‎Rokok Ilegal Tanpa Cukai Beredar Luas Di Tanjabbar

Bisnis Daerah Tanjab Barat

TANJABBAR – Harga rokok ternama kini terus berangsur mengalami kenaikan sejak memasuki tahun 2020 ini.

Di saat harga rokok ternama tersebut mulai naik, rokok ilegal tanpa cukai jenis filter kini mulai beredar luas di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan berbagai macam merek.

Meski belum lama ini pihak terkait telah berhasil menangkap ribuan bungkus rokok ini. Namun rokok ilegal tanpa cukai tetap masih beredar.

‎Berdasarkan informasi yang diperoleh, harga jual dari berbagai merek rokok ilegal yang dipasok dari Batam melalui jalur laut ini berkisar antara Rp 9.000 hingga 10.000 perbungkus.

Pemilik warung kelontong di Jalan Lintas Jambi – Kuala Tungkal, mengaku pernah didatangi orang yang tidak dikenal.‎ Orang tersebut menawarkan beberapa merek rokok tanpa pita cukai, dengan berbagai merek salah satu nya seperti rokok merek luffman.

Namun, karena merasa kuatir, pemilik warung ini menolak tawaran dari orang tak dikenal ini.

” Rokok dari Batam, murah bang. Ada merek Luffman, H Mild, UP Next Revolution dan lainnya, ” Kata pemilik warung yang tak ingin menyebutkan namanya.

Sementara itu, dengan alasan harga yang murah, salah seorang petani mengaku kerap membeli rokok tanpa cukai tersebut.

” Beda harga beda pula rasanya. Biar irit, makanya beli rokok yang murah,” Ujar warga Desa Mandala Jaya Kecamatan Betara.

Menanggapi hal ini, Kepala Diskoperindag Tanjabbar Syafriwan memastikan jika rokok tanpa pita cukai tersebut adalah barang dagang ilegal.

Namun demikian, pihaknya belum pernah mendapatkan bukti rokok ilegal ini di perjual-belikan.

” ini susahnya, kalau kami punya bukti. Itu makanya teman-teman pers itu sering saya tawarkan. Kenapa setiap produk barang ilegal itu selalu kita dokumentasikan? Hasil temuan itu lah yang kita laporkan dan tindaklanjutkan ke Provinsi, supaya nanti provinsi bisa mengambil tindakan.” Ungkap mantan asisten setda Tanjabbar ini.

Ia mengakui, memang sangat susah untuk membuktikan keberadaan rokok ilegal berbagi merek ini.

” Kalau hanya cerita dari mulut ke mulut saja kami susah. Mau nyari barang bukti saja susah, apa lagi kalau sudah masuk kantong konsumen, ‎makanya kita berharap ada kerja sama dalam hal kontrol dan pengawasannya.” Timpalnya.(hry)