Limbah PT KDA Positif Kandung B3, Warga Ancam Geruduk Pabrik Sinar Mas Group

Provinsi

MERANGIN – Ternyata diam-diam hasil inspeksi mendadak (sidak) Komisi III DPRD Kabupaten Merangin ke PT Kresna Duta Agrindo (KDA), Jelatang, Pamenang, Rabu (16/10) lalu, perusahaan tersebut positif mengahasilkan limbah B3.

Hal ini terendus berdasarkan keterangan sumber terpercaya, salah satu pejabat di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Merangin kepada dinamikajambi.com, Jumat siang (8/11).

Berita Terkait: Hasil Sidak Dewan Tak Kunjung Keluar, ” Apa Karena Sinarmas Group”

“Hasil sidak sebelumnya memang ada temuan (mengandung limbah B3). Informasinya surat dari labor sudah di meja Pak Kadis, tapi belum ditandatangani,” ungkapnya.

Lalu kenapa belum ditandatangani, padahal sudah berjalan 3 pekan? Sumber ini mengatakan bahwa Kadis selama ini berhalangan dinas di luar kota, selain kegiatan urgen keluarganya.

Berita Terkait: Bocoran Hasil Sidak, PT KDA Positif Hasilkan Limbah B3

“Kemarin ada keluarganya sakit, mungkin Senin beliau (Kadis) sudah dikantor, silahkan konfirmasi lagi sama dia,” pungkasnya.

Sementara masyarakat Desa Jelatang mengancam akan melakukan aksi demo dan mendatangi perusahaan olahan kelapa sawit milik Sinar Mas Group tersebut.

“Bertahun-tahun PT KDA selalu begitu-begitu saja. Tidak pernah memikirkan kami masyarakat yang terdampak abu boiler, jumlah lalat yang meningkat dan bau busuk dari limbah mereka,” ungkap Samsir salah satu warga RT 8 yang merasakan dampak pencemaran lingkungan, Sabtu (9/11).

Apabila keluhan mereka tidak bisa di selesaikan oleh Dewan dan Pemkab Merangin, Samsir menegaskan seluruh masyarakat Jelatang yang terkena dampak pencemaran tersebut akan melakukan aksi demo.

“Kalau keluhan kami tidak direalisasikan, kemungkinan besar akan terjadi demo. Mungkin ini yang diinginkan pihak perusahaan Sinar Mas Group karena mereka merasa besar kepala,” ucapnya dengan lantang.

Hingga saat ini, Zulhifni yang tak lain Kadis LH Merangin belum berhasil dikonfirmasi mengenai telah diterimanya hasil pemeriksaan labor sampel limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tersebut.

Sebelumnya, Ketua Komisi III DPRD Merangin Mulyadi, ketika dikonfirmasi mengatakan pihaknya bekerja secara profesional sebagai mana adanya.

“Soal hasil sidak yang memakan waktu, itu memang kita belum mendapat surat resminya dari DLH. Tapi dari informasi lisan, sudah keluar hasilnya,” ujarnya.

“Tunggu dulu, saya lagi di Jakarta sekarang. Rencananya hasil itu akan kita buka pada hearing yang insyaAllah digelar Selasa (12/11) depan,” kata politisi Partai Golkar ini.

Diketahui, UU 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PLH) telah mengatur bahwa semua perusahaan yang akan membuang limbah wajib membuang mengamankan limbahnya hingga proses akhir.

Berdasarkan peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun mendefinisikan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebagai zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.

Bahan-bahan tersebut selanjutnya dapat diklasifikasikan dalam kelompok-kelompok bahan yang bersifat:

  1. Mudah meledak (explosive);
  2. Pengoksidasi (oxidizing);
  3. Sangat mudah sekali menyala (extremely flammable);
  4. Sangat mudah menyala (highly flammable);
  5. Mudah menyala (flammable);
  6. Amat sangat beracun (extremely toxic);
  7. Sangat beracun (highly toxic);
  8. Beracun (moderately toxic);
  9. Berbahaya (harmful);
  10. Korosif (corrosive);
  11. Bersifat iritasi (irritant);
  12. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment);
  13. Karsinogenik (carcinogenic);
  14. Teratogenik (teratogenic);
  15. Mutagenik (mutagenic)

(red)