Akibat Pembangunan Proyek, Kebun Masyarakat di Tungkal Terendam Banjir

Daerah Tanjab Barat

TANJABBAR – Sejak tiga bulan terakhir ini, masyarakat Kelurahan Sriwijaya Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjung Jabung Barat, mengeluhkan meluapnya air sungai yang diduga akibat adanya pembangunan proyek pembuatan pintu air.

Akibat adanya pembangunan proyek yang berdampak meluapnya air sungai, akhirnya tanaman warga sekitar yang menjadi andalan selama ini banyak rusak karena terendam.

Tak ayal, banyak warga setempat yang mengeluh, karena bukan saja banjir akan tetapi merusak tanaman, sehingga merugikan banyak pihak, terutama masyarakat.

Seperti yang dikatakan Slamet, salah satu masyarakat sekitar bahwa banjir yang terjadi sejak tiga bulan belakangan ini disebabkan karena tidak mengalirnya air di parit utama, dan parit yang berada di dalam kebun mereka.

Menurutnya, hal itu disebabkan karena adanya pembangunan proyek bendungan di komplek Kantor Bupati Tanjung Jabung Barat. Hasilnya akibat banjir tersebut membuat mereka kesulitan mengeluarkan hasil kebun kelapa miliknya.

“Biasanya dalam sehari warga dapat mengeluarkan ribuan kelapa dari dalam kebun, akan tetapi sejak adanya ada pekerjaan proyek yang biasanya kelapa di labuh di parit kecil, kini terpaksa di angkut dengan lanjung. Biasanya di labuh tinggal turunkan ke air, pintu air di buka kelapa akan keluar sendiri,” kata Slamet pada pada Dinmaikajambi.com, Senin (18/11/2019).

Selanjutnya, Slamet juga menyebut Mereka (Pemilik proyek) selama ini tidak pernah permisi atau pun memberi tahu kepada masyarakat, bahwa akan dibangun bendungan untuk pintu air.

Tidak hanya itu, pihak desa pun diduga seakan mengacuhkan keluhan dari masyarakat, yang merasa sangat dirugikan akibat bangunan tersebut.

Dirinya menambah, bahwa hal ini terlihat dari penyampaian keluhan dan pelaporan masyarakat terkait masalah ini kepada pihak desa(Lurah), namun sampai kini belum ada tindaklanjutnya.

“Sekitar setengah bulan lalu, kita menerima laporan dari pak lurah. Kalau bendungannya sudah dipasang paralon untuk mengeluarkan airnya, cuma sampai saat ini tidak ada perubahan.
air sungai sama sekali tidak mengalir dan airnya pun sudah menimbulkan bau tak sedap.” Ungkapnya.

Ia selaku masyarakat yang merasa dirugikan akibat banjir ini mengharapkan, supaya pihak pemilik proyek untuk segera dibuka bendungan nya. Agar masyarakat bisa bekerja dan tidak menghambat masyarakat untuk mencari rezeki.

Sementara itu, hal sedana juga disampaikan M. Ali warga RT 11 Parit 1 darat yang perkebunannya ikut terendam banjir juga meminta pihak terkait agar mendengar keluhan masyarakat ini, karena banyak Tamanan yang mati akibatnya.

” Tanaman kelapa, pisang dan pinang di kebun milik masyarakat sekitar sini sejak tiga bulan ini sudah mulai  mati akibat banjir,” keluh Ali.

Ali juga menjelaskan ada dua RT yang berdampak kebanjiran dari pembangunan proyek pintu air ini, sehingga tidak sedikit tanaman perkebunan masyarakat yang menjadi korban.

“Airnya sudah mulai berbau. Kalau lama- lama seperti ini terus, bakal merugilah kita, karena dari hasil perkebunan ini lah tempat kita menyambung hidup,” Terangnya. (Hry)