjabbar.

“Kalau APBD Tanjabbar 1,4 triliun berarti dana untuk kesehatan 140 milyar, kenyataan nya Kok wabah untuk Demam Berdarah hanya 90 juta. Kemana perginya anggaran yang banyak lainnya, kalau dinas kesehatan tidak tahu tak masuk akal.” Tegasnya.

Sebagai wilayah endemik, kata Ucok DBD selalu mewabah setiap tahun di Tanjabbar, selalu ada saja korban yang terjadi.

“Ini bukannya lima tahun sekali, mesti nya dinas kesehatan ada evaluasi nya, dianggarkan lebih besar setiap tahun nya. Jangan selalu pengajuannya bertahan 90 juta,” Bebernya.

Ia selaku dewan menilai kadis dinas kesehatan hanya memandang sebelah mata dan menyepelekan soal dampak DBD.

” Perlu diketahui oleh kadis kesehatan, selama 2019 jumlah angka DBD di Tanjabbar memprihatinkan, sudah mencapai 549 kasus. Meninggal 2 orang, sedangkan Januari 2020 kasus DBD sudah 109 dan meninggal dunia 2 orang.” Tegasnya dengan nada tinggi.

  • Dewan Kecewa

Ucok menyebut dirinya sebagai pimpinan DPRD sangat kecewa dengan Andi Pada.

” Kalau tidak sanggup jadi kadis kesehatan, silahkan mundur saja. Jangan hanya mampu membesarkan anggaran untuk yang lain saja, seharusnya DBD ini mendapat perhatian khusus, ini kasus nasional bukan penyakit yang ringan.” Tegas Ucok lagi.

Dengan anggaran 10 persen tersebut, Dinkes silahkan untuk membangun apa saja, dalam hal ini dewan sangat mendukung. Namun anggaran untuk DBD harus besar.

” Ini dana 90 juta untuk seratus titik dalam satu tahun, untuk Tungkal Ilir saja sudah habis seratus titik, belum lagi Kecamatan lain. Mestinya dibikin 600 titik hingga seribu titik kalau dananya tidak habis dalam satu tahun kan bisa Silpa,” Ungkapnya.

Lihat Gol Spektakuler Merangin : Klik Disini

Ia menilai kecil anggaran Fogging yang diajukan Dinas Kesehatan sengaja dilakukan, hal ini supaya dibesarkan ke proyek fisik di dinas kesehatan.

” Saya menilai dana 90 juta yang dipertahankan dan dianggarkan setiap tahun ini sengaja di diajukan kecil, Ibu Andi Pada selama ini matanya melihat apa saja.” Singgung Ucok.(hry)