Miris, Seorang Guru PPKN Sekolah Ini Suruh 18 Siswanya Onani di Kelas

Nasional Pendidikan

MALANG – Guru PPKN yang juga BK (Bimbingan Konseling) di Kabupaten Malang , Chusnul Huda (28) menyuruh 18 siswanya melatih.

Dia berdalih hal tersebut untuk penelitian kuliah S-3 (Strata-3). Pelaku membujuk korban dengan alasan cairan sperma, rambut pembunuhan, rambut ketiak dan kaki untuk bahan penelitian disertasinya.

Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung mengatakan, meminta melakukan tipu muslihat dan berkata bohong kepada para murid. Berhasil meminjamkan tantangan, dengan membantunya menjadi responden.

“Modus operandi, menentang melakukan tipu muslihat dan kata-kata bohong dengan sedikit kekerasan atau membantah dengan mengatakan, itu sedang mengerjakan dissasi S3 tentang kenakalan remaja,” jelas Yade di Mapolres Malang, Sabtu (7/12/2019).

Pelaku meminta muridnya bertelanjang bulat dan mengukur alat vitalnya, sebelum kemudian meminta beronani. Proses ini dilakukan di dalam kursi tamu BK sekolah, saat jam pulang sekolah.

Korban dibuka terlebih dahulu, sebelum kemudian janjian untuk bertemu usai jam sekolah. Saat kejadian, tidak melibatkan orang yang curiga, karena ruangan tertutup rapat.

“Tersangka membutuhkan sperma, bulu, bulu ketiak, bulu kaki, termasuk juga ukuran panjang korban korban. Dari sana korban-korban mempercayai yang dianggap sebagai guru. Korban dengan akhirnya mau melakukan penelitian cabul tersebut,” tegasnya.

Pelaku mengaku suka jenis lain dan sesama jenis, sudah berkeluarga dan punya satu istri. Pelaku mengucapkan pulih kelainan hasrat seksi sejak pulih 20 tahun.

Pelaku berstatus sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) di sekolah tersebut sejak 2017, namun melamar dan menjadi staf sejak 2015. Sejak ditetapkan sebagai GTT menjadi guru konseling berdasarkan ijazahnya, S-1 Psikologi. Belakangan tersangka kemudian mulai membahas mata pelajaran PPKN.

“Awalnya pelayan staf biasa, kemudian 2017 berjudul SK oleh sekolah sebagai guru honorer di bagian konseling. Kemudian 2018, dia juga menjadi guru PPKN,” jelasnya.

Namun demikian, saat masalah ini diselamatkan, diakui bahwa ijazah S1 yang digunakan melamar tersangka ke sekolah tersebut diubah palsu. Sementara tersangka hanya lulus D3, Sementara berhasil lulus kuliah.

“Ijazah palsu juga sedang melakukan penyidikan, karena ternyata setelah muncul perkara melakukan cabul ini kita lakukan pengecekan tersangka pada 2015 meminta berijazah S1 dengan jurusan bimbingan konseling. Bagaimana pun setelah kita kroscek ke universitas yang ditanyakan, tidak perlu ijazah atas nama yang diminta itu. diduga menggunakan atau membuat surat palsu untuk membuat lamaran ke sekolah tersebut, “urainya.

Pelaku dijerat pasal 82 juncto Pasal 76 huruf E Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Pelaku diancam hukuman 5 hingga 15 tahun. Selain itu juga dijerat pasal 294 KUHP tentang perbuatan cabul dan pasal 263 tentang Pemalsuan Ijazah.

Sumber : Merdeka.com