Kisah Inspirasi Nanda, Pemilik Angkringan Nusantara Yang Tak Bisa Bahasa Jawa

0
1187

MERANGIN – Bisnis kuliner, memang menjanjikan. Tinggal modal dan peluang merebut pangsa pasar dan tentunya pelanggan. Dari umumnya para penggiat usaha ini, Nanda Sawali Putra terbilang paling muda dan tentunya nekat.

Sudah hampir setahun ini, Nanda menjalankan usahanya, Angkringan Nusantara di kawasan Pasar Baru, Kota Bangko atau tepatnya seberang Pasar Rakyat. Bersama 2 anggotanya, Nanda meraup omset Rp 300 – 800 ribu perharinya.

Sekilas, biasa saja. Namun beberapa kisah nekat dan keberanian Nanda, layak jadi inspirasi sekaligus motivasi.

Di usia yang masih 21 tahun, Nanda sudah menjadi pelaku usaha. Lebih tepatnya, ia membangun usaha di saat usia 20 tahun.

Mengelola bisnis kuliner, Nanda bukan bermodal nekat dan titipan modal orang tua. Sebaliknya, ia ikut bekerja dan menyiapkan diri menjadi pelaku usaha.

“Saya sempat kerja di angkringan di Bungo. Ikut dengan orang. Target saya waktu itu, kerja dan 3 tahun berikutnya saya harus punya usaha,” buka Nanda saat dibincangi awak media, Minggu malam (21/7).

Nanda mengatakan, setamat sekolah di SMK Negeri 1 Merangin pada 2015 lalu, ia langsung merantau ke Kabupaten Bungo. Dalam pekerjaannya, ia mengambil kendaraan dengan jangka waktu kredit 3 tahun. Namun sebelum kredit lunas, Nanda malah sudah lebih dulu mendirikan usaha.

“2017 saya pulang. Sempat ikut usaha dan pernah bikin usaha bagi hasil. Sampai 2018, saya mendirikan angkringan ini,” kata Nanda setengah bercerita.

Berdiri pada Oktober 2018, Angkringan Nusantara semakin lama semakin dikenal. Pelanggan yang meningkat, omset yang bertambah.

Namun ada hal yang menarik dari pria kelahiran 1 Januari 1998 ini. Ia berani membuka bisnis kuliner yang dikenal dari Jawa ini, tanpa bisa bahasa Jawa. Lah, kok bisa?

“Ada yang datang, nanya dan ngomong bahasa Jawa. Karena memang gak bisa, ya senyum-senyum aja. Tapi sekarang saya belajar,” katanya dengan menahan tawa.

Menariknya lagi, Nanda memang bukan keturunan Jawa. Ayahnya berasal dari Bengkulu. Sedangkan sang ibu, berasal dari Palembang.

“Makanya itu, nama angkringan ini kita buat Angkringan Nusantara,” katanya.

Selain dibantu 2 pekerja, Nanda rupanya masih dibantu sang Ibu. Tak jarang, ayahnya yang bekerja sebagai karyawan, turut membantu di sini.

Nanda mengaku, Ia langsung turun ke pasar membeli bahan baku. Usai menutup angkringan, Nanda datang ke pasar, saat orang lain terlelap dini hari.

Ia masih mengolah dan memasak makanan sendiri seperti ayam bakar, lele bakar, hati ayam, ampela, ceker, usus dan sebagainya. Selain itu, ada juga mie goreng dan nasgor dalam menu angkringan. Ada pula teh telor, bandrek, gingseng dan teh jahe yang siap menemani anak muda Merangin nongkrong di sini.

“Yang masak Ibu. Tapi kadang, ada juga yang ibu belum tau, ya saya ajari. Ada juga yang masak untuk rumah kan beda untuk angkringan,” katanya.

Nanda mengatakan, selain menyantap makanan di angkringan yang menyediakan tempat lesehan dan kursi, para pelanggan tak jarang memesan angkringan. Katanya, mahasiswa dan pekerja kesehatan, adalah pelanggan yang kerap memesan makanan tersebut. (Erw)