DINASTI CIKEAS MELAWAN AHOK

Nasional

JAKARTA — Pengamat politik, Boni Hargens menilai, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedang melakukan testing the water (uji coba) untuk mengukur masa depan dinasti Cikeas. Hal itu setelah putranya, Agus Harimurti Yudhoyono, diusung sebagai cagub DKI Jakarta.

“Ibas sudah tidak banyak diharapkan,” ujar Boni saat dihubungi, Jumat (23/9).

Menurut Boni, hanya Agus satu-satunya yang diharapkan mampu membangun kembali dinasti Cikeas terutama sesudah tahun 2024. Dalam hal ini, Boni berpendapat, SBY cukup cerdas membaca politik pada 2024.

Pasalnya, setelah Jokowi selesai menjadi presiden untuk kedua kalinya jika kembali terpilih, diprediksi tidak ada tokoh kuat. Karena itu, menurut Boni, pencalonan Agus sebagai cagub DKI Jakarta saat ini merupakan alternatif jangka panjang. “Jadi sasaran dari manuver ini betul memenangkan Pilgub DKI, tetapi bagaimana memperkenalkan Agus yang militer ke dunia politik,” kata Boni.

Seperti diketahui, partai koalisi poros Cikeas yang terdiri dari PKB, PPP, PAN dan Demokrat mengusung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni di Pilkada DKI Jakarta. Pasangan ini dianggap mengejutkan karena bukan nama yang muncul ke publik selama ini.

sementara itu..

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengaku terkejut saat mendengar Mayor TNI (Inf) Agus Harimurti Yudhoyono dimajukan menjadi bakal calon gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

Padahal, Gatot menilai Agus merupakan salah satu prajurit gemilang di TNI Angkatan Darat.

“Saya berat, tapi itu pilihan pribadi, hak pribadi. Saya harus melepaskan itu,” ujar Gatot di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (23/9/2016).

Agus sebelumnya belum pernah membahas soal pencalonan itu sehingga kabar tersebut mengejutkan Gatot.

Padahal, kata Gatot, Agus adalah salah satu kader yang disiapkan untuk menjadi pemimpin di TNI.

Ia mengatakan, prestasi Agus mulai dari pendidikan di SMA Taruna hingga Akademi Militer belum terkalahkan.

“Saya menyayangkan. Saya sudah siapkan kader, lihat kadernya pilih berpolitik, berat ya,” kata Gatot.

“Tapi itu hak pribadi, yang lainnya pasti nanti ada lagi,” lanjut dia.

Menurut Gatot, tak hanya Agus yang mengundurkan diri untuk maju dalam kontestasi politik. Ia mendapatkan informasi bahwa ada anggota TNI AD di Jawa Tengah dan Jawa Barat melakukan hal serupa.

Namun, ia mengaku belum mendapatkan laporan resmi soal itu.

“Mari kita berpikir positif, namanya dia mengambil karier di tempat lain, bukan mutung. Memilih karier di politik boleh-boleh saja,” kata Gatot.

Saat ini, TNI tengah memproses permohonan pengunduran diri Agus. Sesuai dengan aturan yang berlaku, Agus akan dberhentikan secara hormat.

Agus disandingkan dengan Deputi Gubernur bidang Budaya dan Pariwisata DKI Jakarta Sylviana Murni untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Keduanya diusung empat partai politik, yakni Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, dan Partai Persatuan Pembangunan.

Menurut rencana, malam ini mereka akan mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta.

Sebelumnya..

Pekan terakhir Maret 2012, Agus Harimurti Yudhoyono terbang ke Melbourne, Australia. Putra sulung Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono itu menjadi satu dari tiga perwira TNI pertama yang mengikuti program pertukaran perwira muda antara angkatan bersenjata Indonesia dan Australia, bertajuk Young Future Leader.

Mengutip situs Ikatan Alumni Pertahanan Indonesia-Australia, dua perwira lain yang pergi bersama Agus adalah Frega Ferdinand Wenas Inkiriwang dan Muhammad Iftitah Sulaiman. Mereka semua berpangkat mayor.

Agus, Frega, dan Iftitah dipilih karena masuk bursa calon pemimpin potensial TNI di masa depan. Kepergian mereka ke Australia disponsori Panglima TNI saat itu, Laksamana Agus Suhartono.

Perjalanan Agus menjadi serupa napak tilas karier militer kakeknya, mantan Komandan PRKAD Sarwo Edhie Wibowo. Agus kala itu sempat mengunjungi Sekolah Staf Angkatan Darat Australia, Fort Queenscliff.

Periode 1962-1963, Sarwo tercatat sebagai tentara Indonesia ketiga yang menempuh pendidikan di Fort Queenscliff.

Sejumlah kalangan termasuk keluarga Yudhoyono memang kerap menyebut Agus sebagai calon pemimpin masa depan. Sebagai peraih Adhi Makayasa Akademi Militer tahun 2000, Agus kini memegang tongkat komando di Yonif Mekanis 203/Arya Kemuning.

Sebagai perbandingan, Iftitah yang lulus dari Akademi Militer tahun 1999 dengan status terbaik, kini bertugas sebagai pembantu asisten sekretaris pribadi Presiden Joko Widodo.

Sementara itu, Frega yang lulus dua tahun sebelum Agus kini berpangkat letnan kolonel dan aktif sebagai dosen Prodi Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan.

Lebih dari setahun setelah kunjungan Agus ke Melbourne, The Australian mempublikasikan rencana Kristiani Herawati alias Ani Yudhoyono mempersiapkan putra sulungnya itu sebagai penerus dinasti politik SBY.

Media massa itu merujuk laporan mereka pada data intelijen pemerintah Australia tahun 2007 yang dibocorkan melalui situs Wikileaks.

Namun, Sudi Silalahi yang kala itu menjabat Menteri Sekretaris Negara membantah kabar tentang ibunda Agus itu. Mengutip Detikcom, pada Desember 2013 Sudi berkata, “Itu sama sekali tak benar. Agus dipersiapkan untuk long time.”

Saat itu, Sudi tidak menjelaskan ukuran jangka panjang yang disebutnya. Yang jelas, Jumat (23/9) dini hari tadi, empat partai politik yang bergabung pada Poros Cikeas sepakat mengusung Agus menjadi calon gubenur DKI Jakarta pada pilkada 2017.

“Calon gubernurnya Agus Harimurti Yudhoyono, berpasangan dengan Sylviana Murni” ujar Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan usai bertemu dengan SBY.

Jika Agus mengiyakan dorongan ayah dan elite Poros Cikeas, ia harus mundur dari TNI. Gagal menjadi pemimpin militer seperti yang pernah diraih ayah, paman dan kakeknya, Agus masih berpeluang menjadi pemimpin sipil.

Akan tetapi, berkompetisi merebutkan jabatan sipil bukanlah pengabdian yang pernah dinyatakan SBY tahun 2009 kepada taruna TNI-Polri di Mako Armada Kawasan Timur, Surabaya, Jawa Timur.

“Kalau kalian memasuki akademi TNI dan Polisi lantas cita-citanya ingin menjadi bupati, wali kota, gubernur, pengusaha, dan lain-lain, itu tidak tepat,” kata SBY.

dikutip dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.