Rupiah Menguat, Harga Karet di Jambi Semakin Dilema

0
428

JAMBI – Memasuki Bulan November 2018 ini, dilema para petani Indonesia khususnya di provinsi Jambi semakin menjadi. Bagaimana tidak, beberapa bulan terakhir harga TBS dan juga karet selalu mengalami penurunan.

Pasalnya, penurunan harga ini tak hanya terjadi pada Tandan Buah Segar (TBS) sawit saja, akan tetapi juga pada harga karet di Jambi.

Seperti yang disampaikan Putri Rainun, selaku Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan Standarisasi dan Pemasaran Hasil Perkebunan Disbun Provinsi Jambi, Jum’at (16/11/18). Bahwa harga karet saat ini berkisaran dari Rp. 6.600 hingga Rp. 700.

“Harga karet saat ini juga sedang turun. Harga karet dilapangan tergantung K3 nya, dijualnya kemana dan melalui apa. Tapi kalau indikasi dari Gapkindo saat ini, Rp. 16.600/kg. Untuk di UPPB rata-rata harga Rp. 8.900/kg. Kalau yang harga 7000 ke bawah, itu biasanya petani menjual karet yang baru disadap dengan k3 45-48 persen.” katanya saat dikonfirmasi Dinamika Jambi.com melalui selular pribadinya.

“Kalau cetak langsung jual berarti, K3 masih berkisar 45 -48 persen. Itu juga tergantung dari umur tanaman, karena berpengaruh dari K3 Latek.” tambahnya lagi.

Selain itu, dirinya juga mengatakan bahwa penyebab turunnya harga karet ini, diakibat oleh banyak paktor. Seperti persaingan dagang dunia, dan menguatnya nilai Rupiah.

“Banyak faktor, dan salah satunya menguatnya rupiah.” ujarnya.

Untuk itu, agar bisa memperoleh harga dengan standar yang lebih baik. Pihaknya menghimbau, supaya petani meningkatkan kualitas karet bersih, dan menjual langsung ke pabrik.

“Kami selalu menghimbau petani, untuk membuat bokar bersih, dan membentuk kelembagaan UPPB, dengan menjual langsung ke pabrik.” imbuhnya. (Nrs)