Kasus UIN STS Jambi Berbuntut Ke Saber Pungli, Begini Tanggapan DEMA

0
294
Usai aksi demo berbuntut penyegelan kampus, dugaan Pungutan Liar di UIN STS Jambi dilaporkan ke Saber Pungli. Pada Dinamikajambi.com, Presiden Mahasiswa DEMA UIN, Ari Kurniadi menjawab hal itu, Jumat (23/08/2019). Foto : Ari Kurniadi.
Usai aksi demo berbuntut penyegelan kampus, dugaan Pungutan Liar di UIN STS Jambi dilaporkan ke Saber Pungli. Pada Dinamikajambi.com, Presiden Mahasiswa DEMA UIN, Ari Kurniadi menjawab hal itu, Jumat (23/08/2019). Foto : Ari Kurniadi.

JAMBI – Dugaan pungli di UIN Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi berlanjut ke Saber Pungli, usai aksi demo dan berujung penyegelan kampus, Kamis (22/08/2019). Presiden Mahasiswa, Ari Kurniadi mengaku siap dan ksatria menghadapinya.

Hal ini dikatakan Ari saat dikonfirmasi awak media, Jumat (23/08/2019). Bilang Ari, terkait uang Rp 50.000 itu, sebelumnya merupakan hasil kesepakatan bersama. Uang mahasiswa baru itu, dalam masa PBAK atau masa orientasi kampus.

“Kan ada Koperasi Mahasiswa (Kopma), ketika PBAK mengunakan peralatan ospek. Dari panitia sendiri, menyarankan untuk beli mudah, silahkan di Kopma. Kalau beli satu-satu di pasar atau dimana, kemungkinan kan mempersulit mahasiswa. Seperti topi, selempang, pin dan lainnya. Kopma menyediakan itu,” ungkap Ari.

Bilang aktivis kampus asal Muaro Jambi itu, pembelian ini tidak dipaksakan. Hanya mahasiswa yang mau saja. Ia mengklaim, cukup banyak yang tak membelinya.

Disinggung dengan laporan dugaan Pungutan Liar (Pungli) itu ke Saber Pungli, Ari mengaku siap menghadapi.

“Ya kita akan dengan sikap ksatria, sama-sama untuk menyelesaikan. Kita tidak mundur, karena kita merasa hal yang wajar-wajar saja,” katanya.

Berita Terkait : Diduga Ada Pungutan di Kampus UIN, Mahasiswa Laporkan Ke Saber Pungli

Bilangnya, Kopma berjualan, bukan pungli. Beda jika diwajibkan membayar dengan hal-hal yang tidak dijelaskan. Ditegaskan Ari, mereka hanya berjualan.

Tuduhan-tuduhan yang mengarah pungli, bilangnya, tidaklah benar. Kegiatan mahasiswa ini hanya untuk mempermudah mahasiswa baru dan tidak memberatkan, tidak ada unsur paksaan atau intervensi.

“Murni, merupakan hasil kesepakatan dan sama-sama suka,” tegasnya. (Erw)